By : Ichinisasha - 2015
Kulangkahkan
kakiku mendekati tepi atap sekolah. Perasaan bimbang dan resah terus
menghantui pikiranku. Aku ingin kehidupanku yang suram ini berakhir,
tapi di satu sisi aku juga takut bunuh diri.
Aku menghentikan langkahku. Aku masih berdiri di pinggir atap sekolahku. Kuambil nafas sedalam-dalamnya, dan berusaha untuk berpikir jernih. Benarkah apa yang kulakukan ini? Aku tahu, bunuh diri itu tak akan menyelesaikan semua masalahku, tapi kali ini... aku sudah benar-benar tidak tahan!
Aku adalah seorang murid SMA yang menjadi korban bullying sejak 2 tahun yang lalu, dan itu masih terus terjadi hingga sekarang. Aku benar-benar tidak kuat atas kelakuan kasar mereka kepadaku. Tak pernah ada hari dimana aku pulang ke rumah tanpa membawa luka baru. Luka gores, melepuh, ataupun luka bakar, semuanya pernah kudapatkan. Parah bukan?
Kuletakkan sepasang sepatuku rapi di lantai. Kupejamkan mataku sambil mengingat kembali memori memilukan yang kualami selama 2 tahun ini. Kurentangkan kedua tanganku dan kubulatkan tekadku. Aku baru saja ingin mencondongkan tubuhku ke depan, tapi aku merasakan lengan kiriku ditarik dari belakang. Spontan, aku segera memutar badanku.
"Hei! Apa kau gila?! Barusan kau mau bunuh diri?!" Suara itu terdengar cempreng dan lebay bagiku. Shella- pemilik suara itu, ia adalah ketua geng yang selalu menindasku.
Kutatap ia dengan pandangan penuh kebencian. Tapi aneh, raut wajahnya kali ini tak terlihat licik dan egois, melainkan ia sedang memandangku dengan tatapan menyesal. Aku masih tak bergeming. "Apa mau anak ini sih? Kalau aku hidup, aku dibully. Aku mau mati pun malah dicegah-cegah!" Aku membatin penuh kekesalan.
"M-maafkan aku..." katanya sambil menitikkan air mata dari mata kanannya, "Aku.. aku..."
Aku tak merespon ucapannya. Tapi ia mengulurkan tangan kanannya padaku, seolah olah ingin menjabat tanganku dan meminta maaf. Aku sempat curiga, kenapa ia hanya datang sendirian? Mana anak anak alay anggota geng lainnya? Mana Prischa, Alline, Catherine, Sandy, dan Florence?
Stella semakin menangis menjadi-jadi. Kurasa itu bukan akting. Air matanya menetes dengan derasnya-membuat matanya terlihat sembab. Ia masih mengulurkan tangan kanannya padaku. Ya, ia ingin meminta maaf. Dan aku tahu dia tulus kali ini.
Karena itu, aku mencoba meraih tangannya dengan tangan kananku. Tapi, belum berhasil aku meraihnya, ia justru menjauhkan mengarahkan tangannya tepat di depan dadaku dan mendorongku dengan keras hingga terjatuh dari atap.
"AKU BENCI KAU, SHELLAAAAAA!!" itulah kalimat terakhir yang dapat kuteriakan sebelum mencapai tanah. Setelah itu, aku tak ingat apapun. Aku hanya melihat cahaya putih yang amat menyilaukan. Ah, memang tak seharusnya tak mudah percaya dengan orang lain!
-----------
Shella menyeka air mata yang mengalir di pipinya. "Maaf, aku..."
"Maaf aku... bohong!" Katanya diiringi dengan tawa jahat. "Tak akan kusia-siakan kesempatan tadi... aku kan suka membuatmu menderita... Ahahahaha.." kemudian ia melipat kedua lengannya di depan dada dan meninggalkan atap sekolah.
Aku menghentikan langkahku. Aku masih berdiri di pinggir atap sekolahku. Kuambil nafas sedalam-dalamnya, dan berusaha untuk berpikir jernih. Benarkah apa yang kulakukan ini? Aku tahu, bunuh diri itu tak akan menyelesaikan semua masalahku, tapi kali ini... aku sudah benar-benar tidak tahan!
Aku adalah seorang murid SMA yang menjadi korban bullying sejak 2 tahun yang lalu, dan itu masih terus terjadi hingga sekarang. Aku benar-benar tidak kuat atas kelakuan kasar mereka kepadaku. Tak pernah ada hari dimana aku pulang ke rumah tanpa membawa luka baru. Luka gores, melepuh, ataupun luka bakar, semuanya pernah kudapatkan. Parah bukan?
Kuletakkan sepasang sepatuku rapi di lantai. Kupejamkan mataku sambil mengingat kembali memori memilukan yang kualami selama 2 tahun ini. Kurentangkan kedua tanganku dan kubulatkan tekadku. Aku baru saja ingin mencondongkan tubuhku ke depan, tapi aku merasakan lengan kiriku ditarik dari belakang. Spontan, aku segera memutar badanku.
"Hei! Apa kau gila?! Barusan kau mau bunuh diri?!" Suara itu terdengar cempreng dan lebay bagiku. Shella- pemilik suara itu, ia adalah ketua geng yang selalu menindasku.
Kutatap ia dengan pandangan penuh kebencian. Tapi aneh, raut wajahnya kali ini tak terlihat licik dan egois, melainkan ia sedang memandangku dengan tatapan menyesal. Aku masih tak bergeming. "Apa mau anak ini sih? Kalau aku hidup, aku dibully. Aku mau mati pun malah dicegah-cegah!" Aku membatin penuh kekesalan.
"M-maafkan aku..." katanya sambil menitikkan air mata dari mata kanannya, "Aku.. aku..."
Aku tak merespon ucapannya. Tapi ia mengulurkan tangan kanannya padaku, seolah olah ingin menjabat tanganku dan meminta maaf. Aku sempat curiga, kenapa ia hanya datang sendirian? Mana anak anak alay anggota geng lainnya? Mana Prischa, Alline, Catherine, Sandy, dan Florence?
Stella semakin menangis menjadi-jadi. Kurasa itu bukan akting. Air matanya menetes dengan derasnya-membuat matanya terlihat sembab. Ia masih mengulurkan tangan kanannya padaku. Ya, ia ingin meminta maaf. Dan aku tahu dia tulus kali ini.
Karena itu, aku mencoba meraih tangannya dengan tangan kananku. Tapi, belum berhasil aku meraihnya, ia justru menjauhkan mengarahkan tangannya tepat di depan dadaku dan mendorongku dengan keras hingga terjatuh dari atap.
"AKU BENCI KAU, SHELLAAAAAA!!" itulah kalimat terakhir yang dapat kuteriakan sebelum mencapai tanah. Setelah itu, aku tak ingat apapun. Aku hanya melihat cahaya putih yang amat menyilaukan. Ah, memang tak seharusnya tak mudah percaya dengan orang lain!
-----------
Shella menyeka air mata yang mengalir di pipinya. "Maaf, aku..."
"Maaf aku... bohong!" Katanya diiringi dengan tawa jahat. "Tak akan kusia-siakan kesempatan tadi... aku kan suka membuatmu menderita... Ahahahaha.." kemudian ia melipat kedua lengannya di depan dada dan meninggalkan atap sekolah.

Ini lawak sebnernya.. hahaha.. sumpah nyebelin bgt shella ╭(°ㅂ°)╮╰(°ㅂ°)╯╭(°ㅂ°)╮╰(°ㅂ°)╯╭(°ㅂ°)╮╰(°ㅂ°)╯
BalasHapus