Kamis, 26 November 2015

Behind the Post of "Horror Time" Collection

Halo, semuanya!

Gimana 6 act pertama dari "Horror Time"? Aku mau tau apa yang dirasakan oleh kalian ketika membaca cerita-ceritaku ini, baik riddle, creepypasta, atau urban legend. Semoga kalian menyukainya. Aku berusaha terus update buat kalian, visitor-visitorku.

Oh iya, aku mau menyampaikan permohonan maaf apabila ada keterlambatan update blog. Karena, aku menggunakan metode "buat cerita lalu posting". Bukan "buat cerita, buat cerita, buat cerita sampai banyak, baru posting".

Jadi, kujamin cerita yang kalian baca saat ini adalah cerita yang tentunya gress dan fresh #halahbahasanya.

Sekarang aku mau menceritakan jalan pembuatan "Horror Time" mulai dari act 1 sampai act 6. Selama menulis cerita.. ada banyak inspirasi, tapi kebanyakan inspirasi itu macet(?) Alias nggak bisa dikembangkan. Jadi stuck di situ situ aja, itulah yang bikin lama updatenya. Oke, yok kita bahas satu satu! :)

Act 1 : ~Keitai Denwa~ (Riddle)

Mungkin kalian ada yang pernah membaca riddle yang setipe dengan ini sebelumnya. Soalnya, sewaktu membuat riddle ini, aku terinspirasi dengan cerita riddle yang jawabannya ada di setiap kata pertama di kalimat si penelepon. 

Berarti, "si penelepon" yang kita maksud di sini adalah "Rima". Kalimat Rima adalah :

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Aku ingin bertanya soal tugas biologi besok... Apa saja yang harus kubawa?"
"Membunuh hewan-hewan tidak berdosa itu adalah hal yang buruk! Kurasa aku tidak akan membawa hewan apapun.. Aku tidak tega pada mereka. Lagipula, mereka hanya makhluk kecil yang lemah.."
"Dirimu selalu saja khawatir soal nilai... Hahaha, tenang saja! Besok aku tidak akan mendapatkan nilai F kok!"
"Malam? Oohh sekarang sudah malam ya? Ahahaha, maafkan aku, aku tidak sadar kalau sekarang sudah malam.."
"Ini sudah larut malam, kurasa aku harus segera tidur... Ngomong-ngomong, aku suka panggilan seperti itu.. Ahahaha, ya sudah, kalau begitu... Selamat malam, mimpi indah ya!"


Kita ambil setiap kata pertama dari kalimatnya. Maka, pesan tersembunyi yang ingin dikatakan Rima adalah...
"Bolehkah aku membunuh dirimu malam ini?"

Act 2 : ~Suki Suki Suki~ (Riddle)

Judul riddle ini kuambil dari lagu theater AKB48, dari setlist "Theater no Megami". By the way, ada yang mengerti maksud riddle ini? Yaa, kuakui aku bikin riddle ini agak buru-buru, dan mungkin ada beberapa yang kurang jelas.

Jadi, si aku ini awalnya memang teman sekelas Takumi. Ia selalu menyukai Takumi secara diam-diam dan tidak akan membiarkan siapapun berpacaran dengan Takumi. Sampai suatu hari, si aku meninggal karena kecelakaan. Arwahnya tidak bisa tenang dan terus mengikuti Takumi kemana pun ia pergi. Makanya, si aku ini tahu kebiasaan-kebiasaan Takumi. 

Lalu, saat Takumi pergi ke toilet sekolah, si aku tetap mengikutinya. Saat bercermin, Takumi menyadari ada refleksi hantu di belakangnya. Ia tahu kalau itu adalah hantu si aku yang selalu menyukainya. Makanya ia kaget dan segera keluar dari kamar mandi. Takumi mengira kalau hantu si aku ini akan pergi apabila Takumi berpacaran dengan gadis lain, tapi si aku malah terbakar cemburu. Si aku hendak mengajak Takumi ke dunianya (dunia gaib), akhirnya si aku membunuh Takumi, karena ia ingin Takumi menjadi miliknya seorang.

Act 3 : ~Ii no Classmate~ (Short Scary Story)

Cerita ini udah pernah kupublish di group LINE-ku. Tapi, baru beberapa orang saja yang mengetahui. Jadi, aku juga mempostingnya di blogku ini. Tak ada makna tersirat dari cerita ini. Semuanya sudah jelas.

Shella sangat ingin membuat si aku menderita, dan ia akan melakukan cara apapun. Awalnya ia melakukan bullying, tapi rupanya si aku masih memilih untuk bertahan dan tetap bersekolah. Karena usahanya tidak membuahkan hasil, Shella memilih untuk berpura-pura meminta maaf pada si aku, padahal ia ingin mendorongnya agar si aku segera mati.

Jangan ditiru ya, teman-teman~

Act 4 : ~Senpai~ (Riddle, Scary Story)

Ini juga sudah pernah kupublish di group LINE, bahkan aku pernah mengirim cerita ini ke sebuah Official Account bertema horor di LINE. Intinya, si aku bertemu dengan arwah kak Hiro. Kak Hiro dikenal sebagai pelajar baik dan berprestasi. Oleh karena itu ia tidak ingin menyulitkan si aku dalam pelajaran, dan ia berniat untuk membantu si aku agar tidak dapat remedial lagi. Enak ya, diajarin sama senpai ganteng berkacamata~ #akujugamaudong #plak

Act 5 : ~Tokubetsu no Me~ (Short Scary Story)

Sama seperti sebelumnya, ini sudah kupublish di group LINE. Tidak ada yang menyeramkan dengan cerita ini. Tapi bagian endingnya akan membuatmu bertanya-tanya. Apakah pernyataan itu benar atau tidak? Yaa... biarkan itu menjadi sebuah misteriii...

Act 6 : ~Hontou no Fan~ (Scary Story)

Kali ini, aku membuat cerita yang berbeda dengan yang biasanya. Biasanya, cerita horor identik dengan tempat-tempat angker, ritual tertentu, dan benda-benda yang dipercayai punya kekuatan khusus. Karena aku menyukai dunia peridolan, aku memutuskan untuk membuat cerita tentang idola dari sudut pandang fans.

Di dalam cerita, aku menyebutkan bahwa nama grup idolanya adalah EKB48, ini tentu saja bukan AKB48. Kuharap kalian tidak menduga yang aneh-aneh ya. Aku tidak memakai nama itu untuk menjatuhkan nama AKB atau 48group lainnya. Sebaliknya, aku justru menyukai AKB dan 48group lainnya. Kalau salah satu dari kalian ada yang ngefans juga dengan AKB/48group, kenalan yuk XD /plak.

Nama "Ishiyama Mion" kuambil dari nama tokoh di "Code Lyoko" yaitu Ishiyama Yumi. Dan dari nama member AKB48 Team K, Mukaichi Mion. Jadilah nama Ishiyama Mion.

Dalam cerita, si penggemar (aku) adalah seseorang yang amat mengidolakan Mion. Ia mengerahkan apa yang ia punya hanya untuk idolanya. Ingatkah kalian dengan kalimat "..idolaku lebih penting daripada pekerjaanku"?

Karena itulah, si aku ini juga sering kehilangan pekerjaannya. Ia menghabiskan waktunya untuk menggali informasi lebih dalam tentang idolanya. Bahkan, si aku ini merupakan seorang stalker. Buktinya, tahu kehidupan pribadi Mion. Saat si aku melamar Mion di event handshake, dan hasilnya ditolak mentah-mentah, tentu saja ia kecewa. Ia tidak berniat untuk membalas dendam, ia hanya ingin bersama Mion, baik itu dalam keadaan hidup ataupun mati. Di akhir cerita, dikatakan bahwa si aku menikahi Mion (yang sudah menjadi mayat), berarti si aku ini punya kecenderungan nekrofilia, yaitu kelainan kejiwaan menikahi orang yang sudah meninggal.

Yak, itulah beberapa behind the post beserta penjelasan dan jawaban dari "Horror Time" Act 1 - Act 6. Kalau masih ada yang belum jelas, atau ingin berkomentar, silakan~ Kolom komentar tersedia di bawah~

Sekian post dariku untuk kali ini!
Nantikan "Horror Time" Act selanjutnya!

Rabu, 25 November 2015

Horror Time - Act 6 : ~Hontou no Fan~ (Penggemar yang Sesungguhnya)

By : Ichinisasha - 2015


Hari ini aku melihat idolaku tampil live di sebuah acara musik di televisi. Sebagai penggemar berat, tentu saja aku datang menyaksikan mereka dan memberi dukungan. Idolaku lebih penting dari pekerjaanku. Lagipula, aku juga sudah sering dipecat karena jarang masuk kantor.

Dari anggota lainnya, hanya member kesukaankulah yang terlihat paling bersinar di mataku. Dialah oshiku, Ishiyama Mion, dia adalah member dari idol group nomor satu di Jepang, EKB48.

Kono mune ga kyun~ kyun~ shite
Hontouni daisuki dayo
Watashi no ichiban daisuki na hito wa
Anata dake yo!

Aku sangat menyukai single terbaru mereka, "Kono Koi wa Kyun Kyun Shite". Aku merasa bahwa lirik itu amat cocok bagiku. Aku menyukai Mion-chan lebih dari fans lainnya, lebih dari sahabat-sahabatnya, bahkan, mungkin rasa sayangku pada Mion-chan lebih tinggi dari orangtua Mion-chan sendiri.

--------------------------------------------

Hari ini akan diadakan event handshake dengan member EKB48. Aku sudah membeli banyak tiket untuk bersalaman dengan Mion-chan. Aku bertekad untuk melamarnya di biliknya nanti. Semoga aku sukses!

Aku segera memberikan seluruh tiketku pada staf yang ada di bilik Mion-chan. Kemudian ia mengatur stopwatchnya dan mulai mempersilakanku untuk masuk ke bilik dan berinteraksi dengan Mion-chan.

Aku masuk ke bilik dan Mion-chan tersenyum ramah sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.

"Hai, kak!" Mion-chan mulai menjabat tanganku.

"Hai, Mion-chan! Ini aku. Apa kau masih ingat?" Kataku dengan suara agak gugup.

"Ya! Tentu saja aku ingat! Kakak yang sering ke theater itu kan?"

Aku mengangguk, senang rasanya bisa ngobrol dengan idolaku. Tapi aku baru teringat tujuan awalku untuk melamar Mion-chan.

"Umm.. Mion-chan..."

"Iyaa kak?"

Aku melepas tanganku dari tangan Mion-chan dan mengambil sebuah kotak kecil berisi cincin yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Aku berlutut dan menyodorkan kotak cincin itu pada Mion-chan.

"M-Mion-chan! Menikahlah denganku!" Kataku mantap. Walaupun jantungku berdegup kencang, tapi aku berhasil mengatakannya dengan jelas.

Raut wajah Mion-chan seketika berubah menjadi tatapan jijik. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke arah staf yang menjaga biliknya. Matanya seakan-akan berkata "Bisakah kau tarik orang ini ke luar?". Tapi staf tidak menghiraukannya.

"M-mana mungkin aku akan menikahimu!" Balas Mion-chan galak. Auranya berbeda 180 derajat dengan yang tadi, 

"L-lagipula, aku baru 18 tahun! Dan aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria seperti kamu! Sampai mati pun aku tidak akan mau!!" Tambahnya ketus, lalu ia membuang muka.

Aku memegang tangan Mion-chan dan menariknya kuat-kuat. Tapi Mion-chan terus berontak untuk melepaskan dirinya dari aku.

"KAU HARUS MENIKAH DENGANKU... MION-CHAN, AKU AMAT MENYUKAIMU, KAU TAHU?" Aku mendekatinya dan menatap dalam ke matanya. Lalu kusunggingkan sebuah senyuman memelas.

"KYAAAAAAHHH!!!" Mion-chan berteriak, "PERGI KAMU DARI SINIII! SIAPAPUN, KUMOHON USIR DIA!! AKU TAKUUUTTT!!"

--------------------------------------------

Aku tak ingat apa-apa setelah itu. Yang aku tahu, aku ditarik keluar secara paksa dari bilik Mion-chan dan aku kena blacklist dari manajemen EKB48. Aku amat kecewa dengan Mion-chan.

Dasar Ishiyama Mion! Si idola busuk! Ia hanya bertingkah baik karena itu adalah pekerjaan, dibalik itu, ia menganggap rendah penggemarnya.

2 minggu setelah event handshake, Mion-chan mengumumkan kelulusannya dari EKB48. Manajernya mengatakan bahwa Mion-chan akan fokus untuk studinya, tapi aku tak percaya. Aku tahu Mion-chan memilih untuk lulus agar aku tidak bisa menemuinya lagi.

 Dasar idola bodoh... Aku ini mantan penggemarmu, kau tahu? Aku tahu semua tentangmu. Aku tahu dimana kau bersekolah, aku tahu kapan kau makan siang, aku dimana rumahmu, dan aku tahu apa warna pakaian tidurmu.

Jadi, malam ini aku berencana untuk menghampiri Mion-chan di rumahnya. Mion-chan tinggal seorang diri di mansion. Ya, kamar nomor 502 akan menjadi saksi atas perbuatan yang kulakukan terhadapnya nanti. Aku bersiap untuk menjalankan rencanaku.

--------------------------------------------

"Halo, Reika? Iyaa, maafkan aku tidak memberitahumu terlebih dahulu tentang kelulusanku.."

"Kau berhenti jadi idol? Bukankah itu mimpimu?"

"Iya, sejujurnya.. Aku masih ingin menjadi idol"

"Lalu, kenapa kau berhenti?"

"Tapi aku takut dengan orang yang ada di handshake event lalu.. Kau ingat?"

"Orang yang mana ya..?"

"Loohh?! Aku belum cerita padamu ya?"

"Belum... Makanya, kamu cerita dong!"

"Ya sudah, datang ke rumahku ya. Aku ingin menceritakan semuanya padamu. Ya? Hmm... Oke, oke. Baiklah kalau begitu.. Oke, kutunggu ya, bye!"

TOK! TOK!

Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Mion meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah pintu. Mion meraih gagang pintu dan membuka pintunya.

"Reika? Cepat sekali kau da-KYAAAAHHHH!!!!"

--------------------------------------------

TOK! TOK!

"Reika? Cepat sekali kau da-KYAAAAHHHH!!!!"

Aku berdiri di depan pintu kamar Mion-chan sambil memegang pisau daging dan menyunggingkan senyuman kemenangan. Sementara itu, Mion-chan membanting pintu dan segera menjauh dariku. Aku membuka pintu yang tak terkunci itu dan masuk ke kamarnya. Hmm, kamar ini benar-benar dipenuhi oleh aroma Mion-chan. Tak lupa, aku mengunci pintu agar Mion-chan tak bisa melarikan diri dariku.

"Tolong aku.. t-tttolong aku.. k-kumohon.. a-aaku sudah bukan idola lagi sekarang... T-tttolong biarkan aku menjalani kehidupanku sebagai orang biasa.." Kata Mion-chan dengan nada bergetar sambil memeluk lutut di pojok dinding.

Tak kusangkan Mion-chan begitu kaget karena kehadiranku, namun aku harus membuatnya tetap tenang agar aku tidak ketahuan orang lain.

"Mion-chan..." Kataku dengan nada yang kubuat-buat, seolah-olah terdengar seram, "Aku sudah bilang kalau aku akan menikah denganmu kan.."

"Tidaaakkkhh..!! Aku tidak ingin menikah dengan--"

"Ow ow ow, jangan tsundere begitu, aku tahu kau menginginkannya..." Aku mengambil sehelai kain yang telah kusiapkan di tasku dan mulai mengikatkannya ke mulut Mion-chan, agar ia tidak bisa bersuara. Lalu, kuperintahkan Mion-chan untuk duduk di kursi makan, dan kuikat dengan ia dengan tali. 

"Hmmfftt...!! Hmmfftt...!!" Mion-chan seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia tak bisa mengatakannya dengan jelas. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya, matanya terlihat sembab.

Aku melihat wajah Mion-chan dari dekat, "Wajahmu yang sedang menangis... aku suka..." 

"Hmmpphh!! Hmmbbffhh!! Mmffh!!"

Aku mencium kening Mion-chan yang tertutup poni, "Teruslah menangis lebih deras lagi, Mion-chan! Media belum pernah meliputmu saat kau sedang menangis, dan ternyata wajah menangismu sangat manis!"

Mion-chan menangis lagi, kali ini ia sampai sesenggukkan, "Hmmhmmfftt.... Mmfffhh... Mbbhhh!!"

Aku mengambil pisau kecil dari dalam tasku. Kupegang seluruh helai rambut Mion-chan yang tergerai panjang.

"Aku bosan melihatmu dengan model rambut seperti ini... Ah, aku tahu! Aku akan memotongnya! Boleh kan, Mion-chan?" 

Mion-chan hanya bisa menangis. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tak terima dengan perbuatanku.

"JANGAN MEMANDANGKU DENGAN TATAPAN SEPERTI ITU!!!" 

SRET!!

"Uuukkhhh!!"

Aku memotong rambut Mion-chan. Kini, rambutnya tinggal seleher. Ada luka gores di leher Mion-chan akibat perbuatanku tadi.

"Maaf, Mion-chan... Tadi saat aku memotong rambutmu, lehermu ikut tergores juga.." Kataku sembari mengelus-ngelus kepalanya.

"Kalau begitu, sekalian saja kugores yang lainnya ya!" Kataku bersemangat. Mion-chan menunjukkan ekspresi kaget, matanya seolah olah mengatakan "Jangan! Kumohon, hentikan!" Tapi aku tak peduli~

Aku mulai menggores pipi Mion-chan yang tak tertutup oleh kain. Selanjutnya, aku menuliskan kanji "suka" di lengan kanannya. Aku beralih ke daerah dada. Rasanya aku ingin sekali menggores bagian itu juga. Aku bertanya-tanya.. apakah ada silikon di dalamnya?

Tapi kukurungkan niatku itu. Kurasa aku tak perlu melakukan itu. Toh, aku sekarang sedang menjadikan Mion-chan sebagai mainanku yang bisa kulukai sampai mati. 

Aku menggores bagian tubuh Mion-chan yang lain. Betis, kaki, dan paha, semuanya tak luput dari goresannya. Semua bagian tubuh Mion-chan yang kugores, mengeluarkan darah. Sampai-sampai aku lupa, rupanya aku membuat kesalahan. Aku membuat goresan yang cukup dalam yang mengenai pembuluh arteri di pergelangan tangannya. Seketika itu, darah memancar kemana-mana. Ini artinya, aku tidak bisa melukai Mion-chan lagi, karena ia akan segera mati.

Mion-chan terbatuk-batuk. Sepertinya masa bermainku akan segera berakhir. Dia mulai sekarat. Beberapa menit berlalu, dan ia tidak menunjukan respon apapun lagi. Yaah, Mion-chan sudah mati! 

Tapi tunggu dulu...
Bukannya dia pernah bilang "...aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria seperti kamu! Sampai mati pun aku tidak akan mau!"

Mana bukti ucapanmu itu, Mion-chan? Sekarang kau sudah mati dan sebentar lagi, kau akan kujadikan istriku. Akhirnya, kini kita bisa hidup bersama. Aku amat menyukaimu, Mion-chan. Aku adalah penggemar beratmu, makanya aku melakukan hal ini. Kuharap kau menyukainya.

Karena.. hanya Mion-chan lah satu satunya idola yang kusukai...

Senin, 23 November 2015

Horror Time - Act 5 : ~Tokubetsu no Me~ (Mata yang Spesial)

By : Ichinisasha - 2015



Hai! Namaku Nana. Aku sangat suka hal-hal yang berbau horor ataupun misteri. Aku selalu menghabiskan waktuku dengan membaca blog-blog horor atau postingan horor di timeline LINEku. Intinya, aku adalah penggemar cerita horor.

Tapi, walau aku bilang begitu, sebenarnya aku ini cukup penakut juga. Aku penasaran dengan isi cerita horor yang kubaca, tapi setiap kubaca, aku selalu takut untuk pergi ke toilet, atau kadang aku bisa terjaga semalaman, dan baru tidur 2 jam sebel um subuh. Parah ya?

Cerita yang kutulis ini adalah salah satu dari pengalamanku...

Saat itu, aku sedang sendirian di rumah. Karena bosan dan tidak punya kegiatan untuk dilakukan, aku menyalakan televisi dan  mengganti-ganti channelnya. Hmm, tidak ada yang bagus. Tapi aku mempertahankan tvku dalam keadaan menyala. Palimg tidak, rumahku tidak terlalu 'sepi'. Disamping menyalakan tv, aku juga menyalakan laptopku dan memainkan game favoritku, sebuah game simulasi virtual yang kunamai karakternya dengan namaku sendiri.

Sambil menunggu loadimg dari game itu, aku mengalihkan pandanganku. Iseng-iseng, kujelajahi seisi ruangan dengan mataku.

ZRET!

Ya ampun! Apa yang barusan tadi?!  Aku melihat sesosok bayangan hitam  yang kira-kira setinggi manusia di sudut ruangan. Aku mencoba mengatur detak jantungku, kuhirup udara sebanyak-banyaknya. Aku berusaha menenangkan diriku. Ya, selama ini aku tertarik pada horor karena aku bukan seorang indigo, dan sejak kecil aku tidak punya mata yang bisa 'melihat' makhluk-makhluk seperti itu.

Itu adalah permulaan dari apa yang kurasakan hingga saat ini. Sejak itu, aku jadi sering merasakan ada sesuatu yang menatapku, dimana pun itu. Dan juga munculnya bayangam-bayangan hitam yang sekilas, lalu segera menghilang. Kukira ini hanya perasaanku, atau mungkin imajinasiku saja. Tapi tidak, ini adalah kenyataannya.

------


Kalian pikir ini adalah akhir dari ceritanya?
Tak ada yang seram dengan cerita ini?
Ya, memang tak ada yang seram, sampai kalian mengetahui ini..

Semakin sering kau membaca post post ataupun sesuatu yang berbau horor, itu akan meningkatkan kepekaanmu terhadap mahluk-makhluk itu. Dan satu lagi, kau telah mengetahui hal ini, jadi.. bersiaplah! Mungkin kau juga akan segera mempunyai mata yang bisa 'melihat' sepertiku :)

Horror Time - Act 4 : ~Senpai~ (Kakak Kelas)

By : Ichinisasha - 2015


Aku melangkah gontai menuju perpustakaan. Huft, perpustakaan sekolah adalah tempat yang paling tidak ingin kudatangi! Buku-buku tebal yang berdebu tampak begitu membosankan di mataku. Aku bahkan pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku takkan pernah pergi ke tempat itu lagi.

Yaah, tapi apa boleh buat... Hari ini mendapat masalah. Nilai ulangan fisikaku jauh di bawah kkm dan Bu Ima, sang guru killer itu memintaku mengikuti remedial di perpustakaan. Sialnya lagi, hanya aku seorang yang harus mengikuti remed. Ah, keberuntungan memang tak pernah berpihak padaku!

Sesampainya di perpustakaan, mataku tak menangkap satu pun sosok manusia. Yang kulihat hanyalah buku tua membosankan yang ada di rak. Argh! Kemana sih guru itu? Jangan-jangan, ia hanya ingin mengerjaiku?! Akhirnya kuputuskan untuk berkeliling dan aku menemukan seseorang yang sedang duduk sambil membaca buku.

Aku memandangnya dari tempatku berdiri saat ini. Cukup jauh memang, tapi aku bahagia melihat sosoknya. Ia begitu keren dan menawan. Rambutnya berjambul dan kacamata bingkai hitamnya berhasil membuatku terpesona. Tak lama, ia merasakan kehadiranku. Aku ditatap oleh matanya, "Hai, namamu siapa? Sini, sini! Nggak perlu jauh-jauh begitu.."

Aku mendekat padanya dan memberitahukan nama dan kelas asalku, dan juga keperluanku datang ke perpustakaan ini.

"Perkenalkan, namaku Ichimoto Hiro. Kelas XI-3, salam kenal ya!" Katanya ramah sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih cemerlang. Rupanya dia adalah kakak kelasku, pantas aku tak familiar dengannya.. Maklum, kelas XI berada di lantai 2, sedangkan kelasku di lantai 1.

Waktu berlalu begitu saja. Setelah perkenalan kami yang cukup singkat, kami mulai membuka obrolan yang lebih jauh lagi. Bahkan, kak Hiro mengajariku fisika. Karena aku mengatakan padanya bahwa aku akan mengikuti remedial fisika. Ia juga menepuk kepalaku dan memberiku semangat. Ah, kurasa aku jatuh cinta padanya. Aku bertekad akan mengutarakan perasaanku ini, tapi tak mungkin kukatakan dalam waktu dekat. Lagipula aku belum terlalu dekat dengan kak Hiro.

KRIEETTT...

Pintu perpustakaan dibuka dari luar, muncullah sesosok perempuan setengah baya yang menatapku dengan tatapan lesu. Ya, ia adalah Bu Ima. Hmm, namun agak aneh rasanya. Biasanya beliau muncul dengan aura killernya, tapi sekarang kok malah lesu begitu ya?

"Oh, Nak.. rupanya kamu sudah di sini.. Tadi Ibu baru saja menjenguk siswa kelas XI yang mengalami kecelakaan pagi tadi.. jadi Ibu terlambat datang ke sini.. maaf ya.."

Aku menggeleng, "Tidak apa-apa kok,  Bu.."

"Kamu sendirian, Nak?" Kata Bu Ima sambil menulis soal remedial

"Enggak Bu, saya ditemenin kak Hiro..." tanganku menyiapkan pensil dan pulpen untuk menjawab soal.

Bu Ima berhenti menulis, "Hiro?! Hiro siapa?!" Tanyanya dengan nada panik.

"Hiro... Ichimoto Hiro dari kelas XI-3!" Jawabku sekenanya.

Mata Bu Ima terbelalak. Ia mencoba mengatur nafasnya. Aku menanyakan pada beliau apa yang terjadi, dan beliau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Detak jantungku berhenti untuk sejenak, tidak mungkin! Pasti tidak mungkin! Yang diceritakan Bu Ima itu bohooonggg! Aku tidak percaya padanya! 
Karena barusan... kak Hiro tampak nyata bagiku!

Horror Time - Act 3 : ~Ii no Classmate~ (Teman Sekelas yang Baik)

By : Ichinisasha - 2015



Kulangkahkan kakiku mendekati tepi atap sekolah. Perasaan bimbang dan resah terus menghantui pikiranku. Aku ingin kehidupanku yang suram ini berakhir, tapi di satu sisi aku juga takut bunuh diri.

Aku menghentikan langkahku. Aku masih berdiri di pinggir atap sekolahku. Kuambil nafas sedalam-dalamnya, dan berusaha untuk berpikir jernih. Benarkah apa yang kulakukan ini? Aku tahu, bunuh diri itu tak akan menyelesaikan semua masalahku, tapi kali ini... aku sudah benar-benar tidak tahan!

Aku adalah seorang murid SMA yang menjadi korban bullying sejak 2 tahun yang lalu, dan itu masih terus terjadi hingga sekarang. Aku benar-benar tidak kuat atas kelakuan kasar mereka kepadaku. Tak pernah ada hari dimana aku pulang ke rumah tanpa membawa luka baru. Luka gores, melepuh, ataupun luka bakar, semuanya pernah kudapatkan. Parah bukan?

Kuletakkan sepasang sepatuku rapi di lantai. Kupejamkan mataku sambil mengingat kembali memori memilukan yang kualami selama 2 tahun ini. Kurentangkan kedua  tanganku dan kubulatkan tekadku. Aku baru saja ingin mencondongkan tubuhku ke depan, tapi aku merasakan lengan kiriku ditarik dari belakang. Spontan, aku segera memutar badanku.

"Hei! Apa kau gila?! Barusan kau mau bunuh diri?!" Suara itu terdengar cempreng dan lebay bagiku. Shella- pemilik suara itu, ia adalah ketua geng yang selalu menindasku.

Kutatap ia dengan pandangan penuh kebencian. Tapi aneh, raut wajahnya kali ini tak terlihat licik dan egois, melainkan ia sedang memandangku dengan tatapan menyesal. Aku masih tak bergeming. "Apa mau anak ini sih? Kalau aku hidup, aku dibully. Aku mau mati pun malah dicegah-cegah!" Aku membatin penuh kekesalan.

"M-maafkan aku..." katanya sambil menitikkan air mata dari mata kanannya, "Aku.. aku..."

Aku tak merespon ucapannya. Tapi ia mengulurkan tangan kanannya padaku, seolah olah ingin menjabat tanganku dan meminta maaf. Aku sempat curiga, kenapa ia hanya datang sendirian? Mana anak anak alay anggota geng lainnya? Mana Prischa, Alline, Catherine, Sandy, dan Florence?

Stella semakin menangis menjadi-jadi. Kurasa itu bukan akting. Air matanya menetes dengan derasnya-membuat matanya terlihat sembab. Ia masih mengulurkan tangan kanannya padaku. Ya, ia ingin meminta maaf. Dan aku tahu dia tulus kali ini.

Karena itu, aku mencoba meraih tangannya dengan tangan kananku. Tapi, belum berhasil aku meraihnya, ia justru menjauhkan mengarahkan tangannya tepat di depan dadaku dan mendorongku dengan keras hingga terjatuh dari atap.

"AKU BENCI KAU, SHELLAAAAAA!!" itulah kalimat terakhir yang dapat kuteriakan sebelum mencapai tanah. Setelah itu, aku tak ingat apapun. Aku hanya melihat cahaya putih yang amat menyilaukan. Ah, memang tak seharusnya tak mudah percaya dengan orang lain!

-----------

Shella menyeka air mata  yang mengalir di pipinya. "Maaf, aku..."












"Maaf aku... bohong!" Katanya diiringi dengan tawa jahat. "Tak akan kusia-siakan kesempatan tadi... aku kan suka membuatmu menderita... Ahahahaha.." kemudian ia melipat kedua lengannya di depan dada dan meninggalkan atap sekolah.

Horror Time - Act 2 : ~Suki Suki Suki~ (Suka Suka Suka)

By : Ichinisasha - 2015



7 Juli

Suka, suka, suka

Kata itulah yang selalu muncul dalam kepala bila aku membayangkan dirimu. Aku sungguh menyukaimu. Aku suka hobimu, gerak-gerikmu, bahkan aku juga menyukai setiap pergerakan kecil yang kau buat ketika kau sedang tertidur. Mungkin rasanya aku berlebihan, tapi memang beginilah caraku untuk menyukai seseorang.

24 Agustus

Suka, suka, suka

Aku lupa mengatakan padamu bahwa namanya adalah Takumi, dia itu teman sekelasku. Walau aku selalu berada bersamanya, tapi aku tak pernah bicara padanya. Aku terlalu malu dan gugup bila aku harus menyapanya duluan. Untungnya, sampai sekarang ia belum punya pacar. Kalau ia sudah punya pacar, aku pasti akan sangat terluka.

13 September

Suka, suka, suka

Hari ini kulihat Takumi sedang menata rambutnya di depan cermin di toilet sekolah. Aku mengintipnya dari belakang. Aaaa! Dia benar-benar manis! Tapi ia menyadari refleksi diriku yang terpantul di cermin. Seketika itu, Takumi langsung memasang wajah ketakutan dan segera pergi dari toilet. Ada apa, Takumi? Kenapa kamu begitu takut denganku? Apa kau membenciku?

27 Oktober

Benci, benci, benci

Aku benci Takumi! Aku benci! Aku benci! Lebih baik Takumi mati saja daripada harus pacaran dengan gadis itu! Aku tidak ingin Takumi direbut siapapun! TAKUMI ITU MILIKKU! TAKUMI TIDAK BOLEH DIMILIKI SIAPAPUN SELAIN AKU!

31 Oktober

Hari ini halloween. Pasti mudah bagiku untuk mencapai dunia manusia. Aku akan membawa Takumi ke duniaku, agar dia bisa menjadi milikku selamanya. Tapi, duniaku berbeda dengan dunia Takumi. Kalau aku membawanya ke duniaku, itu artinya sama saja dengan membunuhnya. Ah, tapi aku tak peduli. Akhirnya, setelah sekian lama, Takumi dan aku akan menjadi "kita" :)

Horror Time - Act 1 : ~Keitai Denwa~ (Ponsel)

By : Ichinisasha - 2015



RRRRRR...
RRRRRR...

Segera kuraih telepon genggamku yang bergetar di meja. Rupanya ada panggilan masuk. "Rima", begitu tulisannya di layar hpku. Ah, dasar pengganggu! Aku baru saja memasuki alam mimpi, dan dia malah mengganggu tidurku! Rima adalah teman sekelasku yang amat sangat kubenci. Dia selalu berpura-pura baik padaku, padahal ia sering mentertawakanku di belakang. Selain itu, ia terkenal di sekolah karena image "cabe"nya. Sial bagiku, aku harus menjadi partner tugasnya.

"Kenapa sih menelpon malam malam begini?" Keluhku kesal.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Aku mendengus kesal, "Ya sudah, tanyakan saja sekarang!"

"Aku ingin bertanya soal tugas biologi besok... Apa saja yang harus kubawa?"

Aku mendecakkan lidah, "Bawa saja tikus putih, ikan, atau katak! Atau hewan kecil apa saja untuk objek percobaan pembedahan besok." Balasku dengan nada bete. 

Bisa-bisanya dia baru menanyakan pembagian tugas kelompok pada saat tengah malam begini! Huh!

"Membunuh hewan-hewan tidak berdosa itu adalah hal yang buruk! Kurasa aku tidak akan membawa hewan apapun.. Aku tidak tega pada mereka. Lagipula, mereka hanya makhluk kecil yang lemah.."

"Terserah kau sajalah!" Kataku sambil membentak, "Kalau kau mendapat nilai F di pelajaran Bu Mary, jangan salahkan aku!"

"Dirimu selalu saja khawatir soal nilai... Hahaha, tenang saja! Besok aku tidak akan mendapatkan nilai F kok!" Katanya dari seberang telepon sambil tertawa.

"Yaaa, yaaaa itu urusanmu! Jangan pernah menelponku malam malam! Kau mengganggu tidurku, tahu! Dasar cabe!" Aku menghujatnya, aku cukup puas bisa mengatakan kalimat seperti itu pada orang yang kubenci.

"Malam? Oohh sekarang sudah malam ya? Ahahaha, maafkan aku, aku tidak sadar kalau sekarang sudah malam.." Katanya sambil tertawa lagi. Aku benci mendengar tawanya. Lagipula, sekarang sudah tengah malam, dan ia bersikap seolah orang lemot nan bodoh, pura-pura menanyakan "sudah malam ya?". Ish, dasar cabe itu!

"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, akan kututup teleponnya. Selamat tidur, cabe..." kataku dengan nada mengejek.

"Ini sudah larut malam, kurasa aku harus segera tidur... Ngomong-ngomong, aku suka panggilan seperti itu.. Ahahaha, ya sudah, kalau begitu... Selamat malam, mimpi indah ya!"

Lalu ia mengakhiri panggilannya.
Dan aku baru menyadari kalau ada sesuatu yang salah. 
Aku pun menyesali perbuatanku.

"Horror Time" Collection

Halo, semuanya! Di post keduaku, aku ingin menjelaskan sesuatu. Jadi, dalam waktu dekat ini, aku ingin posting tentang "Horror Time" Collection.

Apa itu "Horror Time" Collection?

"Horror Time" adalah sebuah serial cerita fiksi yang asli dan original buatanku sendiri. Dalam "Horror Time" ini akan ada urban legend, riddle, scary story, atau bahkan yang lain-lainnya. Cerita ini akan ada banyak, tapi aku belum bisa janji, apakah sering update atau tidak.


"Horror Time" itu cerita bersambung?

Enggak, "Horror Time" itu bukan cerita bersambung. Ini hanya sebuah kumpulan-kumpulan cerita. Ibaratkan suatu buku yang berisikan cerpen-cerpen, tentu saja antar ceritanya tidak mempunyai keterkaitan satu sama lain, bukan?


"Masih belum ngerti nih! Jelasin lagi dong!"

Hmm, daripada dijelasin panjang lebar, lebih baik kalian pantengin blog ini aja terus :) Stay di blog aku ya! Aku akan segera mengepost ceritanya di sini.

Sekian dulu tentang "Horror Time"!
Semoga malam kalian dipenuhi oleh ketegangan!

Hajimemashite!

"Hajimemashite"

Itulah kata yang tepat untuk post pertama di blog ini. Perkenalkan, namaku Sasha, dan ini adalah blog pribadiku yang baru saja ku buat. Blog ini akan berisi macam-macam hal kesukaanku, dari ngidol, anime, creepypasta, fanfic, dan hal-hal lain yang bisa dibilang cukup... random...

Semoga blog ini bisa bermanfaat bagi kita semua ^^
Ehehehe... Mohon dukungannya ya!