Rabu, 25 November 2015

Horror Time - Act 6 : ~Hontou no Fan~ (Penggemar yang Sesungguhnya)

By : Ichinisasha - 2015


Hari ini aku melihat idolaku tampil live di sebuah acara musik di televisi. Sebagai penggemar berat, tentu saja aku datang menyaksikan mereka dan memberi dukungan. Idolaku lebih penting dari pekerjaanku. Lagipula, aku juga sudah sering dipecat karena jarang masuk kantor.

Dari anggota lainnya, hanya member kesukaankulah yang terlihat paling bersinar di mataku. Dialah oshiku, Ishiyama Mion, dia adalah member dari idol group nomor satu di Jepang, EKB48.

Kono mune ga kyun~ kyun~ shite
Hontouni daisuki dayo
Watashi no ichiban daisuki na hito wa
Anata dake yo!

Aku sangat menyukai single terbaru mereka, "Kono Koi wa Kyun Kyun Shite". Aku merasa bahwa lirik itu amat cocok bagiku. Aku menyukai Mion-chan lebih dari fans lainnya, lebih dari sahabat-sahabatnya, bahkan, mungkin rasa sayangku pada Mion-chan lebih tinggi dari orangtua Mion-chan sendiri.

--------------------------------------------

Hari ini akan diadakan event handshake dengan member EKB48. Aku sudah membeli banyak tiket untuk bersalaman dengan Mion-chan. Aku bertekad untuk melamarnya di biliknya nanti. Semoga aku sukses!

Aku segera memberikan seluruh tiketku pada staf yang ada di bilik Mion-chan. Kemudian ia mengatur stopwatchnya dan mulai mempersilakanku untuk masuk ke bilik dan berinteraksi dengan Mion-chan.

Aku masuk ke bilik dan Mion-chan tersenyum ramah sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.

"Hai, kak!" Mion-chan mulai menjabat tanganku.

"Hai, Mion-chan! Ini aku. Apa kau masih ingat?" Kataku dengan suara agak gugup.

"Ya! Tentu saja aku ingat! Kakak yang sering ke theater itu kan?"

Aku mengangguk, senang rasanya bisa ngobrol dengan idolaku. Tapi aku baru teringat tujuan awalku untuk melamar Mion-chan.

"Umm.. Mion-chan..."

"Iyaa kak?"

Aku melepas tanganku dari tangan Mion-chan dan mengambil sebuah kotak kecil berisi cincin yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Aku berlutut dan menyodorkan kotak cincin itu pada Mion-chan.

"M-Mion-chan! Menikahlah denganku!" Kataku mantap. Walaupun jantungku berdegup kencang, tapi aku berhasil mengatakannya dengan jelas.

Raut wajah Mion-chan seketika berubah menjadi tatapan jijik. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah staf yang menjaga biliknya. Matanya seakan-akan berkata "Bisakah kau tarik orang ini ke luar?". Tapi staf tidak menghiraukannya.

"M-mana mungkin aku akan menikahimu!" Balas Mion-chan galak. Auranya berbeda 180 derajat dengan yang tadi, 

"L-lagipula, aku baru 18 tahun! Dan aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria seperti kamu! Sampai mati pun aku tidak akan mau!!" Tambahnya ketus, lalu ia membuang muka.

Aku memegang tangan Mion-chan dan menariknya kuat-kuat. Tapi Mion-chan terus berontak untuk melepaskan dirinya dari aku.

"KAU HARUS MENIKAH DENGANKU... MION-CHAN, AKU AMAT MENYUKAIMU, KAU TAHU?" Aku mendekatinya dan menatap dalam ke matanya. Lalu kusunggingkan sebuah senyuman memelas.

"KYAAAAAAHHH!!!" Mion-chan berteriak, "PERGI KAMU DARI SINIII! SIAPAPUN, KUMOHON USIR DIA!! AKU TAKUUUTTT!!"

--------------------------------------------

Aku tak ingat apa-apa setelah itu. Yang aku tahu, aku ditarik keluar secara paksa dari bilik Mion-chan dan aku kena blacklist dari manajemen EKB48. Aku amat kecewa dengan Mion-chan.

Dasar Ishiyama Mion! Si idola busuk! Ia hanya bertingkah baik karena itu adalah pekerjaan, dibalik itu, ia menganggap rendah penggemarnya.

2 minggu setelah event handshake, Mion-chan mengumumkan kelulusannya dari EKB48. Manajernya mengatakan bahwa Mion-chan akan fokus untuk studinya, tapi aku tak percaya. Aku tahu Mion-chan memilih untuk lulus agar aku tidak bisa menemuinya lagi.

 Dasar idola bodoh... Aku ini mantan penggemarmu, kau tahu? Aku tahu semua tentangmu. Aku tahu dimana kau bersekolah, aku tahu kapan kau makan siang, aku dimana rumahmu, dan aku tahu apa warna pakaian tidurmu.

Jadi, malam ini aku berencana untuk menghampiri Mion-chan di rumahnya. Mion-chan tinggal seorang diri di mansion. Ya, kamar nomor 502 akan menjadi saksi atas perbuatan yang kulakukan terhadapnya nanti. Aku bersiap untuk menjalankan rencanaku.

--------------------------------------------

"Halo, Reika? Iyaa, maafkan aku tidak memberitahumu terlebih dahulu tentang kelulusanku.."

"Kau berhenti jadi idol? Bukankah itu mimpimu?"

"Iya, sejujurnya.. Aku masih ingin menjadi idol"

"Lalu, kenapa kau berhenti?"

"Tapi aku takut dengan orang yang ada di handshake event lalu.. Kau ingat?"

"Orang yang mana ya..?"

"Loohh?! Aku belum cerita padamu ya?"

"Belum... Makanya, kamu cerita dong!"

"Ya sudah, datang ke rumahku ya. Aku ingin menceritakan semuanya padamu. Ya? Hmm... Oke, oke. Baiklah kalau begitu.. Oke, kutunggu ya, bye!"

TOK! TOK!

Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Mion meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah pintu. Mion meraih gagang pintu dan membuka pintunya.

"Reika? Cepat sekali kau da-KYAAAAHHHH!!!!"

--------------------------------------------

TOK! TOK!

"Reika? Cepat sekali kau da-KYAAAAHHHH!!!!"

Aku berdiri di depan pintu kamar Mion-chan sambil memegang pisau daging dan menyunggingkan senyuman kemenangan. Sementara itu, Mion-chan membanting pintu dan segera menjauh dariku. Aku membuka pintu yang tak terkunci itu dan masuk ke kamarnya. Hmm, kamar ini benar-benar dipenuhi oleh aroma Mion-chan. Tak lupa, aku mengunci pintu agar Mion-chan tak bisa melarikan diri dariku.

"Tolong aku.. t-tttolong aku.. k-kumohon.. a-aaku sudah bukan idola lagi sekarang... T-tttolong biarkan aku menjalani kehidupanku sebagai orang biasa.." Kata Mion-chan dengan nada bergetar sambil memeluk lutut di pojok dinding.

Tak kusangkan Mion-chan begitu kaget karena kehadiranku, namun aku harus membuatnya tetap tenang agar aku tidak ketahuan orang lain.

"Mion-chan..." Kataku dengan nada yang kubuat-buat, seolah-olah terdengar seram, "Aku sudah bilang kalau aku akan menikah denganmu kan.."

"Tidaaakkkhh..!! Aku tidak ingin menikah dengan--"

"Ow ow ow, jangan tsundere begitu, aku tahu kau menginginkannya..." Aku mengambil sehelai kain yang telah kusiapkan di tasku dan mulai mengikatkannya ke mulut Mion-chan, agar ia tidak bisa bersuara. Lalu, kuperintahkan Mion-chan untuk duduk di kursi makan, dan kuikat dengan ia dengan tali. 

"Hmmfftt...!! Hmmfftt...!!" Mion-chan seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia tak bisa mengatakannya dengan jelas. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya, matanya terlihat sembab.

Aku melihat wajah Mion-chan dari dekat, "Wajahmu yang sedang menangis... aku suka..." 

"Hmmpphh!! Hmmbbffhh!! Mmffh!!"

Aku mencium kening Mion-chan yang tertutup poni, "Teruslah menangis lebih deras lagi, Mion-chan! Media belum pernah meliputmu saat kau sedang menangis, dan ternyata wajah menangismu sangat manis!"

Mion-chan menangis lagi, kali ini ia sampai sesenggukkan, "Hmmhmmfftt.... Mmfffhh... Mbbhhh!!"

Aku mengambil pisau kecil dari dalam tasku. Kupegang seluruh helai rambut Mion-chan yang tergerai panjang.

"Aku bosan melihatmu dengan model rambut seperti ini... Ah, aku tahu! Aku akan memotongnya! Boleh kan, Mion-chan?" 

Mion-chan hanya bisa menangis. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tak terima dengan perbuatanku.

"JANGAN MEMANDANGKU DENGAN TATAPAN SEPERTI ITU!!!" 

SRET!!

"Uuukkhhh!!"

Aku memotong rambut Mion-chan. Kini, rambutnya tinggal seleher. Ada luka gores di leher Mion-chan akibat perbuatanku tadi.

"Maaf, Mion-chan... Tadi saat aku memotong rambutmu, lehermu ikut tergores juga.." Kataku sembari mengelus-ngelus kepalanya.

"Kalau begitu, sekalian saja kugores yang lainnya ya!" Kataku bersemangat. Mion-chan menunjukkan ekspresi kaget, matanya seolah olah mengatakan "Jangan! Kumohon, hentikan!" Tapi aku tak peduli~

Aku mulai menggores pipi Mion-chan yang tak tertutup oleh kain. Selanjutnya, aku menuliskan kanji "suka" di lengan kanannya. Aku beralih ke daerah dada. Rasanya aku ingin sekali menggores bagian itu juga. Aku bertanya-tanya.. apakah ada silikon di dalamnya?

Tapi kukurungkan niatku itu. Kurasa aku tak perlu melakukan itu. Toh, aku sekarang sedang menjadikan Mion-chan sebagai mainanku yang bisa kulukai sampai mati. 

Aku menggores bagian tubuh Mion-chan yang lain. Betis, kaki, dan paha, semuanya tak luput dari goresannya. Semua bagian tubuh Mion-chan yang kugores, mengeluarkan darah. Sampai-sampai aku lupa, rupanya aku membuat kesalahan. Aku membuat goresan yang cukup dalam yang mengenai pembuluh arteri di pergelangan tangannya. Seketika itu, darah memancar kemana-mana. Ini artinya, aku tidak bisa melukai Mion-chan lagi, karena ia akan segera mati.

Mion-chan terbatuk-batuk. Sepertinya masa bermainku akan segera berakhir. Dia mulai sekarat. Beberapa menit berlalu, dan ia tidak menunjukan respon apapun lagi. Yaah, Mion-chan sudah mati! 

Tapi tunggu dulu...
Bukannya dia pernah bilang "...aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria seperti kamu! Sampai mati pun aku tidak akan mau!"

Mana bukti ucapanmu itu, Mion-chan? Sekarang kau sudah mati dan sebentar lagi, kau akan kujadikan istriku. Akhirnya, kini kita bisa hidup bersama. Aku amat menyukaimu, Mion-chan. Aku adalah penggemar beratmu, makanya aku melakukan hal ini. Kuharap kau menyukainya.

Karena.. hanya Mion-chan lah satu satunya idola yang kusukai...

4 komentar:

  1. Keren ih critanya.. tp mionnya nyebelin._.
    Brarti penggemarnya itu klainan ya? Nekrofilia apa? Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... makasih...
      Ini bikinnya lama banget dan menguras otak(?)
      Hmm, jawabannya tunggu di post berikutnya yaa XD

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terus nasibku dengannya gimana?
      Apa kita harus putus? Atau harus bagaimana?
      Kamu pilih dia atau akuuuuu? #plak

      Hapus