Senin, 29 Februari 2016

Kyoketsuki no Fiancé : ~Chapter 2~

Kyoketsuki no Fiancé
Chapter 2
~Menjadi Lebih Dekat dengan Insting Vampir~

Aku tak sadar kalau aku terlalu lama tidur. Aku baru terbangun saat pagi keesokan harinya. Sepertinya aku kelelahan.

Aku hanya sendirian di rumah besar itu. Sora sedang pergi berburu dan aku tak menemukan sosok Piéters di rumah. Hmm, ya sudahlah.

"Aku pulang!"

Sora memasuki rumah. Ia mengenakan jubah dan satu set pakaian ala vampir.

"Selamat datang."

Aku menyambutnya di dekat pintu. Ia tersenyum dan mengelus kepalaku. Tunggu dulu.. kenapa ada yang berbeda dengannya?

Ah!

Warna bola matanya! Warnanya berubah jadi merah! Apa ia baru saja marah ya? Aku pernah melihat matanya berubah jadi merah ketika ia marah padaku.

Sora melepas sepatunya dan berniat untuk beristirahat di kamarnya. Tetapi aku mencegatnya di lorong.

"Sora.." Kataku, "Kenapa.. matamu...?"

"Ah, kau menyadarinya?"

Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu Sora sedang berada di mood normal atau mood marah, jadi aku tidak mau banyak bicara.

"Insting vampirku bangkit. Makanya mataku jadi merah begini."

"Insting vampir?"

"Iya. Aku 'kan baru pergi berburu. Jadi ya.. kau tahu sendirilah... Vampir, berburu, mangsa, darah, malam hari..."

Sora seperti menyuruhku untuk menyusun kata-kata darinya. Ah, rupanya semalam ia berburu manusia. Mencari mangsa untuk memenuhi kebutuhan akan darah.

"Maksudnya, kau baru saja-"

"Ya, aku baru saja melakukannya. Kau tidak keberatan dengan itu 'kan?"

Apa yang dia maksud dengan 'baru saja melakukannya'? Ia melakukan apa? Kenapa aku yang jadi cemas begini?

"Kau tidak menghisap darah mereka hingga habis 'kan?"

"Hmm..."

"Mereka sekarang masih hidup, 'kan?!"

"Hemm hemm.."

Apa-apaan jawaban itu? Aku sama sekali tidak puas dengan jawabannya. Itu seperti menyembunyikan sesuatu! Apakah ia baru melukai mereka? Apa ia menghisap darah mereka hingga habis? Apa ia adalah penyebab mereka kehilangan nyawa?

Aku bisa percaya dengan kebaikan Sora. Tapi aku tidak yakin kalau ia tidak melakukan sesuatu hal yang jahat. Karena, kepribadian yang ia miliki.. sangat berbeda. 

"Sora!" Aku memanggilnya dengan nada kesal.

"Apa?" Sora meresponku dengan wajah yang bete.

"Beritahu aku, apa yang kau lakukan ketika kau berburu."

"Ah, itu bukan urusanmu!"

Apa-apaan dengan sikapnya itu! Kenapa berbeda sekali dengan dirinya yang kemarin? Kenapa sekarang aku jadi kesal?

"Sora!" Kupanggil ia sekali lagi, tapi terlambat.

Blam.

Ia sudah masuk ke kamarnya. Dan ia baru saja membanting pintu tepat di depan wajahku.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Tok tok.

"Masuk."

Piéters masuk ke kamarku sambil membawa sebuah nampan berisi sarapan pagi.

"Waktunya sarapan, Nona Miyamoto Anna."

"Terimakasih, Piéters. Letakkan saja di meja itu."

Piéters meletakkan nampannya di meja. Persis seperti yang kuminta. Sejak kejadian tadi, aku belum mengatakan sepatah kata pada Sora. Aku ingin menanyakannya pada Piéters.

"Saya permisi dulu, Nona."

"Eh, tunggu sebentar!"

Piéters menahan niatnya untuk keluar dari kamarku. Ia berjalan mendekatiku.

"Ada sesuatu yang Nona perlukan?"

Aku menggeleng.

"Bukan, kok! Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu, Piéters."

Aku mengubah posisi dudukku di kasur. Aku ingin bertanya serius pada Piéters soal Sora. Piéters sudah lama tinggal bersama Sora, jadi pasti ia tahu sifat dan kepribadiannya.

"Piéters, sebenarnya apa yang biasa dilakukan Sora saat ia berburu?"

Piéters tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia nampak berpikir sejenak.

"Nona khawatir dengan tuan Akihito?"

Aku menggeleng lagi.

"Bukan khawatir, aku hanya ingin tahu kenapa ia tahu-tahu bisa ramah, tapi mendadak bisa jadi dingin."

Piéters mengangguk. Ia mulai paham dengan pertanyaanku barusan.

"Begini, Nona. Tuan Akihito adalah seorang vampir bangsawan. Setiap vampir bangsawan punya semacam dua sisi yang berbeda. Dua sisi itu berlawanan. Yang pertama adalah dirinya yang sebenarnya, dan satunya lagi adalah insting vampir."

"Itu yang tadi Sora bilang!"

Piéters tersenyum. Menampakkan kerutan dan keriput di wajahnya.

"Insting vampir yang dimiliki oleh Tuan Akihito adalah sisi buruk dari semua vampir. Tanda bahwa insting vampirnya sedang bangkit adalah matanya berubah menjadi merah. Bersikap agresif, pemarah, dan sifatnya berubah jadi dingin."

Pantas saja. Dia seperti punya kepribadian yang berbeda. Ternyata, ia hanya sedang membangkitkan insting vampirnya. Aku jadi bisa mengerti, alasan kenapa Sora bertingkah seperti itu adalah karena ia adalah seorang vampir bangsawan. Mau tidak mau ia mempunyai insting vampir.

"Kalau kau bagaimana, Piéters? Kau punya insting vampir juga?"

Piéters kembali tersenyum. Kemudian ia tertawa kecil.

"Saya hanya vampir biasa, Nona. Saya tidak punya insting vampir. Saya hanya begini adanya. Kemampuan saya sangat berbeda dengan Tuan Akihito."

"Sehebat itukah Sora?"

"Vampir bangsawan itu punya kekuatan luar biasa, Nona. Insting vampir memperkuat kekuatan mereka."

Aku mengangguk saja, pura-pura mengerti secara keseluruhan. Aku paham sih dengan penjelasan yang diberikan Piéters, tapi permasalahan vampir yang akan kuhadapi ini sepertinya akan berubah menjadi sulit.

"Kau tidak pergi berburu juga semalam?"

"Saya? Saya sudah tua, Nona. Sudah tidak ada niat untuk berburu... Saya hanya minum teh mawar saja, bukannya darah."

"Tapi aku tidak melihatmu semalam."

"Itu karena Nona ketiduran kan? Saya selalu ada di ruang belakang kok, datanglah apabila Nona butuh bantuan."

Oh iya, aku lupa kalau semalam aku ketiduran. Dasar. Memalukan saja. Bahkan Piéters sampai tahu.

"Ada yang ingin Nona tanyakan lagi? Kalau tidak, saya akan kembali ke ruang belakang. Jika saya terus disini, saya tidak ingin membuat Tuan Akihito salah sangka."

Aku menggeleng. Kurasa aku sudah mendapatkan cukup data tentang Sora dan insting vampirnya. Aku harus lebih berusaha memahaminya. Kapan ia sedang menjadi dirinya yang biasa, dan kapan ia menjadi agresif.

"Terimakasih atas informasinya, Piéters. Lain kali aku akan bertanya padamu lagi."

Piéters kembali menyunggingkan senyumnya, lalu ia memberi hormat dengan membungkukkan badannya. Setelah itu ia beranjak pergi.

Aku melemparkan diriku ke kasur dan menghela nafas. 

"Insting vampir ya?"

Jika aku sudah berubah menjadi vampir suatu hari nanti, apakah aku akan punya insting vampir juga? Kuharap tidak. Soalnya, aku tidak ingin melukai orang lain. Yang ada di pikiranku, insting vampir dapat mengambil alih tubuh dan pikiranmu, jadi kau hanya dikendalikan oleh insting tersebut. Perasaan dan pemikiranmu tidak dapat bekerja pada saat insting vampirmu mengambil alih. Seram juga.

Kualihkan pandanganku ke nampan di atas meja berisi menu sarapan yang dibawa oleh Piéters tadi. Ada pancake dan segelas susu cokelat hangat, sepertinya enak. Kuambil dan kucoba untuk memakannya. Piéters yang membuat ini? Lumayan juga bagi seseorang yang tak pernah makan makanan manusia. Piéters memaksakan diri untuk belajar memasak demi aku? Aku jadi merasa sedikit bersalah. Maafkan aku ya, Piéters. Seperti yang alu duga, kau terlalu baik padaku.

Kriet...

Pintu kamarku dibuka dari luar. Tunggu! Yang membukanya itu... adalah... Sora!

Aku agak kesal karena dia masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi aku tak bisa langsung memarahinya. Aku harus memastikan warna bola matanya dulu. Masih merah atau sudah kembali menjadi emerald. Aku tidak ingin membuat masalah lagi dengannya.

"Hoy!"

Kuberanikan diriku untuk menatap wajahnya. Kumohon, sedikit saja! Biarkan aku melihat warna matanya.

"Kok diam saja?"

Ah, rupanya masih berwarna merah. Kenapa aku kecewa? Mungkin aku merindukan sikap baik dan perhatian Sora. Tapi rasanya, sekarang aku tak bisa berharap banyak darinya.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Aku menjawab sambil menunduk.

"Sarapan..."

"Hei, tinggalkan itu. Ada sesuatu yang lebih penting daripada itu. Datanglah ke kamarku setelah ini."

"K-kamarmu?!"

Entah apa yang akan dilakukan oleh Sora nantinya, aku tidak tahu. Aku hanya punya dua pilihan. Satu : tetap datang ke kamarnya dengan kemungkinan apapun akan terjadi, atau dua : menolaknya dan siap-siap merasakan bagaimana rasanya 'dibunuh' oleh insting vampir milik Sora.

"Jangan lama-lama."

Sora berbalik dan meninggalkanku sendirian. Ia kembali ke kamar—menungguku. Aku segera menghabiskan pancakeku dan meneguk susu cokelatku dengan terburu-buru. Walaupun pada akhirnya aku harus terbatuk-batuk karena tersedak. Kemudian aku bergegas ke kamar Sora yang letaknya lumayan jauh dari kamarku. Kuketuk pintunya dua kali.

"Masuk."

Dengan tegang dan rasa takut, aku memasuki kamar Sora. Aku mendapati Sora yang tengah duduk di kursinya, ada sebuah buku catatan di mejanya, entah apa isinya. Kamar ini... benar-benar seperti setting kamar vampir di film-film!

Dinding berwarna tua yang dilapisi dengan kain merah. Tempat lilin dengan lilin yang menyala. Sebuket bunga mawar merah di vas bunga. Dan di dindingnya terdapat figura-figura foto dari besi yang sengaja dibuat terlihat seperti perak (karena vampir lemah dengan benda yang terbuat dari perak). Benar-benar berbeda dengan kamar yang kutempati tadi. Sekarang aku benar-benar berada di kamar seorang vampir!

"Duduk di kasur itu."

Sora memerintahku untuk duduk di kasur. Oke, kasur. Sebenarnya aku sendiri merasa kurang nyaman dengan ini, tapi yaah.. aku berusaha berpikir positif saja.

Sora mendekatiku. Lagi-lagi dengan jarak yang terlalu dekat. Ia tak mengatakan apapun. Ia menyibak rambut yang ada di sekitar telinga kiriku. Kini aku dapat mendengar nafasnya di telinga kiriku. Selama Sora sedekat itu denganku, jantungku berdebar kencang. Mungkin saking kencangnya, ia bisa mendengarnya. Sekarang ia memegang kedua bahuku. Aku jadi makin berdebar-debar dari sebelumnya. Sora semakin dekat, dan ia merundukkan kepalanya sedikit, menempelkan dagunya di leherku.

Argh!

Apa yang barusan?
Kurasakan ada sesuatu yang sakit menembus kulit leherku. Sakit, perih, rasanya seperti rasa sakit memusat di satu tempat itu.

"S-Sora...?"

Tak ada jawaban. Dalam pikiranku dipenuhi oleh tanda tanya. Dari mana asalnya rasa sakit itu? 

Sora menjauh dariku. Ia menatap lurus ke mataku. Bola mata kami bertemu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, waktu terasa berlalu begitu cepat ketika aku sedang bersamanya.

Kuperhatikan wajahnya lebih detil. Oh, tidak. Aku melihat ada bekas cairan kemerahan yang menetes dari tepi bibirnya. Cairan itu merah terang dan terlihat pekat, seperti... darah?

Eh tunggu dulu!

Kupegang bagian leherku yang terasa sakit tadi. Aku terkejut saat ada darah di telapak tanganku. Ya Tuhan! Barusan Sora... menghisap darahku?!

Entah apa yang kurasakan, semuanya bercampur menjadi satu. Sedih, kesal, marah, takut, dan beberapa perasaan yang tidak dapat kusebutkan lainnya. Nafasku menjadi singkat, dan pandanganku berubah menjadi buram. Kepalaku terasa berputar-putar. Apa ini? Apa aku anemia lagi?

"Anna..."

Sora berjalan mendekatiku, entah kenapa aku malah berusaha menjauh darinya. Aku terus mundur dan mundur. Kali ini Sora benar-benar membuatku takut. Masa bodoh dengan insting vampir! Itu hanya membuatmu bertingkah seperti monster! Membiarkan instingmu mengambil alih tubuhmu, bahkan pikiranmu sampai tidak berfungsi. Itu seram, bukan?!

Bruk.

Ah sial! Aku sudah terpojok. Aku tidak bisa lagi menghindar kemana pun. Di belakangku ada tembok. Kali ini habislah sudah, aku akan menghadapi Sora yang sedang berubah menjadi 'monster'.

Sora kini sudah berada tigapuluh sentimeter di depanku. Habislah aku, habislah! Adakah sesuatu yang dapat kulakukan yang bisa menghentikannya?

"T-tolong jangan hisap darahku lagi, kumohon!"

Ya, benar-benar kalimat yang terdengar bodoh. Kenapa harus kalimat itu yang keluar dari mulutku? Ah, aku bahkan tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.

"Apa maksudmu, Anna?"

Heh? Apa maksud perkataannya tadi? Dia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan padaku beberapa menit yang lalu?

"K-kau.. tadi... uhm.. menghisap darahku..."

Sora membeku untuk beberapa detik. Ia mengelap bibirnya dengan tangannya, dan ia terkejut saat melihat ada cairan merah yang menempel di punggung tangannya.

"Dasar.. aku ini benar-benar bodoh!"

Sora membenturkan dahinya ke tembok. Setelah itu, ia meninju tembok yang sama beberapa kali. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis. Aku baru sadar kalau warna bola matanya sudah menjadi emerald kembali. Syukurlah, dia kembali menjadi Sora yang kukenal.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Sora. Mungkin ada konflik batin dalam dirinya. Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kutepuk bahunya, dan dia hanya diam.

"Sora? Kau tidak apa-apa?"

Sora tidak ingin menunjukkan wajahnya padaku. Ia hanya terdiam di depan dinding. Dapat kudengar isakan tangis darinya.

"Harusnya aku yang tanya begitu."

Aku hanya diam.

Sora berbalik badan, kami berdua saling berhadapan. Sora tidak melihat ke mataku, pandangannya tidak fokus-seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku..." Ujar Sora dengan suara yang lemah, "Aku sebal dengan diriku yang seperti ini.."

Aku hanya diam, mendengarkan perkataan Sora. Ia sedang rapuh, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghiburnya. Aku merasa bersalah.
"Ada monster yang hidup dalam diriku. Monster itu membuatku melukaimu. Maafkan aku! Maafkan aku, Anna! Aku sungguh menyesalinya!"

Sora membungkukkan badannya dan menahannya selama beberapa detik. Aku masih tak bicara sepatah kata pun. Jujur saja, aku bingung apa yang sebaiknya kulakukan.

Sora kembali berdiri.

"Insting vampirku biasanya bangkit apabila tubuhku haus akan darah, aku tahu akan hal itu. Kupikir, dengan pergi berburu, ia tidak akan bangkit. Ternyata aku salah."

"A-aku bahkan membiarkan dia melukaimu! Tiap kali aku terpikir soal itu, aku merasa gagal menjadi tunanganmu. Aku saja tidak bisa mengendalikan diriku, bagaimana nanti kalau aku tidak bisa menjagamu? Aku takut, Anna. Dengan diriku yang seperti ini, aku takut melukaimu lagi."

Aku menggeleng, lalu menghampiri Sora. Kutepuk bahunya perlahan, berharap itu bisa sedikit menenangkannya.

"Aku tidak apa-apa, Sora. Aku baik-baik saja. Jangan salahkan dirimu sendiri."

Sora menepis tanganku dari bahunya.

"Siapa lagi yang harus disalahkan kalau bukan aku?!"

Sora buru-buru mengoreksi kalimatnya.

"Ah, maafkan aku Anna, aku tidak sengaja."

Aku menggeleng pelan. Ternyata sedih juga menerima perlakuan seperti itu. Pantas saja Sora marah saat aku melakukan hal yang sama padanya dulu.

"Pergilah temui Piéters. Minta padanya untuk mengobati lukamu, atau minta dia untuk membuat ramuan penghilang rasa sakit."

"Tapi, Sora... Aku tidak ap-"

"Maaf, Anna. Bisa kau tinggalkan aku sendiri? Aku sedang butuh waktu untuk menyendiri."

Setelah berkata begitu, Sora merebahkan dirinya ke kasur. Menutupi matanya dengan lengannya. Tentu saja aku segera keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Aku tak tahu penyesalan macam apa yang sedang dirasakan oleh Sora. Aku tidak bisa membantunya sama sekali. Aku benar-benar tunangan yang tidak berguna.

Meskipun Sora bilang padaku untuk menemui Piéters dan meminta obat penghilang rasa sakit, entah kenapa aku tidak ingin melakukannya. Biarkan saja aku merasakan rasa yang seperti ini. Rasa yang baru kurasakan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Biar sakit, biar perih, biar apa mau dikata orang, aku akan membiarkan luka ini sembuh dengan sendirinya. Karena... ini seperti tanda dari Sora. Tanda bahwa aku adalah miliknya. Dan ini seperti sesuatu yang berharga bagiku. Walaupun aku harus menahan rasa sakit setelahnya, aku tidak apa-apa.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamarku. Tetapi, saat berjalan di lorong, keseimbanganku terganggu. Aku terhuyung dan jatuh. Ini pasti lanjutan gejala yang tadi. Kepalaku terasa berputar-putar. Aku bahkan tidak bisa untuk berdiri.

"Nona! Anda baik-baik saja?"

Suara itu terdengar samar, tapi aku tahu kalau itu suara Piéters. Pandanganku buram dan tiba-tiba semuanya berubah menjadi hitam.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

"Ah! Sudah sadar!"

Lho.. kamar ini..?

"Nona sudah sadarkan diri, Tuan!"

Tunggu, rasanya aku kenal dengan kamar ini!

"Bagaimana keadaannya, Piéters?"

"Nona baik-baik saja, Tuan."

"Syukurlah."

Tembok berwarna gelap dengan kain warna merah, lilin yang menyala, figura besi yang dibuat seakan figura perak. Tunggu dulu! Ini... ini...

Ini kamar Sora!

Aku sedang terbaring lemah di kasurnya Sora. Kaget karena mengetahui situasi ini, aku pun bangkit dari kasur.

"Eh, jangan banyak bergerak dulu!"

"Benar yang dikatakan Tuan. Nona harus banyak istirahat."

Sora dan Piéters memaksaku untuk kembali berbaring. Bukannya merasa nyaman, tapi aku malah merasa deg-degan. Jadi tadi aku pingsan? Lalu, kenapa mereka membawaku ke kamar Sora bukannya ke kamarku?!

"Piéters, bawakan obat untuk Anna."

"Siap, Tuan."

Piéters keluar dari kamar, meninggalkan aku dan Sora, hanya berdua saja. Kuharap ia segera kembali, entah kenapa aku tidak bisa jika harus berdua saja dengan Sora seperti ini.

"Ada yang ingin kubicarakan." Kata Sora memecah keheningan di antara kami. Aku mengarahkan pandanganku ke wajahnya.

"Kau tadi tidak melakukan apa yang kusuruh?"

"Heh?"

"Kau seharusnya minta obat pada Piéters, 'kan? Kau tidak melakukan itu?"

Aku menggeleng pelan.

"Haah, kau ini... Pantas saja kau ambruk tadi."

Aku menunduk.

"Piéters melihatmu ambruk di lorong tadi. Aku melihat Piéters sedang menolongmu. Lalu, kuminta dia membawamu ke kamarku, agar lebih dekat. Kukira kau kenapa... Jangan membuatku khawatir dong, Anna."

"Maafkan aku telah membuatmu khawatir, Sora. Aku sengaja tidak minta obat pada Piéters tadi."

"Sengaja?"

"Soalnya.. aku ingin menjaga tanda yang diberikan olehmu..."

Aku barusan ngomong apa sih! Sora pasti akan menganggapku orang aneh. Memalukan saja!

"Dasar bodoh! Kau tidak harus menjaga bekas gigitanku sebagai tanda. Kalau kau melakukannya, rasa sakitnya akan menyebar. Memangnya kau tidak sakit? Karena aku tahu pasti akan sakit, makanya aku tidak ingin kau menahannya."

Walau berbeda dari biasanya, kali ini ucapan Sora terdengar agak kasar, tapi aku tahu ada maksud baik dari ucapannya. Ia ingin menjagaku, ia tidak ingin aku kesakitan. Kini, aku percaya pada Sora. Sora yang sebenarnya ya seperti ini, bila insting vampirnya bangkit, ia bukanlah Sora. Ia hanya monster yang akan melukai orang lain.

"Terimakasih telah menolongku. Maaf aku sering pingsan begitu saja. Tadi aku merasakan gejala yang sama seperti kemarin. Mungkin aku anemia lagi..."

"Kau sering anemia ya?"

"Tidak, ini hanya karena-"

Aku menghentikan kalimatku. Tidak mungkin 'kan, kalau aku bilang : 'aku anemia karena kau menghisap darahku terlalu banyak'? Itu hanya akan menyakiti Sora. Perkataan yang menyakiti orang, aku tidak suka itu. 

"Hanya karena apa?"

Aduh, Sora. Jangan membuatku melanjutkan perkataanku itu. Itu hanya akan melukaimu.

"Bukan apa-apa."

"Aku yang melakukannya ya?"

"Apa maksudmu?" 

Aku pura-pura tidak tahu saja. Padahal aku takut dengan topik pembicaraan ini. Tolong jangan bahas soal ini lagi. Kumohon, jangan.

"Ketika insting vampirku bangkit, aku menghisap darahmu terlalu banyak?"

Hii! Tepat seperti yang terlintas di pikiranku! Kenapa Sora bisa tahu?!

"Kau diam saja, berarti perkataanku benar?"

Aku tak bisa lagi mengelak. Aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Sora. Jadi aku akan mengakuinya. Tapi tidak dengan ucapan, aku hanya mengangguk saja. Mengiyakan perkataannya itu lebih baik daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Sora membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah tembok. Kan, apa kubilang... Aku tidak mau ada atmosfer aneh seperti ini di antara aku dan Sora.

"Jujur padaku, Anna. Selain itu, apalagi yang aku lakukan padamu waktu itu? Aku tidak bisa mengingat apapun, jadi aku ingin kau menceritakan seluruhnya."

"T-tidak ada! Sungguh!"

Sora berbalik, ia menghadap ke arahku sekarang. Kedua tangannya menyentuh bahuku. Wajah kami sangat dekat, mungkin hanya berjarak duapuluh senti. Matanya memandang lurus menembus mataku. Tatapannya.. membuatku tidak bisa beralasan ataupun bohong. Kurasa aku telah ditaklukan dengan tatapan itu. Mata emerald yang indah, tatapan yang tajam, Sora benar-benar menjadi objek fokus di mataku.

"Jangan menyembunyikan apapun dariku, Anna. Apapun yang kau katakan, aku akan percaya."

Aku menelan ludah. Aku membiarkan keheningan mewarnai suasana ini. Sebenarnya, aku sedang berpikir bagaimana caranya aku memberitahu apa yang sudah ia lakukan padaku dengan insting vampirnya tadi. Masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu, menyuruhku menghabiskan sarapan dengan cepat hingga aku tersedak, memintaku datang ke kamarnya, menyuruhku untuk duduk di kasur, mendekatiku dengan jarak yang amat dekat—entah kenapa makin lama makin terasa ambigu seolah-olah ia baru saja melakukan sesuatu yang berbahaya padaku.

"Saya bawa obatnya, Tuan."

Seorang pria tua dengan setelan tuxedo masuk ke kamar sambil membawa nampan besi. Ah, syukurlah kau datang di saat yang tepat, Piéters. Aku sangat senang kau datang pada waktu yang tepat.

"Ah, Piéters. Kau sudah kembali."

Entah kenapa semenjak Piéters datang, Sora kembali menjaga jarak dariku. Mungkin ia tidak ingin  perbuatannya diketahui oleh Piéters, atau mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan dari pria itu.

"Biar saya obati luka Nona."

Aku menyibak rambut yang tergerai di dekat telinga kiriku. Piéters mengoleskan obat yang terasa seperti jelly—sejenis salep di leherku. Rasanya aneh, ada sensasi dingin ketika salep itu mengenai kulitku.

"Lalu, penghilang rasa sakitnya..."

Piéters mengambil beberapa ramuan herbal dan menyeduhnya dengan air panas, membuatnya menghasilkan seperti teh. Kemudian, ia memberikan cangkir berisi ramuan itu padaku, ia memintaku untuk meminumnya selagi hangat. Aku menurut saja, walaupun aku harus memaksakan diriku untuk meminumnya sampai habis. Rasanya... benar-benar tidak karuan! Pahit, sedikit amis, eww aromanya pun seperti jus sayur yang amat tidak kusukai.

"Aku ingin melakukan sesuatu di ruang bawah tanah. Anna, kau tak apa apabila aku meninggalkanmu sendiri?" Tanya Sora sembari melangkah ke arah pintu.

Aku mengangguk, "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku."

"Baiklah, jaga dirimu ya. Oh iya, Piéters, tolong siapkan makan siang untuk Anna."

Piéters membungkukkan badannya—tanda hormat. Kemudian Sora pun berlalu. Piéters masih meracik obat herbal yang ditakar dengan jumlah tertentu untukku, untuk berjaga-jaga katanya. Siapa tahu rasa sakitnya kambuh lagi, dan Piéters sedang tidak ada di rumah. Jadi aku hanya tinggal menyeduhnya saja. Tapi aku sendiri pun tidak yakin apakah aku akan minum obat seperti itu lagi. Karena rasanya itu lho, bagaikan mimpi buruk yang terburuk!

“Nona.” Panggil Piéters.

“Iya, Piéters?”

“Tuan baru saja melakukan itu pada Anda?”

Glek.

Akhirnya Piéters menanyakan hal itu juga. Aku ingin menanyakan sesuatu lebih jauh tentang Sora, tapi aku sendiri tidak yakin.

”Kenapa kau menanyakan hal itu?”

Aduh! Apa perkataanku barusan terdengar angkuh? Maaf Piéters, bukan maksudku untuk angkuh, aku hanya refleks.

“Maaf karena saya ikut campur, Nona. Tak seharusnya aku menanyakan hal seperti itu. Maaf atas kelancangan saya, Nona.”

“Eeh, bukan begitu maksudku! Aku hanya kaget, kenapa kau menanyakan hal seperti itu.”

Piéters membetulkan kacamatanya yang melorot. Kemudian ia menyunggingkan senyuman hangat.

“Insting vampirnya sedang bangkit ya? Soalnya saya tahu Tuan tidak akan melukai Nona.”

“Kau juga berpikir begitu, Piéters?”

“Akhir-akhir ini Tuan kelihatannya banyak pikiran, ia juga sibuk mengerjakan sesuatu di ruang bawah tanah. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Tuan. Mungkin karena itulah insting vampirnya lebih kuat dari biasanya, kebutuhannya akan darah juga meningkat.”

“Tapi, apa wajar jika Sora melakukan hal semacam ini padaku?”

“Menurut saya, itu merupakan hal yang wajar, Nona. Bahkan vampir bangsawan lain yang bertunangan dengan manusia tidak mengubah pasangannya menjadi vampir. Pasangannya akan tetap dalam wujud manusia, agar ia bisa meminta darahnya kapan saja.”

Aku mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari Piéters.

“Tapi, Tuan berbeda, Nona. Tuan justru ingin mengubah Nona menjadi vampir, agar sama seperti Tuan. Dengan begitu, Nona tidak akan dimanfaatkan oleh vampir lain yang mengincar darah Nona. Tuan Akihito memang baik.”

“Jadi, akan lebih baik bagiku untuk jadi vampir daripada tetap menjadi manusia?”

“Bagi saya, iya, Nona. Tuan berubah menjadi semakin baik setiap harinya karena telah bertemu dengan Nona, lho. Selama puluhan tahun saya mendampingi Tuan Akihito, saya baru tahu kalau Tuan bisa selembut dan sebaik ini dengan perempuan.”

Tunggu! Perkataan Piéters barusan... Itu berarti, pernah ada perempuan lain yang muncul di kehidupan Sora? Kenapa aku jadi kepikiran begini. Aku penasaran, tapi... Apa baik bagiku jika aku mengetahuinya?

“Umm... memangnya Sora pernah dekat dengan perempuan lain?”

Piéters mengangguk.

“Tuan Sora pernah dekat dengan seorang gadis bernama Milliané Jellashiva, seorang
vampir bangsawan juga, sama seperti Tuan. Mereka sempat dirumorkan akan segera
bertunangan, tapi sebelum hari itu tiba, terjadi konflik di antara keluarga mereka. Dan
akhirnya pertunangan mereka dibatalkan secara sepihak oleh keluarga Milliané. Sejak
saat itu, Tuan jadi menjaga jarak dengan orang lain. Mungkin Tuan takut terluka lagi
semenjak kejadian itu...”

Aku tak tahu bahwa Sora pernah mengalami hal seperti itu. Sebenarnya, aku sedikit kecewa 
mendengar cerita Piéters, karena hal itu berarti bahwa aku bukan yang pertama bagi Sora, 
tapi gadis itu—Milliané Jellashiva itu yang seharusnya menjadi orang pertama bagi Sora.

“Tapi saya senang, karena sekarang Tuan mulai bisa membuka diri pada orang lain lagi. Itu 
semua karena keberadaan Nona disini. Terimakasih, Nona Miyamoto Anna... Semoga Tuan 
berbahagia bersama Nona sekarang dan ke depannya.”

Piéters sampai bicara begitu, ia mengharapkan agar Sora bisa berbahagia bersamaku, dan aku 
bisa berbahagia bersama Sora. Walaupun pernah ada perempuan lain dari masa lalumu, aku 
tidak peduli akan hal itu. Aku mungkin tidak bisa menjadi yang pertama bagimu seperti 
keberadaan Millané di memorimu. Tapi aku berjanji bahwa aku bisa membahagiakanmu 
lebih dari Milliané.

Sora, kuharap kau mengetahui perasaanku ini. Aku janji, aku akan membuatmu senantiasa 
berbahagia bersamaku. Aku menyukaimu, Sora. 
.
.
.
To Be Continued