Sabtu, 21 Januari 2017

B-PROJECT 「無敵*デンジャラス」Muteki*DANGEROUS Lyrics



Zutto nandomo bokura wa meguri au tabi
Hitotsu zutsu wakatte yuku
Ushinau mono wa nai sa kizuradake GENERATION

Kusuburi tsuzuketeru amai yume ni jiri jiri yakarete
Todokanai sakebi ni mune no oku ga hiri hiri itai yo
Shinjirareru mono
Sonna ni nai kedo
Kizamu kodou ga muteki ni naru
Owari no hajimari setsunaku
Inochi wo moyashi majiwaru unmei
Kaze wo matoi arashi wo saiteku
Kokoro ni umareta na mo naki
Atsuki omoi yo tabidachi no toki da
Arakezuri no mama arawa ni kiba wo muke

Kitto nandomo bokura wa meguri au tabi
Hitotsu zutsu wakatte yuku
Ushinau mono wa nai sa kizudarake GENERATION

Motto chikaku e tooku e fukai toko made
Mita koto no nai sekai wo
Sen no ken wo furi kazashi
Michi naki kono michi susumu shika asu wa nai


Hotsureteku namida no hito shizuku ga hara hara to ochite
Tsuki akari nijinda toiki dake ga yura yura yureteru
Katachi no aru mono
Kowareta toshite mo
Katenu shodo de mugen ni naru

Itami to kanashimi tadai ni
Mazaru shikusai mabushii PURISUMU
Hikari hanachi yozora wo koeteku
Imada ni karada ni shinjiru
Tsuyoi negai ga dokoka ni aru nara
Tsubasa wo hirogete niwaka ni mai agare


Kitto nandomo bokura wa machigai nagara
Sukoshi zutsu kawatte yuku
Muimi na mono wa nai sa tadoritsuku DESTINATION

Sotto hageshiku yasashiku fureta hitomi ni
Utsushi dashiteku sekai de
Aseta ni me wo tachi kitte
Kainaki kono DOA hiraku shika asu wa nai

Zutto nani ka wo dare mo ga sagashi motometa
Sono subete ga koko ni aru
Tsukami totta shunkan ni ugokidasu REVOLUTION

Motto chikaku e tooku e fukai toko made
Mita koto no nai sekai wo
Sen no ken wo furikazashi
Michi naki kono michi susumu shika asu wa nai

Jumat, 15 Juli 2016

B-Project 「鼓動*アンビシャス」Kodou*AMBITIOUS (OP THEME FULL VERSION)

Halo! Lama nggak update blog, sekarang aku mau update soal B-Project. Semua yang lihat post ini pasti udah tahu B-Pro kan? Mereka adalah grup gabungan dari sub-unit Kitakore, THRIVE, dan MooNs. Kali ini, aku mau ngasih lirik opening theme anime B-Pro untuk kalian. Tapi ini bukan lirik resminya, ini berdasarkan pendengaranku. Jadi, mohon maaf apabila ada kesalahan.




B-Project 「鼓動*アンビシャス」Kodou*AMBITIOUS
By : B-Project (Kitakore, THRIVE, MooNs)
Full version

Ikusen mono guuzen ga
Tokida ochita tsuketeku
Meguriaeba shiikan ni
Ugokidashita DESTINY

Say, I never giving up
Mado waguru
We must going on
Shinjite
Ichisu no hitomi ni mabushii kagayaki no utsushite
Tashika na omoide egaiteyuku kakiri no nai
Mirai no ima yotte de tsukamou

Soshite subete wo kaete yuku
BRAND NEW na sekai ni
Tobikometa sugu soba de
Kimi wo matteiru kara
Soshite subete wo kaerareru
Bokura dake no STORY
Dare mo mita kotonai
Ashita e no kodou*AMBITIOUS

Dokidoki kanjite
Tomaranai kono mune no JINJIN
Tokimeki afuretara
Tsugi no STAGE e

Kanashii gurai bokutachi wa
Sabishii ga rina ikimono
Hanareru hodo kikareteku
Kuudaketachisha mitai ni

Semi na no ukki da
Doura yatsuru
We just moving on
Motomete
Kakageta kibou to nandomotachi agaru tsuyosa de
Hirogeta tsubasa ga michibiteku
Harika toori
Hitori no ima mezashita fuku no sa

Dakara subete wo kaete yuku
Bito kisabu you ni
Uchi nara sukyomei ga
Kimi ni todoriteru kara
Dakara subete wo kaerareru
Boukensha no hamori
Iro aseru koto nai
Kiseki e no kodou*AMBITIOUS

Itsuka subete wo kaete yaru
Try and build to through my self
Yuzurenai mono ga aru
Donna ni kizutsu ni temo

Soshite subete wo kaete yuku
BRAND NEW na sekai ni
Tobikometa sugu soba de
Kimi wo matteiru kara
Soshite subete wo kaerareru
Bokura dake no STORY
Dare mo mita kotonai
Ashita e no kodou*AMBITIOUS

Dokidoki kanjite
Tomaranai kono mune no JINJIN
Tokimeki afuretara
Tsugi no STAGE e


Jumat, 04 Maret 2016

Kyoketsuki no Fiancé : ~Chapter 3~

Kyoketsuki no Fiancé
Chapter 3 :
~Bulan Purnama, Rival, dan Kepastian~

Aku akan menjadi pasangan yang sempurna bagi Sora. Itulah yang telah kuputuskan semenjak Piéters menceritakan kepadaku soal Milliané, mantan calon tunangan Sora. Aku akan berusaha, aku akan mengerahkan seluruh upaya untuk bisa melindungi senyuman Sora. Ya, senyuman berharga yang menghiasi hariku, senyuman Sora yang membawa sejuta arti bagiku.

"Nona, saya mohon jangan mengungkit soal Milliané di depan Tuan Akihito, karena itu dapat mengorek luka masa lalu beliau. Saya tidak ingin melihat Tuan Akihito murung lagi."

Piéters membereskan barang-barangnya. Ia meletakkan sisa obat-obatan herbal di nampannya.

"Aku janji aku tak akan membicarakan soal Milliané di depan Sora. Aku sangat berterimakasih atas informasi yang kau berikan selama ini, Piéters."

"Terimakasih kembali, Nona. Itu merupakan kehormatan bagi saya."

Piéters memberikan hormat, kemudian ia permisi untuk kembali ke ruang belakang. Setelah itu ia akan menyiapkan makan siang untukku, katanya. Entah kenapa tiba-tiba terlintas soal Sora di pikiranku. Padahal ia baru meninggalkanku sebentar, tapi kenapa aku rindu padanya?

Aku putuskan untuk tidak terlalu banyak berpikir soal Sora, atau soal apapun. Kurasa aku lebih baik mengistirahatkan tubuhku. Lagipula, kepalaku masih terasa berputar-putar. Dan, aku pun terlelap.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Seorang pria berambut putih mulai menata meja makan dan mempersiapkan menu makan siang. Anehnya, di meja oval dengan ukuran sebesar tiga depa, hanya tersedia porsi makanan untuk satu orang saja. Apa mau dikata, baik dia ataupun tuannya memang tidak bisa makan makanan seperti itu.

Laki-laki lain yang bersurai hitam duduk di kursi. Ia memang tidak bisa makan, tapi ia putuskan untuk menemani tuan putrinya makan siang hari ini. Ia pikir, hal semacam ini terasa romantis bila dilakukan.

Sang pelayan memulai pembicaraan. Memecah keheningan di antara mereka.

"Tuan, diperkirakan malam ini akan ada bulan purnama."

Laki-laki itu–Sora mendesah sebal.

"Kenapa harus di saat-saat seperti ini sih?"

"Haruskah saya beritahu soal ini pada Nona?"

"Tidak Piéters, biar aku yang memberitahunya."

"Maaf, aku terlambat."

Sang putri, Anna memasuki ruang makan. Ia nampak lebih segar dari sebelumnya. Ia juga sudah berganti baju dan menata rambutnya dengan gaya yang lebih feminim, kepalanya dihiasi oleh pita dan beberapa jepit bunga kecil. Pakaiannya, gaun model one piece berwarna putih polos dengan renda di bagian roknya turut memancarkan aura kepolosannya. 

"Kau sampai berdandan hanya untuk makan siang?" Tanya Sora mengawali topik pembicaraan.

"Iya." Gadis itu terkekeh, "Mungkin aku agak berlebihan ya? Tapi aku pikir ini sesuatu yang istimewa. Kapan lagi aku bisa makan siang bersama Sora seperti ini."

"Tenang saja, aku akan menemanimu di sini sampai kau selesai makan."

Pupil milik gadis itu membesar. Menyadari kejanggalan dari kalimat Sora barusan.

"Kau tidak ikut makan bersamaku, Sora?"

"Tentu saja tidak. Kau tahu 'kan, kalau aku tidak bisa makan?"

Gadis itu membuka mulutnya lebar, seperti membentuk huruf o. Kemudian ia mengangguk-ngangguk bersemangat.

"Maaf, aku lupa soal itu! Tapi, terimakasih karena kau mau menemaniku di sini, Sora. Aku senang, hehe."

Vampir bangsawan muda itu tersenyum tanpa memperlihatkan giginya. Ia senang bisa menghabiskan waktu dengan orang yang dicintainya. Ia senang saat ia bisa menjadi dirinya seutuhnya, tanpa dikendalikan oleh insting vampirnya.

"Kalau begitu, selamat makan!"

Sora tersenyum puas melihat Anna melahap makan siangnya sampai habis. Mungkin ia kelaparan, atau masakan Piéters cocok dengan lidahnya. Ya, siapa coba yang tidak ingin makan siang dengan menu beef steak? Bahkan Sora pun ingin mencoba masakan itu kalau ia bisa.

"Terimakasih atas makanannya! Piéters, masakanmu memang luar biasa enak!" Anna memberikan pujian sambil mengacungkan ibu jarinya.

Piéters tersipu malu, ia hanya mengangguk sambil menunduk. Ternyata ia punya bakat terpendam, bakat masak yang tidak pernah ia gunakan karena keadaan yang tidak memungkinkan. Kemudian ia segera membereskan peralatan makan yang habis dipakai oleh Nonanya, ia pun bergegas ke dapur.

"Anna, ada yang ingin kubicarakan."

Sora menatap lurus–tajam ke bola mata Anna. Tatapan itu membuat seluruh semesta menjadi iri. Sora berhasil mencuri semua perhatian ke arahnya. Bahkan, siapapun bisa ditaklukan oleh tatapan itu. Tatapan yang membuat orang lain membeku, tak bergerak, tak berpaling dari matanya.

Begitu pula dengan Anna.

Ia terfokus dengan tatapan yang diberikan Sora. Benar-benar tak melakukan hal lain. Manik emerald itu... sangat mempesona. Bahkan semua orang sirik karena tak bisa memiliki keindahannya.

"Malam ini ada bulan purnama. Itu adalah saat dimana insting para vampir meningkat dari biasanya. Jadi, untuk menghindari kemungkinan yang tak diinginkan, aku minta kau untuk menjaga jarak denganku. Untuk malam ini hingga besok pagi saja. Aku yakin tindakan pencegahan ini akan berjalan secara efektif, dengan begini, aku tidak akan bisa melakukan hal-hal yang dapat menyakitimu lagi."

"Maksudmu... setelah ini kita tak bisa bertemu?"

"Setelah ini masih bisa. Batasnya mulai dari jam setengah enam sore. Pada saat itu, kau harus menjaga jarak denganku. Jangan semudah itu menuruti kata-kataku nantinya. Lalu, aku minta kau memastikan warna mataku terlebih dahulu. Ingat, insting vampir bisa merubahku menjadi 'bukan aku'. "

Gadis itu menununjukkan raut wajah ngeri. Ia takut dengan perubahan kepribadian Sora saat insting vampirnya bangkit. Dan lagi... menjaga jarak dengan Sora hingga besok pagi itu terasa sulit. Sora selalu meninggalkan efek rindu di hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus patuh dengan peraturan yang dibuat oleh Sora. Untuk melindungi dirinya dari hal buruk yang mungkin terjadi. Pada akhirnya, Anna mengangguk, menyetujui peraturan itu.

"Terimakasih karena kau mau mengerti aku, Anna."

Gadis itu menggeleng, "Tidak, ini bukan apa-apa. Aku tahu kau hanya ingin menjagaku, makanya kau membuat peraturan seperti itu."

Sora bangkit dari kursinya, ia berjalan ke arah Anna. Dan mereka berdiri berhadapan. Lagi-lagi Anna terhipnotis dengan keindahan bola mata milik Sora. Emerald yang cemerlang... warna hijau kebiruan yang tak pernah kau lihat sebelumnya, bahkan mungkin warna seperti itu hanya ada satu di dunia ini. Ya–di mata Sora saja.

"Kau mau menghabiskan waktu denganku sampai jam setengah enam nanti, Anna?"

Pertanyaan itu membuat gadis bermata biru itu kaget. Debarannya semakin keras, rasanya tak ada hentinya, selalu saja seperti ini saat bersama Sora. 

"Kalau boleh, aku ingin mendengar cerita tentangmu dan tentang kehidupan manusia. Hmm, bagaimana?"

Debaran Anna kini tak sekeras yang tadi. Ia senang mengetahui Sora ingin lebih mengenalnya lebih jauh lagi. Diberi perlakuan seperti ini rasanya keberadaanmu seperti diperlukan oleh orang yang penting bagimu.

"Aku senang mengetahui hal itu. Tentu saja aku akan menceritakannya padamu, Sora."

"Aku tak sabar menunggunya."

"Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan keliling taman! Aku akan menceritakan tentang kehidupanku."

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Aku benar-benar bahagia! Mungkin saat ini aku sedang menjadi gadis yang paling berbahagia di seluruh dunia! Menghabiskan waktu bersama Sora memang menyenangkan. Karena ia bilang ingin lebih tahu tentangku, jadi aku ceritakan padanya soal sekolahku, teman-temanku, kebiasaanku, kesukaanku, dan keluargaku. Sora tidak mempercayai sebagian besar ceritaku, dia bilang kalau itu tidak realistis, tapi aku bilang padanya bahwa itu benar terjadi. Kemudian kami tertawa bersama. Langit jingga dengan gumpalan awan berwarna kekuningan, hari ini, senja ini, aku telah berjanji pada diriku untuk tak akan melupakan hal ini seumur hidupku.

"Sora, aku ingin kau tahu soal ini."

Aku memulai pembicaraan. Sebenarnya sulit juga bagiku untuk mengatakannya, karena aku malu untuk bicara langsung. Tapi, kuberanikan diriku untuk melakukannya. Aku kumpulkan semua keberanianku, dan yosh! Jadilah berani, Anna!

"Apa itu?"

"Aku takkan melupakan apa yang terjadi hari ini. Bukan hanya hari ini, tapi juga hari-hari lain saat aku bersamamu. Itu akan menjadi memoriku yang berharga. Disini, di dalam ingatanku, dalam pikiranku, dalam hatiku."

"Seperti biasa, kata-katamu lebay ya, Anna."

Aku menggebuknya. Huuh, sembarangan! Aku bilang begitu biar romantis, tapi kok malah dibilang lebay? Haah, Sora memang belum terlalu mengerti aku. Aku kecewa juga...

"Biar romantis gitu, Sor!"

"Heeeh, kau panggil aku dengan sebutan apa tadi?"

"Tidak ada. Aku hanya memotong namamu. Hehehe, jangan marah..."

Laki-laki itu tidak membalas perkataan Anna. Ia hanya meresponnya dengan menunjukkan senyuman lembut. Kemudian mereka berdua tertawa, bagaikan sepasang kekasih yang paling bahagia. Terutama Sora, dirinya yang tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini datang padanya. Spontan, ia memeluk Anna erat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskan orang yang berharga baginya. Anna diam dalam pelukan Sora, ia terlalu gugup untuk membalas pelukannya. Menerima hal seperti ini saja sudah membuatnya merah padam. Karena Anna tak pernah merasakan kehangatan seperti ini semenjak kepergian kedua orangtuanya.

"Jangan pernah tinggalkan aku, Anna."

Sora mengelus kepala Anna. Dengan kelembutan seperti itu, gadis manapun pasti akan tersentuh. Anna membalasnya dengan anggukan, masih terlihat jelas semburat rona kemerahan di pipinya. Sepasang kekasih itu merasa bahwa mereka berdua memiliki dunia ini, tak ada orang lain di dalamnya.

Namun pemikiran itu salah.

Tiba-tiba muncul seorang gadis dengan tinggi kira-kira 170 sentimeter, rambut sebahu pirang bergelombang, dengan dandanan yang dewasa, ia mengenakan sepatu hak tinggi dan pakaian yang memperlihatkan bahunya, kini sedang berjalan mendekati mereka.

"Tien Sora, ça fait longtemps."
(Lama tak bertemu ya, Sora. )

Gadis itu kini ada di dekat mereka. Sora pun melepaskan pelukannya. Untuk pertama kalinya Anna melihat Sora begitu gelisah. Dan ia sangat menyadari artinya.

Ia tahu bahwa gadis itu adalah seseorang yang membuat Sora merasa tidak nyaman. Seseorang yang membuatnya mengingat kembali masa lalu yang memilukan.

Gadis itu, Milliané Jellashiva.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Apa-apaan dengan yang kulihat sekarang ini? Perempuan itu menghampiri Sora dan kemudian ia bicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Perempuan ini..? Diakah si Milliané Jellashiva yang dikatakan Piéters? Aku merasa perbandingan antara aku dengannya terasa begitu jauh.

Milliané Jellashiva itu begitu dewasa dan punya bentuk badan yang bagus. Setiap perempuan selalu mengidamkan bentuk badan seperti itu, tak terkecuali aku. Dia memang pantas bila disandingkan dengan Sora. Imejnya adalah perempuan cantik dan laki-laki tampan. Aku merasa tak percaya diri mengetahui bahwa Milliané–cinta pertama Sora, adalah seseorang yang begitu sempurna.

"Sora, kenapa kau diam saja?" Tanya gadis itu, kini ia bicara dalam bahasa Jepang yang bisa kumengerti.

"Berisik! Casse toi immédiatement!"
(Cepat pulang sana!)

Aku tak tahu kalau Sora bisa bicara bahasa asing selancar itu. Ternyata ia memang luar biasa. Aku semakin kagum padanya.

Gadis itu tersenyum, bukan–ia bukan memperlihatkan senyuman, itu lebih terlihat seperti ejekan. Aku bahkan tidak suka melihat senyuman yang terkesan meremehkan itu.

"Je suis contente de re revoir."
(Aku senang bertemu denganmu)

Sora mendecakkan lidah.

"Tu as une allure ironique tel que tu es, Milliané."
(Seperti biasa, wajahmu selalu penuh ejekan, Milliané. )

Gadis itu hanya tertawa mendengar perkataan Sora.

Aku sebal pada diriku sendiri karena aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Sora mengalihkan pandangannya ke arahku, dan ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Anna, sekarang hampir jam setengah enam. Kau ingat perjanjian kita? Pergilah ke kamar sekarang. Ada yang harus kuurus dengan dia."

Aku merasa ucapan itu menyakiti hatiku. Di satu sisi, mungkin ia ingin melindungiku dari insting vampirnya yang bisa bangkit kapan saja. Tapi di lain sisi, aku berpikir bahwa Sora ingin menghabiskan waktu dengan Milliané. Gadis dari masa lalunya itu benar-benar membuat perasaanku tidak karuan. Semenjak ada dia, aku merasa kesal, tidak tenang, dan berpikiran hal-hal negatif tentang Sora. Apa ini? Apa aku cemburu?

"Biarkan aku lebih lama bersamamu."

Kuberanikan diriku untuk mengatakan kalimat itu. Aku hanya ingin Sora tahu bahwa aku tidak suka jika Sora berduaan dengan perempuan itu.

"Tadi kau sudah janji, 'kan? Sekarang pergilah."

Milliané tersenyum ke arahku. Senyuman itu seakan-akan mengatakan bahwa Sora lebih memilih untuk bersamanya dibanding aku. Aku benar-benar membenci senyuman itu. Senyuman yang terkesan meremehkan milik Milliané, ingin sekali kutinju wajahnya jika ia menunjukkan ekspresi itu lagi.

"Kau dengar apa yang dikatakan Sora, 'kan? Sekarang cepat pergi!."

Milliané bilang begitu. Ia bilang begitu padaku. Seenaknya saja bilang begitu untuk mengusirku, seakan-akan ia menganggapku sebagai pengganggu. Ish, rasanya aku semakin benci dengannya. Dia sok dekat dengan Sora! Eh tunggu, kenapa aku jadi cemburuan begini?

Sora memberikan isyarat padaku untuk pergi, kemudian ia mencoba mengatakan sesuatu tanpa suara. Tapi, dari gerakan bibirnya, kurasa ia mengatakan "daijoubu"–artinya tenang saja. Aku yakin Sora pasti punya rencana sendiri untuk menghadapi gadis menyebalkan yang satu ini. Karena itulah aku bisa tenang dan rasa gemuruh di dadaku pun perlahan menghilang. Aku kembali ke kamar dan berbaring di kasur. Pikiranku melayang kemana-mana, antara delusi dan khayalan. Entah apa bedanya, aku tak bisa membedakan keduanya.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Sora dan Milliané berjalan ke arah teras, mereka menyusuri lorong tanpa bicara sepatah kata pun. Di tengah keheningan itu, Milliané memulai pembicaraan.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini sifatnya pribadi."

Sora nampak tidak tertarik, "Kalau begitu kita bicarakan ini di kamarku saja."

Milliané nampak tak percaya.

"Di kamarmu? Benarkah?!"

"Memangnya kenapa? Jangan berpikir bahwa aku akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu."

Cara Sora melihat Milliané berbeda dengan cara ia melihat Anna. Tatapannya tak menunjukan keindahan, bahkan justru lebih banyak menunjukan rasa bete. Ia pun lebih banyak diam, tidak menunjukkan ekspresi, dan tidak menunjukkan reaksi atas ketertarikan.

"Tentu saja aku tidak berpikir hal-hal aneh seperti itu, Sora. Aku sudah cukup lama mengenalmu, tapi aku belum pernah melihat kamarmu. Itu saja."

Tentu saja Sora tak menanggapi ucapan gadis itu. Ia tak tertarik dengan pembicaraan yang mengarah ke masa lalunya bersama Milliané. Terlalu menyedihkan untuk diingat, setidaknya begitu yang ia pikir.

Mereka akhirnya tiba di kamar Sora. Sora membuka pintu, ia masuk lebih dulu, Milliané mengikuti dari belakang. Sora memilih untuk duduk di kursi belajarnya, sedangkan Milliané berniat untuk duduk di kasur.

"Jangan di situ! Aku melarangmu duduk disitu."

Dengan raut wajah manja, Milliané menggembungkan pipinya, tanda protes.

"Ah, Sora... Lalu aku harus duduk dimana?"

"Di situ saja." Sora menunjuk dengan lirikan matanya, mengarah ke arah lantai.

"Jahaattt~~ Maksudmu aku disuruh duduk di lantai? Aku tidak mau!" Protes Milliané dengan nada merengek seperti anak kecil.

"Kalau kau tidak mau, ya sudah. Berdiri saja di situ. Kalau sudah selesai mengatakan apa yang ingin kau katakan, keluar. Simpel kan?"

Milliané tampak tidak terima dengan tawaran itu. Ia lebih memilih untuk berdiri. Lagipula, rok mini yang dipakainya membuatnya sulit untuk duduk di lantai.

"Uhmm.. Aku ingin bilang kalau aku datang jauh-jauh dari Prancis hanya untuk menyampaikan hal ini.."

Sora menyelak pembicaraan, "Langsung saja ke intinya."

Milliané menelan ludah dan menghirup nafas panjang. Mempersiapkan diri untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.

"Aku ingin kembali padamu, Sora. Jadikan aku tunanganmu."

Sora tak memberikan respon untuk beberapa menit. Milliané penasaran dengan jawaban Sora, ia berpikir kalau Sora sedang memikirkan jawaban atas permintaannya.

"Sora? Jawab aku!"

Milliané menghampiri Sora, ia memegang lengan Sora dan menggoyang-goyangkannya. Berharap bahwa laki-laki itu memberikan jawaban, segera.

"Jangan bercanda!" Kata Sora sambil melepas paksa lengannya dari cengkraman Milliané. Akibatnya, gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.

"S-Sora?"

Sora mendekati Milliané. Ia berjongkok dan bicara tepat di hadapan Milliané. Sora menyadari kalau kini bola matanya berubah menjadi warna merah. Entah kenapa kali ini ia bisa membangkitkan insting vampirnya berdasarkan kemauannya. Sora pun tidak kehilangan kesadaran dan kendali tubuhnya tidak diambil alih oleh insting vampirnya. Ia sadar sepenuhnya, dan ingatannya pun masih berfungsi dengan baik. Milliané yang masih syok dengan perlakuan kasar Sora terhadap dirinya, tak memperhatikan perubahan itu.

"Enak sekali ya? Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah membalikkan telapak tangan? Kau dulu mencampakkanku begitu saja saat kau ketahuan punya pacar. Dan hari itu, kau memberiku kepastian bahwa kau lebih memilih pacarmu daripada aku. Sekarang, secara tiba-tiba, kau datang padaku dan meminta agar dijadikan tunanganku. Kau pikir aku ini apa? Hanya jadi laki-laki cadanganmu semata?"

Milliané mulai merasa takut sekarang. Tak biasanya Sora seperti ini. Ia bahkan tak mengenal Sora yang bersifat seperti ini. Apakah karena kejadian yang ia lakukan beberapa tahun lalu mengubah Sora menjadi seperti ini? Akhirnya, Milliané berniat untuk memberikan penjelasan.

"Bukan seperti itu, Sora! Waktu itu, waktunya tidak tepat. Keluargaku tidak mengetahui bahwa aku sudah punya pacar, tapi mereka sudah menentukan hari pertunangan denganmu. Sekarang, aku putus dari pacarku karena aku sadar. Dulu aku telah melakukan perbuatan bodoh, aku menyia-nyiakanmu dan meninggalkanmu begitu saja. Aku menyesal dan kuputuskan untuk kembali padamu."

Sora yang sudah tahu kejadian sebenarnya, tak berhasil terpancing oleh kata-kata Milliané yang penuh dengan alasan.

"Bukannya pacarmu si Angelo itu yang meminta putus?"

"Uhmm..." Milliané mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sora. Apa yang dikatakan Sora memang benar. Bukan Milliané yang meminta untuk putus, tapi Angelo.

"Tepat seperti yang kuduga. Kau memang tidak dapat kupercaya, Milliané. Lagipula, sekarang aku sudah tidak tertarik padamu. Sama sekali tidak. Dan sekarang, aku sudah punya tunangan. Kau tahu gadis yang bersamaku di taman tadi? Dialah tunanganku, akan kuperkenalkan dia padamu kalau kau mau."

Wajah Milliané berubah, menunjukkan ekspresi marah dan kaget. Ia sama sekali tak mengetahui bahwa gadis yang ditemuinya di taman tadi adalah tunangan Sora. Kemarahannya memuncak, ingin rasanya ia membanting barang, apapun itu.

"Bohong! Kau bohong! Yang benar saja! Kenapa kau bisa-bisanya memilih perempuan lain selain aku?!"

"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU!" Balas Sora dengan volume yang keras.

"Eh?"

Milliané benar-benar takut sekarang. Ia berkeringat dingin, tak tahu bagaimana caranya menghadapi Sora yang seperti ini.

"Kutanya padamu. Waktu itu, kenapa kau bisa-bisanya memilih pacarmu dibanding aku? Padahal kukira kau adalah seseorang yang bisa kupercaya."

Gadis itu hanya diam. Ia terus menunduk semenjak Sora bilang begitu. Pandangannya diarahkan pada lantai. Rasanya ia tak berani menatap mata Sora, terlalu menakutkan.

"Kaulah yang membuatku seperti ini, Milliané! Kau pikir, setelah keputusanmu yang seenaknya dan mementingkan dirimu sendiri itu aku dapat kembali ke kehidupanku yang tenang seperti sebelumnya? Tidak! Aku dianggap sebagai aib keluarga, karena tak berhasil melakukan pertunangan. Aku dikucilkan dari orangtua, saudara, dan masyarakat."

Sora berhenti sejenak untuk melihat reaksi Milliané–seseorang yang pernah menjadi cinta pertamanya itu. Merasa puas melihat reaksinya yang ketakutan, Sora kembali menyambung ceritanya.

"Lalu tibalah hari dimana mereka, keluargaku, mengusirku dari rumah. Untung saja Piéters berpihak padaku. Kami berdua mencari rumah baru dan berjuang untuk terus hidup. Ia selalu setia bersamaku, dan ia pun tinggal bersamaku di rumah ini."

"Kau tahu? Itu baru sebagian dampak dari apa yang kau perbuat. Masih banyak lagi dampak lainnya."

Milliané mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengangkat kepalanya, untuk melihat wajah Sora yang tak bisa ia lihat sedari tadi.

"Tapi, aku..."

"Kau mengambil semua yang kupunya, Milliané. Nama baik, kejayaan, harta, warisan, dan sebagainya. Lalu, kedatanganmu yang sekarang ini bertujuan untuk apa? Kau bukan ingin kembali padaku atau ingin menjadi tunanganku. Kau hanya ingin merebut semuanya dariku lagi, iya 'kan?!"

"Sora! Kenapa bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu!"

Milliané geram. Tak ada lagi sisi manis yang ditunjukkan olehnya. Inilah Milliané yang sebenarnya, Sora sudah tahu sifatnya sejak lama. Ia hanya berpura-pura terlihat manis untuk mendapatkan perhatian.

"Mungkin kau membenciku, dan aku tak keberatan dengan itu. Tapi aku tak menerima perempuan itu menjadi tunanganmu! Dia itu terlihat polos, namun ia seperti menyembunyikan sesuatu. Lalu, dia itu tak tahu apa-apa tentangmu, beda denganku yang sudah lama mengenalmu. Dan lagi, dia tidak cocok denganmu, karena dia seorang manusia."

Sora menatap tajam pada Milliané. Membuat gadis itu merasa aneh. Ia tak pernah mendapat tatapan mengerikan seperti itu.

"Menjelek-jelekan orang lain tak membuatmu terlihat lebih baik! Ingat itu Milliané!"

Milliané bungkam.

"Lagipula, alasan klise macam apa itu? Tidak cocok karena dia manusia dan aku vampir, lantas kami tak bisa bersatu, begitu? Cih, dasar bodoh."

Milliané tidak terima dengan semua yang Sora lakukan padanya hari ini. Ia benar-benar kecewa dengan perubahan pada diri Sora. Ia berdiri dan membuka pintu.

"Sudah cukup! Aku mau pulang!"

"Je ne care pas! Casse toi immédiatement! "
(Aku tak peduli! Cepat pulang sana!)

"Je te déteste! "
(Aku benci kamu!)

Milliané mendecih sebal, ia pun bergegas keluar dari kamar Sora. Ia terbang entah kemana, Sora tak peduli. Yang penting gadis menyebalkan dari masa lalunya sudah pergi, dan mungkin ia takkan pernah kembali lagi. Tampak jelas sebuah senyum kemenangan terlukis di bibir Sora. Dengan begini, Milliané tak akan pernah bisa mengusik kehidupan barunya.

Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda

Entah berapa jam berlalu, Anna terus berbaring di kasurnya. Memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi, yang tidak mungkin terjadi, dan yang bisa saja tidak terjadi namun kenyataannya terjadi. Entah dengan apa yang ia pikirkan, tak jelas memang–hanya pikiran abstrak.

Anna gelisah, ia tak henti-hentinya melihat jam dinding. Sekarang waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Masih butuh beberapa jam lagi baginya untuk bisa menemui Sora dalam keadaan yang dikatakan aman. Ia tak yakin dengan perasaan gelisah yang ia rasakan saat ini. Inikah rindu? Atau ia hanya merasa kehilangan akan seseorang?

"Kira-kira apa yang sedang dilakukan Sora dengan Milliané ya?"

Baru saja ia terpikir hal itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

Tok tok.

"Masuk." Kata Anna mempersilakan.

Dan muncullah sesosok yang ia kenal. Dia adalah Sora. Anna terkejut, ia pun langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Ia mencoba untuk menahan Sora di luar pintu itu.

"Hei? Anna, buka pintunya dong."

Anna justru menahan pintu itu lebih kuat. Sora yang kebingungan dengan sifat Anna, mau tidak mau ia menunggu di balik sisi pintu yang lain.

"Sora bilang untuk tidak mudah percaya! Jangan masuk ke sini! Kau bukan Sora!"

Sora tertawa dari luar pintu. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Anna.

"Hmph! Ini benar-benar aku, Anna. Aku, Akihito Sora yang kau kenal."

"Apa insting vampirmu sedang bangkit?" Tanya Anna memastikan.

"Ya." Jawab seseorang di luar pintu.

"Berarti kau bukan Sora! Pergi sana, jangan mendekat!" Anna menahan pintu itu makin kuat.

"Coba kau tanyakan beberapa pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, berarti aku Sora yang asli. Lalu kau membukakan pintu ini untukku. Bagaimana?" Sora menawarkan.

Anna terlihat tertarik dengan tawaran yang diberikan Sora. Dengan begini, ia bisa mengetahui sejauh mana Sora mengenal dirinya. Rasanya ia seperti bisa mengetes seberapa tahu Sora tentangnya. Tapi, bagaimana kalau ini hanya akal-akalan 'monster' dalam diri Sora agar bisa menghisap darah Anna lagi? Di satu sisi, Anna agak takut. Tapi akhirnya ia mengambil keputusan.

"Baiklah. Aku akan memberimu beberapa pertanyaan. Kalau aku merasa jawabanmu cukup kuat untuk membuktikan kalau kau adalah Sora asli, aku akan membuka pintu ini." 

"Oke, kedengarannya menarik."

Anna mulai memikirkan hal-hal apa yang sebaiknya ia tanyakan untuk membuktikan bahwa ia Sora asli atau bukan. Rasanya sulit juga membuat pertanyaan seperti ini. Ia hanya harus menanyakan hal yang mencerminkan sifat Sora. Tapi apa sebaiknya apa ya?

"Siapa namaku?"

"Miyamoto Anna. Hhh, kalau cuma nama, aku tahu dong."

"Apa cita-citaku?"

"Kau mau menjadi guru yang baik. Kau pernah cerita padaku soal ini..."

"Apa yang dimasak Piéters tadi siang?"

"Beef steak. Bahkan, kau makan dengan lahap tadi siang."

Anna bingung, pertanyaan apa yang ia berikan selanjutnya. Sejauh ini, Sora menjawab pertanyaannya dengan benar. Ia butuh pertanyaan yang lebih menjurus tentang perasaannya.

"Siapa orang yang aku suka?"

Anna deg-degan mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Sora. Ia mengharapkan jawaban yang bisa membuatnya yakin.

"Siapa lagi? Tentu saja aku kan."

Gadis itu semakin berdebar kencang. Rona kemerahan mewarnai pipinya. Ia tak menyangka kalau Sora bisa menjawab sepede itu. Anna jadi salah tingkah mendengarnya. Ia menutup wajah menggunakan kedua tangannya.

"Jawabanku benar?" Tanya suara di seberang.

"Be-benar kok." Anna menjawab malu-malu.

"Sekarang, gantian aku yang tanya. Siapa yang aku suka?"

Anna bingung. Kok malah Sora yang memberikan pertanyaan padanya? Karena Anna tak memberikan jawaban, Sora menyambung kalimatnya.

"Jawab saja."

"Uhmm... Milliané?" Jawab Anna ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin meneriakkan namanya sekeras-kerasnya, tapi ia tak terlalu yakin. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya : apa Sora masih menyukai Milliané?

"Kau salah."

Anna mencoba mempertajam pendengarannya. Ia tidak salah dengar kan? Sora tidak menyukai Milliané?

"Orang yang aku suka itu sifatnya jujur, ceria, polos, blak-blakan, lumayan pintar tapi juga bodoh–pinpinbo kali ya? Pintar-pintar bodoh."

Sora tertawa mendengar apa yang ia ucapkan. Rasanya aneh juga menertawai apa yang dikatakan oleh diri sendiri. Anna masih tak menemukan jawabannya, kira-kira siapa orang yang disukai Sora itu?

"Kamu belum sadar juga? Orang itu ya kamu, Anna."

Anna membeku mendengarnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat muncul di dadanya. Tak pernah ia dinilai seseorang yang ia suka. Apalagi, Sora menyebutkan sifat-sifatnya, yang bahkan Anna sendiri tak menyadarinya. Merasa senang dengan hal itu, Anna membuka pintu. Ia yakin kalau seseorang yang sedari tadi bicara padanya adalah Sora asli. Ia tahu, hanya Sora yang bisa membuatnya merasakan kehangatan seperti ini. Sora pun masuk dan memberikan senyuman indahnya pada Anna.

"Aku bukan pinpinbo, tahu!" Kata Anna setengah protes, setengah bercanda.

"Lho, terus kamu apa? Bobobo? Bodoh-bodoh-bodoh?"

"Itu sih kamu!" Kata Anna tak mau kalah.

"Enak saja!"

Dan mereka pun tertawa bersama. Anna senang sekali saat-saat ia bisa bercanda dengan Sora seperti ini. Sora pun juga senang melihat reaksi Anna yang lucu dan polos.

Tapi tak lama kemudian, Anna merasakan sesuatu yang janggal
 Baru saja ia melihat mata Sora dan warnanya merah. Spontan, ia langsung menjauh dari Sora. Menjaga jarak sekitar tiga meter.

"Hoi, kenapa kamu?"

"M-matamu..."

Sora menyibak rambutnya yang menutup sebagian matanya.

"Iya, insting vampirku bangkit. Tadi aku 'kan sudah bilang? Tapi jangan takut, aku bisa mengendalikannya kok. Aku tak akan melukaimu, aku janji."

Agak berat bagi Anna untuk percaya, karena ia pernah punya pengalaman tidak enak dengan insting vampir. Tapi ia mencoba percaya sepenuhnya pada Sora. Anna mengulurkan jari kelingkingnya, meminta Sora berjanji padanya. Sora tersenyum mantap dan mengaitkan kelingking Anna dengan kelingkingnya.

"Kau sedang senggang, Anna? Temani aku ke balkon, yuk?" Ajak Sora.

"Eh?"

Anna belum lama tinggal di rumah ini. Jadi ia belum terlalu tahu mengenai bagian-bagian rumah, terlalu besar baginya. Karena Anna tak memberikan jawaban, langsung saja Sora meraih tangan Anna dan membawanya pergi. Mereka melewati anak tangga dan akhirnya sampai di balkon. Langit malam itu tak terlalu gelap, apalagi dengan adanya kehadiran sang bulan purnama dan bintang-bintang yang menghias langit yang luas itu.

"Waahh.. indahnya!" Kata Anna kagum.

Sora berdiri di samping Anna yang tersenyum kegirangan.

"Kau suka, Anna?" Tanya Sora.

Gadis itu membalas dengan anggukkan.

"Kau tertarik dengan astronomi?" Tanya Sora lagi.

Anna mengangkat kedua bahunya, "Tidak terlalu. Kau sendiri bagaimana?"

"Aku lumayan suka. Aku cukup sering membaca buku-buku astronomi–tata surya, bintang-bintang, planet-planet, meteor, komet, dan asteroid, aku baca semua."

"Wah hebat! Kapan-kapan ajari aku ya?"

"Tidak ah. Kau 'kan mau jadi guru, seharusnya kau yang mengajariku, dong? Hitung-hitung latihan."

"Mau bagaimana lagi? Kau kan lebih pintar dariku, Sora. Aku tidak akan bisa menandingimu."

"Jangan membatasi dirimu seperti itu. Kau harusnya yakin dengan kemampuanmu."

Anna melirik ke arah Sora. Saat Sora merasa Anna melihat ke arahnya, Anna spontan mengalihkan pandangan. Sora merasa sikap Anna barusan agak aneh. Ia berpikir kembali, kalimat apa yang baru ia ucapkan pada Anna tadi? Apakah ucapannya melukai perasaan Anna?

"Maaf, aku terkesan menceramahi ya?" 

"Hu-um." Anna menggeleng, "Kau benar, Sora. Aku harusnya lebih yakin dengan kemampuanku."

Sora merasa lega. Untung saja Anna tidak marah atau bete padanya. Angin malam berhembus, membuat rambut mahogany milik Anna berantakan. Sora yang melihat kejadian itu, segera merapikan rambut Anna dengan tangannya. Walaupun tidak terlalu rapi, tapi paling tidak, tidak terlalu berantakan. Anna hanya mematung melihat Sora melakukan hal itu. Ia terlalu malu untuk merespon apapun, ia hanya berani bilang terimakasih.

"Oh iya, aku ingin bicara soal Milliané."

Sora yang tiba-tiba mengganti topik, membuat perasaan Anna kembali cemas dan tidak tenang. Ia berpikir tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Bagaimana kalau Milliané yang menjadi tunangan Sora, sedangkan dirinya tidak menjadi apa-apa dan harus kembali ke kehidupan sebelumnya? Tentu saja ia tak bisa menerima hal itu.

"Wajahmu tegang sekali. Kau tidak suka dengan Milliané ya?"

"Aku tidak suka dia karena senyumannya yang terkesan meremehkan itu. Walaupun aku tidak tahu apa yang ia bicarakan denganmu di taman tadi, tapi aku merasa kalau ia memang meremehkanku..."

Sora mengangguk beberapa kali.

"Dia tak akan datang ke sini lagi, jadi kau tenang saja ya? Dan lagi, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai tunanganku. Kuharap kamu mengingat itu dan percaya sepenuhnya padaku. Ya, Anna?"

Tatapan itu! Senyuman itu! Lagi-lagi Sora memperlihatkan charm point-nya dan ia berhasil membuat Anna terpesona. Walau tatapannya agak berbeda dengan biasanya, karena warna bola mata yang dilihat Anna sekarang adalah merah, bukannya emerald, tapi keindahan yang berada di balik tatapan itu tetap sama.

"Aku yakin dan percaya padamu dari dalam lubuk hatiku, Sora. Aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku janji."

Jawaban Anna membuat Sora berseri. Setelah berkata begitu, Anna menunduk malu, menyembunyikan pipinya yang mulai berubah warna jadi kemerahan. Kini ada satu hal lagi yang membuat mereka lebih dekat, itu adalah kepercayaan. Saling percaya adalah suatu kepastian yang diberikan pada pasangannya, dan berlaku untuk dua arah.

Anna yakin bahwa hubungannya dengan Sora akan terus berlanjut hingga tahap kepastian diberikan. Sora benar-benar puas mendengar jawaban Anna yang tegas dan tidak ragu-ragu, yah walau menurutnya, kalimat itu cukup lebay juga sih. Anna merasa kalau malam ini ia akan bisa tidur nyenyak. Kejadian ini akan direkam dalam otaknya sebagai salah satu kenangan terindah dalam hidupnya.
.
.
.
To Be Continued

––––––––

A/N Time!

Yak, mulai chapter 3 aku akan menulis A/N (Author Note ) di akhir cerita. A/N biasanya bercerita tentang kejadian yang dialami penulis pada saat menulis chapter tertentu, halangan-halangan yang dihadapi, atau sebagian besar berisi tentang curahan hati sang author. Aku memutuskan untuk menulis A/N agar aku bisa bernostalgia saat membaca tulisan ini di masa depan nanti. Di A/N ini juga bebas, tanpa terikat aturan EYD atau sejenisnya. Jadi, A/N terkesan lebih santai dan tidak kaku. Ya, kurasa cukup penjelasannya. Mari kita mulai A/N Time! kali ini!

Haloooo~~! Kembali lagi dengan Sasha disinii (iyalah, ini kan blog kamu!) #abaikan #ditenggelemindisamudrapasifik (?)

Chapter 3 ini kutulis sudah cukup lama, kira-kira pada hari yang sama saat aku mempublish chapter 2. Banyak halangan saat ingin menyelesaikan chapter ini, kebanyakan sih karena aku nggak punya ide (stuck di adegan dan scene tertentu, tapi bingung cara nyatuinnya), males ngetik (hehe :v), dan karena banyak tugas. Aku bersyukur karena minggu-minggu ini aku sering mendapat banyak jam gabut setelah tadarus, aku jadi bisa menyelesaikan "Kyoketsuki no Fiancé" cepat update per chapternya.

Untuk karakter Milliané tadinya aku ingin memberi image "vampir bangsawan asal Prancis yang tinggal di Jerman", tapi entah kenapa tidak jadi kupakai. Mungkin akan kupakai di chapter selanjutnya. 

Aku sendiri juga tidak tahu kenapa namanya Milliané dan apa arti namanya. Dan apakah itu termasuk nama orang Prancis atau bukan. Aku hanya asal saja, hehe. Apa kalian terbayang bagaimana karakter Milliané? Kuharap pendeskripsiannya di cerita mampu menimbulkan kesan kuat tentang Milliané di pikiran kalian.

Satu lagi, aku menulis chapter ini berdasarkan mood yang aku rasakan di dunia nyata. Aku harus merasakan rasa cemburu untuk bisa menulis bagian Anna saat ia cemburu pada Milliané, rasa takut apabila ada orang lain yang menggantikan posisimu, dan lain sebagainya. Lainnya, aku menggunakan "pembayangan apabila aku bertemu dengan situasi ini", mungkin semacam delusi? Entahlah apa namanya itu. Aku juga ditemani oleh lagu-lagu galau saat menulis chapter ini :') Terimakasih, berkat itu aku jadi terinspirasi. 

Soal Sora yang menyukai astronomi kubuat karena katanya pada tanggal 9 Maret yang akan datang akan terjadi fenomena gerhana matahari total yang terjadi selama 350 tahun sekali. Ingin deh melihatnya, tapi sayangnya dari Jakarta tidak kelihatan. Selain itu, aku terinspirasi dari seseorang yang kusuka di dunia nyata, orang itu menyukai astronomi, kurasa imagenya pas dengan Sora, jadi kupakai begitu saja deh. Hehe, sepertinya orang yang kumaksud itu juga tak akan sadar ^^;

Yak, sekian dulu A/N Time kali ini. Nantikan update selanjutnya di chapter 4!

–Salsabila Surya Ananda–
5 Maret 2016