Kyoketsuki no
Fiancé
Chapter 3 :
~Bulan
Purnama, Rival, dan Kepastian~
Aku akan
menjadi pasangan yang sempurna bagi Sora. Itulah yang telah kuputuskan semenjak
Piéters menceritakan kepadaku soal Milliané, mantan calon tunangan Sora. Aku
akan berusaha, aku akan mengerahkan seluruh upaya untuk bisa melindungi
senyuman Sora. Ya, senyuman berharga yang menghiasi hariku, senyuman Sora yang
membawa sejuta arti bagiku.
"Nona,
saya mohon jangan mengungkit soal Milliané di depan Tuan Akihito, karena itu
dapat mengorek luka masa lalu beliau. Saya tidak ingin melihat Tuan Akihito
murung lagi."
Piéters
membereskan barang-barangnya. Ia meletakkan sisa obat-obatan herbal di
nampannya.
"Aku
janji aku tak akan membicarakan soal Milliané di depan Sora. Aku sangat
berterimakasih atas informasi yang kau berikan selama ini, Piéters."
"Terimakasih
kembali, Nona. Itu merupakan kehormatan bagi saya."
Piéters
memberikan hormat, kemudian ia permisi untuk kembali ke ruang belakang. Setelah
itu ia akan menyiapkan makan siang untukku, katanya. Entah kenapa tiba-tiba
terlintas soal Sora di pikiranku. Padahal ia baru meninggalkanku sebentar, tapi
kenapa aku rindu padanya?
Aku putuskan
untuk tidak terlalu banyak berpikir soal Sora, atau soal apapun. Kurasa aku
lebih baik mengistirahatkan tubuhku. Lagipula, kepalaku masih terasa
berputar-putar. Dan, aku pun terlelap.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Seorang pria
berambut putih mulai menata meja makan dan mempersiapkan menu makan siang.
Anehnya, di meja oval dengan ukuran sebesar tiga depa, hanya tersedia porsi
makanan untuk satu orang saja. Apa mau dikata, baik dia ataupun tuannya memang
tidak bisa makan makanan seperti itu.
Laki-laki
lain yang bersurai hitam duduk di kursi. Ia memang tidak bisa makan, tapi ia
putuskan untuk menemani tuan putrinya makan siang hari ini. Ia pikir, hal
semacam ini terasa romantis bila dilakukan.
Sang pelayan
memulai pembicaraan. Memecah keheningan di antara mereka.
"Tuan,
diperkirakan malam ini akan ada bulan purnama."
Laki-laki itu–Sora
mendesah sebal.
"Kenapa
harus di saat-saat seperti ini sih?"
"Haruskah
saya beritahu soal ini pada Nona?"
"Tidak
Piéters, biar aku yang memberitahunya."
"Maaf,
aku terlambat."
Sang putri,
Anna memasuki ruang makan. Ia nampak lebih segar dari sebelumnya. Ia juga sudah
berganti baju dan menata rambutnya dengan gaya yang lebih feminim, kepalanya
dihiasi oleh pita dan beberapa jepit bunga kecil. Pakaiannya, gaun model one piece berwarna
putih polos dengan renda di bagian roknya turut memancarkan aura
kepolosannya.
"Kau
sampai berdandan hanya untuk makan siang?" Tanya Sora mengawali topik
pembicaraan.
"Iya."
Gadis itu terkekeh, "Mungkin aku agak berlebihan ya? Tapi aku pikir ini
sesuatu yang istimewa. Kapan lagi aku bisa makan siang bersama Sora seperti
ini."
"Tenang
saja, aku akan menemanimu di sini sampai kau selesai makan."
Pupil milik
gadis itu membesar. Menyadari kejanggalan dari kalimat Sora barusan.
"Kau
tidak ikut makan bersamaku, Sora?"
"Tentu
saja tidak. Kau tahu 'kan, kalau aku tidak bisa makan?"
Gadis itu
membuka mulutnya lebar, seperti membentuk huruf o. Kemudian ia
mengangguk-ngangguk bersemangat.
"Maaf,
aku lupa soal itu! Tapi, terimakasih karena kau mau menemaniku di sini, Sora.
Aku senang, hehe."
Vampir
bangsawan muda itu tersenyum tanpa memperlihatkan giginya. Ia senang bisa
menghabiskan waktu dengan orang yang dicintainya. Ia senang saat ia bisa
menjadi dirinya seutuhnya, tanpa dikendalikan oleh insting vampirnya.
"Kalau
begitu, selamat makan!"
Sora
tersenyum puas melihat Anna melahap makan siangnya sampai habis. Mungkin ia
kelaparan, atau masakan Piéters cocok dengan lidahnya. Ya, siapa coba yang
tidak ingin makan siang dengan menu beef steak? Bahkan Sora pun
ingin mencoba masakan itu kalau ia bisa.
"Terimakasih
atas makanannya! Piéters, masakanmu memang luar biasa enak!" Anna
memberikan pujian sambil mengacungkan ibu jarinya.
Piéters
tersipu malu, ia hanya mengangguk sambil menunduk. Ternyata ia punya bakat
terpendam, bakat masak yang tidak pernah ia gunakan karena keadaan yang tidak
memungkinkan. Kemudian ia segera membereskan peralatan makan yang habis dipakai
oleh Nonanya, ia pun bergegas ke dapur.
"Anna,
ada yang ingin kubicarakan."
Sora menatap
lurus–tajam ke bola mata Anna. Tatapan itu membuat seluruh semesta menjadi iri.
Sora berhasil mencuri semua perhatian ke arahnya. Bahkan, siapapun bisa
ditaklukan oleh tatapan itu. Tatapan yang membuat orang lain membeku, tak
bergerak, tak berpaling dari matanya.
Begitu pula
dengan Anna.
Ia terfokus
dengan tatapan yang diberikan Sora. Benar-benar tak melakukan hal lain. Manik
emerald itu... sangat mempesona. Bahkan semua orang sirik karena tak bisa
memiliki keindahannya.
"Malam
ini ada bulan purnama. Itu adalah saat dimana insting para vampir meningkat
dari biasanya. Jadi, untuk menghindari kemungkinan yang tak diinginkan, aku
minta kau untuk menjaga jarak denganku. Untuk malam ini hingga besok pagi saja.
Aku yakin tindakan pencegahan ini akan berjalan secara efektif, dengan begini,
aku tidak akan bisa melakukan hal-hal yang dapat menyakitimu lagi."
"Maksudmu...
setelah ini kita tak bisa bertemu?"
"Setelah
ini masih bisa. Batasnya mulai dari jam setengah enam sore. Pada saat itu, kau
harus menjaga jarak denganku. Jangan semudah itu menuruti kata-kataku nantinya.
Lalu, aku minta kau memastikan warna mataku terlebih dahulu. Ingat, insting
vampir bisa merubahku menjadi 'bukan aku'. "
Gadis itu
menununjukkan raut wajah ngeri. Ia takut dengan perubahan kepribadian Sora saat
insting vampirnya bangkit. Dan lagi... menjaga jarak dengan Sora hingga besok
pagi itu terasa sulit. Sora selalu meninggalkan efek rindu di hatinya. Tapi mau
bagaimana lagi? Ia harus patuh dengan peraturan yang dibuat oleh Sora. Untuk
melindungi dirinya dari hal buruk yang mungkin terjadi. Pada akhirnya, Anna
mengangguk, menyetujui peraturan itu.
"Terimakasih
karena kau mau mengerti aku, Anna."
Gadis itu
menggeleng, "Tidak, ini bukan apa-apa. Aku tahu kau hanya ingin menjagaku,
makanya kau membuat peraturan seperti itu."
Sora bangkit
dari kursinya, ia berjalan ke arah Anna. Dan mereka berdiri berhadapan.
Lagi-lagi Anna terhipnotis dengan keindahan bola mata milik Sora. Emerald yang
cemerlang... warna hijau kebiruan yang tak pernah kau lihat sebelumnya, bahkan
mungkin warna seperti itu hanya ada satu di dunia ini. Ya–di mata Sora saja.
"Kau mau
menghabiskan waktu denganku sampai jam setengah enam nanti, Anna?"
Pertanyaan
itu membuat gadis bermata biru itu kaget. Debarannya semakin keras, rasanya tak
ada hentinya, selalu saja seperti ini saat bersama Sora.
"Kalau
boleh, aku ingin mendengar cerita tentangmu dan tentang kehidupan manusia. Hmm,
bagaimana?"
Debaran Anna
kini tak sekeras yang tadi. Ia senang mengetahui Sora ingin lebih mengenalnya
lebih jauh lagi. Diberi perlakuan seperti ini rasanya keberadaanmu seperti
diperlukan oleh orang yang penting bagimu.
"Aku
senang mengetahui hal itu. Tentu saja aku akan menceritakannya padamu,
Sora."
"Aku tak
sabar menunggunya."
"Kalau
begitu, ayo kita jalan-jalan keliling taman! Aku akan menceritakan tentang
kehidupanku."
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Aku
benar-benar bahagia! Mungkin saat ini aku sedang menjadi gadis yang paling
berbahagia di seluruh dunia! Menghabiskan waktu bersama Sora memang
menyenangkan. Karena ia bilang ingin lebih tahu tentangku, jadi aku ceritakan
padanya soal sekolahku, teman-temanku, kebiasaanku, kesukaanku, dan keluargaku.
Sora tidak mempercayai sebagian besar ceritaku, dia bilang kalau itu tidak
realistis, tapi aku bilang padanya bahwa itu benar terjadi. Kemudian kami
tertawa bersama. Langit jingga dengan gumpalan awan berwarna kekuningan, hari ini,
senja ini, aku telah berjanji pada diriku untuk tak akan melupakan hal ini
seumur hidupku.
"Sora,
aku ingin kau tahu soal ini."
Aku memulai
pembicaraan. Sebenarnya sulit juga bagiku untuk mengatakannya, karena aku malu
untuk bicara langsung. Tapi, kuberanikan diriku untuk melakukannya. Aku
kumpulkan semua keberanianku, dan yosh! Jadilah berani, Anna!
"Apa
itu?"
"Aku
takkan melupakan apa yang terjadi hari ini. Bukan hanya hari ini, tapi juga
hari-hari lain saat aku bersamamu. Itu akan menjadi memoriku yang berharga.
Disini, di dalam ingatanku, dalam pikiranku, dalam hatiku."
"Seperti
biasa, kata-katamu lebay ya, Anna."
Aku
menggebuknya. Huuh, sembarangan! Aku bilang begitu biar romantis, tapi kok
malah dibilang lebay? Haah, Sora memang belum terlalu mengerti aku. Aku kecewa
juga...
"Biar
romantis gitu, Sor!"
"Heeeh,
kau panggil aku dengan sebutan apa tadi?"
"Tidak
ada. Aku hanya memotong namamu. Hehehe, jangan marah..."
Laki-laki itu
tidak membalas perkataan Anna. Ia hanya meresponnya dengan menunjukkan senyuman
lembut. Kemudian mereka berdua tertawa, bagaikan sepasang kekasih yang paling
bahagia. Terutama Sora, dirinya yang tak pernah merasakan kebahagiaan seperti
ini datang padanya. Spontan, ia memeluk Anna erat. Seakan-akan ia tak ingin
melepaskan orang yang berharga baginya. Anna diam dalam pelukan Sora, ia
terlalu gugup untuk membalas pelukannya. Menerima hal seperti ini saja sudah
membuatnya merah padam. Karena Anna tak pernah merasakan kehangatan seperti ini
semenjak kepergian kedua orangtuanya.
"Jangan
pernah tinggalkan aku, Anna."
Sora mengelus
kepala Anna. Dengan kelembutan seperti itu, gadis manapun pasti akan tersentuh.
Anna membalasnya dengan anggukan, masih terlihat jelas semburat rona kemerahan
di pipinya. Sepasang kekasih itu merasa bahwa mereka berdua memiliki dunia ini,
tak ada orang lain di dalamnya.
Namun
pemikiran itu salah.
Tiba-tiba
muncul seorang gadis dengan tinggi kira-kira 170 sentimeter, rambut sebahu
pirang bergelombang, dengan dandanan yang dewasa, ia mengenakan sepatu hak
tinggi dan pakaian yang memperlihatkan bahunya, kini sedang berjalan mendekati
mereka.
"Tien
Sora, ça fait longtemps."
(Lama tak bertemu ya, Sora. )
(Lama tak bertemu ya, Sora. )
Gadis itu
kini ada di dekat mereka. Sora pun melepaskan pelukannya. Untuk pertama kalinya
Anna melihat Sora begitu gelisah. Dan ia sangat menyadari artinya.
Ia tahu bahwa
gadis itu adalah seseorang yang membuat Sora merasa tidak nyaman. Seseorang
yang membuatnya mengingat kembali masa lalu yang memilukan.
Gadis itu,
Milliané Jellashiva.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Apa-apaan
dengan yang kulihat sekarang ini? Perempuan itu menghampiri Sora dan kemudian
ia bicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Perempuan ini..? Diakah si
Milliané Jellashiva yang dikatakan Piéters? Aku merasa perbandingan antara aku
dengannya terasa begitu jauh.
Milliané
Jellashiva itu begitu dewasa dan punya bentuk badan yang bagus. Setiap
perempuan selalu mengidamkan bentuk badan seperti itu, tak terkecuali aku. Dia
memang pantas bila disandingkan dengan Sora. Imejnya adalah perempuan cantik
dan laki-laki tampan. Aku merasa tak percaya diri mengetahui bahwa Milliané–cinta
pertama Sora, adalah seseorang yang begitu sempurna.
"Sora,
kenapa kau diam saja?" Tanya gadis itu, kini ia bicara dalam bahasa Jepang
yang bisa kumengerti.
"Berisik! Casse
toi immédiatement!"
(Cepat pulang sana!)
(Cepat pulang sana!)
Aku tak tahu
kalau Sora bisa bicara bahasa asing selancar itu. Ternyata ia memang luar
biasa. Aku semakin kagum padanya.
Gadis itu
tersenyum, bukan–ia bukan memperlihatkan senyuman, itu lebih terlihat seperti ejekan.
Aku bahkan tidak suka melihat senyuman yang terkesan meremehkan itu.
"Je suis
contente de re revoir."
(Aku senang bertemu denganmu)
(Aku senang bertemu denganmu)
Sora
mendecakkan lidah.
"Tu as
une allure ironique tel que tu es, Milliané."
(Seperti biasa, wajahmu selalu penuh ejekan, Milliané. )
(Seperti biasa, wajahmu selalu penuh ejekan, Milliané. )
Gadis itu
hanya tertawa mendengar perkataan Sora.
Aku sebal
pada diriku sendiri karena aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Sora
mengalihkan pandangannya ke arahku, dan ia terlihat seperti ingin mengatakan
sesuatu.
"Anna,
sekarang hampir jam setengah enam. Kau ingat perjanjian kita? Pergilah ke kamar
sekarang. Ada yang harus kuurus dengan dia."
Aku merasa
ucapan itu menyakiti hatiku. Di satu sisi, mungkin ia ingin melindungiku dari
insting vampirnya yang bisa bangkit kapan saja. Tapi di lain sisi, aku berpikir
bahwa Sora ingin menghabiskan waktu dengan Milliané. Gadis dari masa lalunya
itu benar-benar membuat perasaanku tidak karuan. Semenjak ada dia, aku merasa
kesal, tidak tenang, dan berpikiran hal-hal negatif tentang Sora. Apa ini? Apa
aku cemburu?
"Biarkan
aku lebih lama bersamamu."
Kuberanikan
diriku untuk mengatakan kalimat itu. Aku hanya ingin Sora tahu bahwa aku tidak
suka jika Sora berduaan dengan perempuan itu.
"Tadi
kau sudah janji, 'kan? Sekarang pergilah."
Milliané
tersenyum ke arahku. Senyuman itu seakan-akan mengatakan bahwa Sora lebih
memilih untuk bersamanya dibanding aku. Aku benar-benar membenci senyuman itu.
Senyuman yang terkesan meremehkan milik Milliané, ingin sekali kutinju wajahnya
jika ia menunjukkan ekspresi itu lagi.
"Kau
dengar apa yang dikatakan Sora, 'kan? Sekarang cepat pergi!."
Milliané
bilang begitu. Ia bilang begitu padaku. Seenaknya saja bilang begitu untuk
mengusirku, seakan-akan ia menganggapku sebagai pengganggu. Ish, rasanya aku
semakin benci dengannya. Dia sok dekat dengan Sora! Eh tunggu, kenapa aku jadi
cemburuan begini?
Sora
memberikan isyarat padaku untuk pergi, kemudian ia mencoba mengatakan sesuatu
tanpa suara. Tapi, dari gerakan bibirnya, kurasa ia mengatakan "daijoubu"–artinya
tenang saja. Aku yakin Sora pasti punya rencana sendiri untuk menghadapi gadis
menyebalkan yang satu ini. Karena itulah aku bisa tenang dan rasa gemuruh di
dadaku pun perlahan menghilang. Aku kembali ke kamar dan berbaring di kasur. Pikiranku
melayang kemana-mana, antara delusi dan khayalan. Entah apa bedanya, aku tak
bisa membedakan keduanya.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Sora dan
Milliané berjalan ke arah teras, mereka menyusuri lorong tanpa bicara sepatah
kata pun. Di tengah keheningan itu, Milliané memulai pembicaraan.
"Ada
yang ingin kubicarakan denganmu. Ini sifatnya pribadi."
Sora nampak
tidak tertarik, "Kalau begitu kita bicarakan ini di kamarku
saja."
Milliané
nampak tak percaya.
"Di
kamarmu? Benarkah?!"
"Memangnya
kenapa? Jangan berpikir bahwa aku akan melakukan hal yang aneh-aneh
padamu."
Cara Sora
melihat Milliané berbeda dengan cara ia melihat Anna. Tatapannya tak menunjukan
keindahan, bahkan justru lebih banyak menunjukan rasa bete. Ia pun lebih banyak
diam, tidak menunjukkan ekspresi, dan tidak menunjukkan reaksi atas
ketertarikan.
"Tentu
saja aku tidak berpikir hal-hal aneh seperti itu, Sora. Aku sudah cukup lama
mengenalmu, tapi aku belum pernah melihat kamarmu. Itu saja."
Tentu saja
Sora tak menanggapi ucapan gadis itu. Ia tak tertarik dengan pembicaraan yang
mengarah ke masa lalunya bersama Milliané. Terlalu menyedihkan untuk diingat,
setidaknya begitu yang ia pikir.
Mereka
akhirnya tiba di kamar Sora. Sora membuka pintu, ia masuk lebih dulu, Milliané
mengikuti dari belakang. Sora memilih untuk duduk di kursi belajarnya,
sedangkan Milliané berniat untuk duduk di kasur.
"Jangan
di situ! Aku melarangmu duduk disitu."
Dengan raut
wajah manja, Milliané menggembungkan pipinya, tanda protes.
"Ah,
Sora... Lalu aku harus duduk dimana?"
"Di situ
saja." Sora menunjuk dengan lirikan matanya, mengarah ke arah lantai.
"Jahaattt~~
Maksudmu aku disuruh duduk di lantai? Aku tidak mau!" Protes Milliané
dengan nada merengek seperti anak kecil.
"Kalau
kau tidak mau, ya sudah. Berdiri saja di situ. Kalau sudah selesai mengatakan
apa yang ingin kau katakan, keluar. Simpel kan?"
Milliané
tampak tidak terima dengan tawaran itu. Ia lebih memilih untuk berdiri.
Lagipula, rok mini yang dipakainya membuatnya sulit untuk duduk di lantai.
"Uhmm..
Aku ingin bilang kalau aku datang jauh-jauh dari Prancis hanya untuk
menyampaikan hal ini.."
Sora menyelak
pembicaraan, "Langsung saja ke intinya."
Milliané
menelan ludah dan menghirup nafas panjang. Mempersiapkan diri untuk mengatakan
apa yang ingin ia katakan.
"Aku
ingin kembali padamu, Sora. Jadikan aku tunanganmu."
Sora tak
memberikan respon untuk beberapa menit. Milliané penasaran dengan jawaban Sora,
ia berpikir kalau Sora sedang memikirkan jawaban atas permintaannya.
"Sora?
Jawab aku!"
Milliané
menghampiri Sora, ia memegang lengan Sora dan menggoyang-goyangkannya. Berharap
bahwa laki-laki itu memberikan jawaban, segera.
"Jangan
bercanda!" Kata Sora sambil melepas paksa lengannya dari cengkraman
Milliané. Akibatnya, gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
"S-Sora?"
Sora
mendekati Milliané. Ia berjongkok dan bicara tepat di hadapan Milliané. Sora
menyadari kalau kini bola matanya berubah menjadi warna merah. Entah kenapa
kali ini ia bisa membangkitkan insting vampirnya berdasarkan kemauannya. Sora
pun tidak kehilangan kesadaran dan kendali tubuhnya tidak diambil alih oleh
insting vampirnya. Ia sadar sepenuhnya, dan ingatannya pun masih berfungsi
dengan baik. Milliané yang masih syok dengan perlakuan kasar Sora terhadap
dirinya, tak memperhatikan perubahan itu.
"Enak
sekali ya? Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah membalikkan telapak tangan?
Kau dulu mencampakkanku begitu saja saat kau ketahuan punya pacar. Dan hari
itu, kau memberiku kepastian bahwa kau lebih memilih pacarmu daripada aku.
Sekarang, secara tiba-tiba, kau datang padaku dan meminta agar dijadikan
tunanganku. Kau pikir aku ini apa? Hanya jadi laki-laki cadanganmu semata?"
Milliané
mulai merasa takut sekarang. Tak biasanya Sora seperti ini. Ia bahkan tak
mengenal Sora yang bersifat seperti ini. Apakah karena kejadian yang ia lakukan
beberapa tahun lalu mengubah Sora menjadi seperti ini? Akhirnya, Milliané
berniat untuk memberikan penjelasan.
"Bukan
seperti itu, Sora! Waktu itu, waktunya tidak tepat. Keluargaku tidak mengetahui
bahwa aku sudah punya pacar, tapi mereka sudah menentukan hari pertunangan
denganmu. Sekarang, aku putus dari pacarku karena aku sadar. Dulu aku telah
melakukan perbuatan bodoh, aku menyia-nyiakanmu dan meninggalkanmu begitu saja.
Aku menyesal dan kuputuskan untuk kembali padamu."
Sora yang
sudah tahu kejadian sebenarnya, tak berhasil terpancing oleh kata-kata Milliané
yang penuh dengan alasan.
"Bukannya
pacarmu si Angelo itu yang meminta putus?"
"Uhmm..."
Milliané mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sora. Apa yang
dikatakan Sora memang benar. Bukan Milliané yang meminta untuk putus, tapi
Angelo.
"Tepat
seperti yang kuduga. Kau memang tidak dapat kupercaya, Milliané. Lagipula,
sekarang aku sudah tidak tertarik padamu. Sama sekali tidak. Dan sekarang, aku
sudah punya tunangan. Kau tahu gadis yang bersamaku di taman tadi? Dialah
tunanganku, akan kuperkenalkan dia padamu kalau kau mau."
Wajah
Milliané berubah, menunjukkan ekspresi marah dan kaget. Ia sama sekali tak
mengetahui bahwa gadis yang ditemuinya di taman tadi adalah tunangan Sora.
Kemarahannya memuncak, ingin rasanya ia membanting barang, apapun itu.
"Bohong!
Kau bohong! Yang benar saja! Kenapa kau bisa-bisanya memilih perempuan lain
selain aku?!"
"SEHARUSNYA
AKU YANG BILANG BEGITU!" Balas Sora dengan volume yang keras.
"Eh?"
Milliané
benar-benar takut sekarang. Ia berkeringat dingin, tak tahu bagaimana caranya
menghadapi Sora yang seperti ini.
"Kutanya
padamu. Waktu itu, kenapa kau bisa-bisanya memilih pacarmu dibanding aku?
Padahal kukira kau adalah seseorang yang bisa kupercaya."
Gadis itu
hanya diam. Ia terus menunduk semenjak Sora bilang begitu. Pandangannya
diarahkan pada lantai. Rasanya ia tak berani menatap mata Sora, terlalu
menakutkan.
"Kaulah
yang membuatku seperti ini, Milliané! Kau pikir, setelah keputusanmu yang
seenaknya dan mementingkan dirimu sendiri itu aku dapat kembali ke kehidupanku
yang tenang seperti sebelumnya? Tidak! Aku dianggap sebagai aib keluarga,
karena tak berhasil melakukan pertunangan. Aku dikucilkan dari orangtua,
saudara, dan masyarakat."
Sora berhenti
sejenak untuk melihat reaksi Milliané–seseorang yang pernah menjadi cinta
pertamanya itu. Merasa puas melihat reaksinya yang ketakutan, Sora kembali
menyambung ceritanya.
"Lalu
tibalah hari dimana mereka, keluargaku, mengusirku dari rumah. Untung saja
Piéters berpihak padaku. Kami berdua mencari rumah baru dan berjuang untuk
terus hidup. Ia selalu setia bersamaku, dan ia pun tinggal bersamaku di rumah
ini."
"Kau
tahu? Itu baru sebagian dampak dari apa yang kau perbuat. Masih banyak lagi
dampak lainnya."
Milliané
mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengangkat kepalanya, untuk melihat
wajah Sora yang tak bisa ia lihat sedari tadi.
"Tapi,
aku..."
"Kau
mengambil semua yang kupunya, Milliané. Nama baik, kejayaan, harta, warisan,
dan sebagainya. Lalu, kedatanganmu yang sekarang ini bertujuan untuk apa? Kau
bukan ingin kembali padaku atau ingin menjadi tunanganku. Kau hanya ingin
merebut semuanya dariku lagi, iya 'kan?!"
"Sora!
Kenapa bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu!"
Milliané
geram. Tak ada lagi sisi manis yang ditunjukkan olehnya. Inilah Milliané yang
sebenarnya, Sora sudah tahu sifatnya sejak lama. Ia hanya berpura-pura terlihat
manis untuk mendapatkan perhatian.
"Mungkin
kau membenciku, dan aku tak keberatan dengan itu. Tapi aku tak menerima
perempuan itu menjadi tunanganmu! Dia itu terlihat polos, namun ia seperti
menyembunyikan sesuatu. Lalu, dia itu tak tahu apa-apa tentangmu, beda denganku
yang sudah lama mengenalmu. Dan lagi, dia tidak cocok denganmu, karena dia
seorang manusia."
Sora menatap
tajam pada Milliané. Membuat gadis itu merasa aneh. Ia tak pernah mendapat
tatapan mengerikan seperti itu.
"Menjelek-jelekan
orang lain tak membuatmu terlihat lebih baik! Ingat itu Milliané!"
Milliané
bungkam.
"Lagipula,
alasan klise macam apa itu? Tidak cocok karena dia manusia dan aku vampir,
lantas kami tak bisa bersatu, begitu? Cih, dasar bodoh."
Milliané
tidak terima dengan semua yang Sora lakukan padanya hari ini. Ia benar-benar
kecewa dengan perubahan pada diri Sora. Ia berdiri dan membuka pintu.
"Sudah
cukup! Aku mau pulang!"
"Je
ne care pas! Casse toi immédiatement! "
(Aku tak
peduli! Cepat pulang sana!)
"Je
te déteste! "
(Aku benci
kamu!)
Milliané
mendecih sebal, ia pun bergegas keluar dari kamar Sora. Ia terbang entah
kemana, Sora tak peduli. Yang penting gadis menyebalkan dari masa lalunya sudah
pergi, dan mungkin ia takkan pernah kembali lagi. Tampak jelas sebuah senyum
kemenangan terlukis di bibir Sora. Dengan begini, Milliané tak akan pernah bisa
mengusik kehidupan barunya.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Entah berapa
jam berlalu, Anna terus berbaring di kasurnya. Memikirkan hal-hal yang mungkin
terjadi, yang tidak mungkin terjadi, dan yang bisa saja tidak terjadi namun
kenyataannya terjadi. Entah dengan apa yang ia pikirkan, tak jelas memang–hanya
pikiran abstrak.
Anna gelisah,
ia tak henti-hentinya melihat jam dinding. Sekarang waktu baru menunjukkan
pukul delapan malam. Masih butuh beberapa jam lagi baginya untuk bisa menemui
Sora dalam keadaan yang dikatakan aman. Ia tak yakin dengan perasaan gelisah
yang ia rasakan saat ini. Inikah rindu? Atau ia hanya merasa kehilangan akan
seseorang?
"Kira-kira
apa yang sedang dilakukan Sora dengan Milliané ya?"
Baru saja ia
terpikir hal itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Tok tok.
"Masuk."
Kata Anna mempersilakan.
Dan muncullah
sesosok yang ia kenal. Dia adalah Sora. Anna terkejut, ia pun langsung berdiri
dan berlari ke arah pintu. Ia mencoba untuk menahan Sora di luar pintu itu.
"Hei?
Anna, buka pintunya dong."
Anna justru
menahan pintu itu lebih kuat. Sora yang kebingungan dengan sifat Anna, mau
tidak mau ia menunggu di balik sisi pintu yang lain.
"Sora
bilang untuk tidak mudah percaya! Jangan masuk ke sini! Kau bukan Sora!"
Sora tertawa
dari luar pintu. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Anna.
"Hmph!
Ini benar-benar aku, Anna. Aku, Akihito Sora yang kau kenal."
"Apa
insting vampirmu sedang bangkit?" Tanya Anna memastikan.
"Ya."
Jawab seseorang di luar pintu.
"Berarti
kau bukan Sora! Pergi sana, jangan mendekat!" Anna menahan pintu itu makin
kuat.
"Coba
kau tanyakan beberapa pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, berarti
aku Sora yang asli. Lalu kau membukakan pintu ini untukku. Bagaimana?"
Sora menawarkan.
Anna terlihat
tertarik dengan tawaran yang diberikan Sora. Dengan begini, ia bisa mengetahui
sejauh mana Sora mengenal dirinya. Rasanya ia seperti bisa mengetes seberapa
tahu Sora tentangnya. Tapi, bagaimana kalau ini hanya akal-akalan 'monster'
dalam diri Sora agar bisa menghisap darah Anna lagi? Di satu sisi, Anna agak
takut. Tapi akhirnya ia mengambil keputusan.
"Baiklah.
Aku akan memberimu beberapa pertanyaan. Kalau aku merasa jawabanmu cukup kuat
untuk membuktikan kalau kau adalah Sora asli, aku akan membuka pintu
ini."
"Oke,
kedengarannya menarik."
Anna mulai
memikirkan hal-hal apa yang sebaiknya ia tanyakan untuk membuktikan bahwa ia Sora
asli atau bukan. Rasanya sulit juga membuat pertanyaan seperti ini. Ia hanya
harus menanyakan hal yang mencerminkan sifat Sora. Tapi apa sebaiknya apa ya?
"Siapa
namaku?"
"Miyamoto
Anna. Hhh, kalau cuma nama, aku tahu dong."
"Apa
cita-citaku?"
"Kau mau
menjadi guru yang baik. Kau pernah cerita padaku soal ini..."
"Apa
yang dimasak Piéters tadi siang?"
"Beef
steak. Bahkan, kau makan dengan lahap tadi siang."
Anna bingung,
pertanyaan apa yang ia berikan selanjutnya. Sejauh ini, Sora menjawab
pertanyaannya dengan benar. Ia butuh pertanyaan yang lebih menjurus tentang
perasaannya.
"Siapa
orang yang aku suka?"
Anna
deg-degan mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Sora. Ia mengharapkan
jawaban yang bisa membuatnya yakin.
"Siapa
lagi? Tentu saja aku kan."
Gadis itu
semakin berdebar kencang. Rona kemerahan mewarnai pipinya. Ia tak menyangka
kalau Sora bisa menjawab sepede itu. Anna jadi salah tingkah mendengarnya. Ia
menutup wajah menggunakan kedua tangannya.
"Jawabanku
benar?" Tanya suara di seberang.
"Be-benar
kok." Anna menjawab malu-malu.
"Sekarang,
gantian aku yang tanya. Siapa yang aku suka?"
Anna bingung.
Kok malah Sora yang memberikan pertanyaan padanya? Karena Anna tak memberikan
jawaban, Sora menyambung kalimatnya.
"Jawab
saja."
"Uhmm...
Milliané?" Jawab Anna ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin meneriakkan namanya
sekeras-kerasnya, tapi ia tak terlalu yakin. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya
: apa Sora masih menyukai Milliané?
"Kau
salah."
Anna mencoba
mempertajam pendengarannya. Ia tidak salah dengar kan? Sora tidak menyukai
Milliané?
"Orang
yang aku suka itu sifatnya jujur, ceria, polos, blak-blakan, lumayan pintar
tapi juga bodoh–pinpinbo kali ya? Pintar-pintar bodoh."
Sora tertawa
mendengar apa yang ia ucapkan. Rasanya aneh juga menertawai apa yang dikatakan
oleh diri sendiri. Anna masih tak menemukan jawabannya, kira-kira siapa orang
yang disukai Sora itu?
"Kamu
belum sadar juga? Orang itu ya kamu, Anna."
Anna membeku
mendengarnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat muncul di dadanya. Tak pernah ia
dinilai seseorang yang ia suka. Apalagi, Sora menyebutkan sifat-sifatnya, yang
bahkan Anna sendiri tak menyadarinya. Merasa senang dengan hal itu, Anna
membuka pintu. Ia yakin kalau seseorang yang sedari tadi bicara padanya adalah
Sora asli. Ia tahu, hanya Sora yang bisa membuatnya merasakan kehangatan
seperti ini. Sora pun masuk dan memberikan senyuman indahnya pada Anna.
"Aku
bukan pinpinbo, tahu!" Kata Anna setengah protes, setengah bercanda.
"Lho,
terus kamu apa? Bobobo? Bodoh-bodoh-bodoh?"
"Itu sih
kamu!" Kata Anna tak mau kalah.
"Enak
saja!"
Dan mereka
pun tertawa bersama. Anna senang sekali saat-saat ia bisa bercanda dengan Sora
seperti ini. Sora pun juga senang melihat reaksi Anna yang lucu dan polos.
Tapi tak lama
kemudian, Anna merasakan sesuatu yang janggal
Baru saja
ia melihat mata Sora dan warnanya merah. Spontan, ia langsung menjauh dari
Sora. Menjaga jarak sekitar tiga meter.
"Hoi,
kenapa kamu?"
"M-matamu..."
Sora menyibak
rambutnya yang menutup sebagian matanya.
"Iya,
insting vampirku bangkit. Tadi aku 'kan sudah bilang? Tapi jangan takut, aku
bisa mengendalikannya kok. Aku tak akan melukaimu, aku janji."
Agak berat
bagi Anna untuk percaya, karena ia pernah punya pengalaman tidak enak dengan
insting vampir. Tapi ia mencoba percaya sepenuhnya pada Sora. Anna mengulurkan
jari kelingkingnya, meminta Sora berjanji padanya. Sora tersenyum mantap dan
mengaitkan kelingking Anna dengan kelingkingnya.
"Kau
sedang senggang, Anna? Temani aku ke balkon, yuk?" Ajak Sora.
"Eh?"
Anna belum
lama tinggal di rumah ini. Jadi ia belum terlalu tahu mengenai bagian-bagian
rumah, terlalu besar baginya. Karena Anna tak memberikan jawaban, langsung saja
Sora meraih tangan Anna dan membawanya pergi. Mereka melewati anak tangga dan
akhirnya sampai di balkon. Langit malam itu tak terlalu gelap, apalagi dengan
adanya kehadiran sang bulan purnama dan bintang-bintang yang menghias langit
yang luas itu.
"Waahh..
indahnya!" Kata Anna kagum.
Sora berdiri
di samping Anna yang tersenyum kegirangan.
"Kau
suka, Anna?" Tanya Sora.
Gadis itu
membalas dengan anggukkan.
"Kau
tertarik dengan astronomi?" Tanya Sora lagi.
Anna
mengangkat kedua bahunya, "Tidak terlalu. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku
lumayan suka. Aku cukup sering membaca buku-buku astronomi–tata surya,
bintang-bintang, planet-planet, meteor, komet, dan asteroid, aku baca
semua."
"Wah
hebat! Kapan-kapan ajari aku ya?"
"Tidak
ah. Kau 'kan mau jadi guru, seharusnya kau yang mengajariku, dong?
Hitung-hitung latihan."
"Mau
bagaimana lagi? Kau kan lebih pintar dariku, Sora. Aku tidak akan bisa
menandingimu."
"Jangan
membatasi dirimu seperti itu. Kau harusnya yakin dengan kemampuanmu."
Anna melirik
ke arah Sora. Saat Sora merasa Anna melihat ke arahnya, Anna spontan
mengalihkan pandangan. Sora merasa sikap Anna barusan agak aneh. Ia berpikir
kembali, kalimat apa yang baru ia ucapkan pada Anna tadi? Apakah ucapannya
melukai perasaan Anna?
"Maaf,
aku terkesan menceramahi ya?"
"Hu-um."
Anna menggeleng, "Kau benar, Sora. Aku harusnya lebih yakin dengan
kemampuanku."
Sora merasa
lega. Untung saja Anna tidak marah atau bete padanya. Angin malam berhembus,
membuat rambut mahogany milik Anna berantakan. Sora yang
melihat kejadian itu, segera merapikan rambut Anna dengan tangannya. Walaupun
tidak terlalu rapi, tapi paling tidak, tidak terlalu berantakan. Anna hanya
mematung melihat Sora melakukan hal itu. Ia terlalu malu untuk merespon apapun,
ia hanya berani bilang terimakasih.
"Oh iya,
aku ingin bicara soal Milliané."
Sora yang
tiba-tiba mengganti topik, membuat perasaan Anna kembali cemas dan tidak
tenang. Ia berpikir tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Bagaimana
kalau Milliané yang menjadi tunangan Sora, sedangkan dirinya tidak menjadi
apa-apa dan harus kembali ke kehidupan sebelumnya? Tentu saja ia tak bisa
menerima hal itu.
"Wajahmu
tegang sekali. Kau tidak suka dengan Milliané ya?"
"Aku
tidak suka dia karena senyumannya yang terkesan meremehkan itu. Walaupun aku
tidak tahu apa yang ia bicarakan denganmu di taman tadi, tapi aku merasa kalau
ia memang meremehkanku..."
Sora
mengangguk beberapa kali.
"Dia tak
akan datang ke sini lagi, jadi kau tenang saja ya? Dan lagi, tidak ada yang
bisa menggantikan posisimu sebagai tunanganku. Kuharap kamu mengingat itu dan
percaya sepenuhnya padaku. Ya, Anna?"
Tatapan itu!
Senyuman itu! Lagi-lagi Sora memperlihatkan charm point-nya dan
ia berhasil membuat Anna terpesona. Walau tatapannya agak berbeda dengan
biasanya, karena warna bola mata yang dilihat Anna sekarang adalah merah,
bukannya emerald, tapi keindahan yang berada di balik tatapan itu
tetap sama.
"Aku
yakin dan percaya padamu dari dalam lubuk hatiku, Sora. Aku takkan pernah
meninggalkanmu. Aku janji."
Jawaban Anna
membuat Sora berseri. Setelah berkata begitu, Anna menunduk malu,
menyembunyikan pipinya yang mulai berubah warna jadi kemerahan. Kini ada satu
hal lagi yang membuat mereka lebih dekat, itu adalah kepercayaan. Saling
percaya adalah suatu kepastian yang diberikan pada pasangannya, dan berlaku
untuk dua arah.
Anna yakin
bahwa hubungannya dengan Sora akan terus berlanjut hingga tahap kepastian
diberikan. Sora benar-benar puas mendengar jawaban Anna yang tegas dan tidak
ragu-ragu, yah walau menurutnya, kalimat itu cukup lebay juga sih. Anna merasa
kalau malam ini ia akan bisa tidur nyenyak. Kejadian ini akan direkam dalam
otaknya sebagai salah satu kenangan terindah dalam hidupnya.
.
.
.
To Be Continued
––––––––
A/N Time!
Yak, mulai
chapter 3 aku akan menulis A/N (Author Note ) di akhir cerita. A/N biasanya
bercerita tentang kejadian yang dialami penulis pada saat menulis chapter
tertentu, halangan-halangan yang dihadapi, atau sebagian besar berisi tentang
curahan hati sang author. Aku memutuskan untuk menulis A/N agar aku bisa
bernostalgia saat membaca tulisan ini di masa depan nanti. Di A/N ini juga
bebas, tanpa terikat aturan EYD atau sejenisnya. Jadi, A/N terkesan lebih
santai dan tidak kaku. Ya, kurasa cukup penjelasannya. Mari kita mulai A/N
Time! kali ini!
Haloooo~~!
Kembali lagi dengan Sasha disinii (iyalah, ini kan blog kamu!) #abaikan
#ditenggelemindisamudrapasifik (?)
Chapter 3 ini
kutulis sudah cukup lama, kira-kira pada hari yang sama saat aku mempublish
chapter 2. Banyak halangan saat ingin menyelesaikan chapter ini, kebanyakan sih
karena aku nggak punya ide (stuck di adegan dan scene tertentu, tapi bingung
cara nyatuinnya), males ngetik (hehe :v), dan karena banyak tugas. Aku
bersyukur karena minggu-minggu ini aku sering mendapat banyak jam gabut setelah
tadarus, aku jadi bisa menyelesaikan "Kyoketsuki no Fiancé" cepat
update per chapternya.
Untuk
karakter Milliané tadinya aku ingin memberi image "vampir bangsawan asal
Prancis yang tinggal di Jerman", tapi entah kenapa tidak jadi kupakai.
Mungkin akan kupakai di chapter selanjutnya.
Aku sendiri
juga tidak tahu kenapa namanya Milliané dan apa arti namanya. Dan apakah itu
termasuk nama orang Prancis atau bukan. Aku hanya asal saja, hehe. Apa kalian
terbayang bagaimana karakter Milliané? Kuharap pendeskripsiannya di cerita
mampu menimbulkan kesan kuat tentang Milliané di pikiran kalian.
Satu lagi,
aku menulis chapter ini berdasarkan mood yang aku rasakan di dunia nyata. Aku
harus merasakan rasa cemburu untuk bisa menulis bagian Anna saat ia cemburu
pada Milliané, rasa takut apabila ada orang lain yang menggantikan posisimu,
dan lain sebagainya. Lainnya, aku menggunakan "pembayangan apabila aku
bertemu dengan situasi ini", mungkin semacam delusi? Entahlah apa namanya
itu. Aku juga ditemani oleh lagu-lagu galau saat menulis chapter ini :')
Terimakasih, berkat itu aku jadi terinspirasi.
Soal Sora
yang menyukai astronomi kubuat karena katanya pada tanggal 9 Maret yang akan
datang akan terjadi fenomena gerhana matahari total yang terjadi selama 350
tahun sekali. Ingin deh melihatnya, tapi sayangnya dari Jakarta tidak
kelihatan. Selain itu, aku terinspirasi dari seseorang yang kusuka di dunia
nyata, orang itu menyukai astronomi, kurasa imagenya pas dengan Sora, jadi
kupakai begitu saja deh. Hehe, sepertinya orang yang kumaksud itu juga tak akan
sadar ^^;
Yak, sekian
dulu A/N Time kali ini. Nantikan update selanjutnya di chapter 4!
–Salsabila Surya Ananda–
5 Maret 2016