Senin, 23 November 2015

Horror Time - Act 1 : ~Keitai Denwa~ (Ponsel)

By : Ichinisasha - 2015



RRRRRR...
RRRRRR...

Segera kuraih telepon genggamku yang bergetar di meja. Rupanya ada panggilan masuk. "Rima", begitu tulisannya di layar hpku. Ah, dasar pengganggu! Aku baru saja memasuki alam mimpi, dan dia malah mengganggu tidurku! Rima adalah teman sekelasku yang amat sangat kubenci. Dia selalu berpura-pura baik padaku, padahal ia sering mentertawakanku di belakang. Selain itu, ia terkenal di sekolah karena image "cabe"nya. Sial bagiku, aku harus menjadi partner tugasnya.

"Kenapa sih menelpon malam malam begini?" Keluhku kesal.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Aku mendengus kesal, "Ya sudah, tanyakan saja sekarang!"

"Aku ingin bertanya soal tugas biologi besok... Apa saja yang harus kubawa?"

Aku mendecakkan lidah, "Bawa saja tikus putih, ikan, atau katak! Atau hewan kecil apa saja untuk objek percobaan pembedahan besok." Balasku dengan nada bete. 

Bisa-bisanya dia baru menanyakan pembagian tugas kelompok pada saat tengah malam begini! Huh!

"Membunuh hewan-hewan tidak berdosa itu adalah hal yang buruk! Kurasa aku tidak akan membawa hewan apapun.. Aku tidak tega pada mereka. Lagipula, mereka hanya makhluk kecil yang lemah.."

"Terserah kau sajalah!" Kataku sambil membentak, "Kalau kau mendapat nilai F di pelajaran Bu Mary, jangan salahkan aku!"

"Dirimu selalu saja khawatir soal nilai... Hahaha, tenang saja! Besok aku tidak akan mendapatkan nilai F kok!" Katanya dari seberang telepon sambil tertawa.

"Yaaa, yaaaa itu urusanmu! Jangan pernah menelponku malam malam! Kau mengganggu tidurku, tahu! Dasar cabe!" Aku menghujatnya, aku cukup puas bisa mengatakan kalimat seperti itu pada orang yang kubenci.

"Malam? Oohh sekarang sudah malam ya? Ahahaha, maafkan aku, aku tidak sadar kalau sekarang sudah malam.." Katanya sambil tertawa lagi. Aku benci mendengar tawanya. Lagipula, sekarang sudah tengah malam, dan ia bersikap seolah orang lemot nan bodoh, pura-pura menanyakan "sudah malam ya?". Ish, dasar cabe itu!

"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, akan kututup teleponnya. Selamat tidur, cabe..." kataku dengan nada mengejek.

"Ini sudah larut malam, kurasa aku harus segera tidur... Ngomong-ngomong, aku suka panggilan seperti itu.. Ahahaha, ya sudah, kalau begitu... Selamat malam, mimpi indah ya!"

Lalu ia mengakhiri panggilannya.
Dan aku baru menyadari kalau ada sesuatu yang salah. 
Aku pun menyesali perbuatanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar