Sabtu, 27 Februari 2016

Kyoketsuki no Fiancé : ~Chapter 1~

Kyoketsuki no Fiancé
Chapter 1
~Mimpi yang Jadi Nyata~

Halo, namaku Miyamoto Anna. Panggil saja aku Anna. Umurku sebaya dengan kalian. Tahun ini aku 17 tahun. Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang diriku, karena aku adalah anak yang biasa-biasa saja. Kedua orangtuaku telah lama meninggal dalam sebuah kecelakaan 10 tahun lalu. Saat ini aku tinggal di asrama sekolah dan hidup dengan uang beasiswa.

"Anna, ada yang mencarimu!"

Suara ibu pengasuh asrama memanggilku dari lantai bawah.

"Iyaa?"

Aku bangkit dari kasurku dan segera turun untuk menemui orang tersebut.

"Siapa yang ingin menemuiku, Bu?"

"Tidak tahu. Katanya dia mencarimu."

Mencariku? Siapa? Kok mencurigakan begini ya... Walaupun dipenuhi dengan rasa was-was, tapi akhirnya aku pergi menemuinya.

"Ada yang bisa kubantu?"

Ternyata yang mencariku adalah seorang pria tua. Rambutnya berwarna putih dan memakai kacamata. Ia mengenakan setelah tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam.

"Ah, nona Miyamoto Anna! Aku sudah lama mencari anda!" Katanya menyambutku dengan senang.

Aku mengernyitkan dahi, "Siapa anda?"

Pria tua itu hanya tersenyum, "Nona tidak perlu tahu siapa saya. Saya disini hanya ingin menyampaikan suatu hal."

Kok? Tuh kan, benar-benar mencurigakan. Bagaimana bisa dia mengenalku, sedang aku tidak mengenalnya.

"Tuan Akihito menginginkan pertemuan dengan anda hari ini. Diharapkan anda mempersiapkan diri."

"Maaf, siapa itu tuan Akihito? Aku bahkan tidak mengenalnya, bahkan saya tidak mengenal anda." Kataku dengan lembut, "Saya permisi dulu. Selamat siang."

Kurasakan tatapan mata dingin di belakangku. Kurasa pria tua itu sedang menatap tajam padaku.

"Kalau begini, saya terpaksa menggunakan cara kekerasan."

Aku menelan ludah. Aku merasakan firasat buruk yang akan terjadi padaku.

"Maafkan aku, nona Miyamoto Anna. Aku terpaksa melakukan ini."

Pria tua itu memegang pinggangku dan membawaku pergi dengan menggendongku sambil berlari.

"A--! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" Aku meronta.

Pria tua itu berlari hingga pintu depan, lalu ia terbang sambil membawaku. Biar kuulang, aku ter-bang! Aku tak tahu apakah mataku menipuku, tapi aku benar-benar merasa terbang untuk beberapa menit dalam hidupku.

Aku dapat melihat betapa birunya langit. Merasakan betapa hangatnya sinar mentari. Bahkan ada beberapa ekor burung yang terbang di dekatku. Apa ini? Aku benar-benar terbang?

"Hei, kau mau membawaku kemana?"

Pria tua itu diam saja. Ia tidak merespon pertanyaanku. Melihatnya tidak menjawab, aku tidak meneruskan pertanyaanku. Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa takut menghantui pikiranku.

"Kita sudah sampai."

Pria itu menurunkanku di sebuah rumah tua bertingkat dua yang bernuansa gotik. Warnanya dominan dengam warna merah dan hitam. Ada taman mawar yang cantik di sekitarnya. Rumah ini indah, tapi agak seram. Setidaknya itu yang kupikirkan.

"Silakan masuk."

Aku berjalan di belakang pria tua itu. Kami masuk ke rumah itu. Perabotannya terkesan aneh buatku. Lantainya dilapisi beludru merah, ada lampu gantung kristal yang cukup besar di ruangan tengah. Ada beberapa tempat lilin di ruangan-ruangan tertentu. Di tempat-tempat tertentu, bahkan ada kelopak mawar yang disebar, entah untuk apa.

Benarkah ada orang yang tinggal di tempat seperti ini?

"Kita sudah sampai, nona Miyamoto Anna."

Aku mengarahkan pandanganku pada pria itu. Dia tidak melihat ke arahku sedikit pun. Matanya menatap lurus ke depan. Ke arah kursi merah besar yang kosong.

"Ah, kau membawanya. Kerja bagus, Piéters."

Tak ada siapa pun. Hanya suara yang dapat kudengar. Sepertinya suara itu berasal dari balik dinding.

"Saya hanya menjalankan tugas, tuan Akihito." Lalu pria tua yang dipanggil Piéters itu membungkukkan badannya, memberi tanda hormat pada seseorang di balik dinding.

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Ya, terimakasih Piéters."

Piéters meninggalkanku sendiri di ruangan itu. Yah, maksudku, aku tidak benar-benar sendiri. Aku hanya berdua dengan seseorang di balik dinding yang disapa dengan nama "Tuan Akihito" oleh Piéters sebelumnya.

"Jangan takut. Aku tidak akan menyerangmu."

Aku yang tadinya tidak merasakan ketakutan apapun, sekarang jadi merasa waspada karena dia baru saja mengatakan kata "menyerang".

Seorang laki-laki muncul dari balik dinding. Tubuhnya tinggi, rambutnya warna hitam-agak berantakan, dan kulitnya putih pucat. Ia menunjukkan senyumnya padaku. Memperlihatkan deretan gigi putih dan taring yang tajam. Apa?! Benarkah itu taring?

"Namaku Akihito Sora."

Aku tidak terlalu menyimak perkataan laki-laki itu. Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, seperti : apakah aku sedang diculik oleh keluarga vampir, atau aku akan dijadikan mangsa oleh vampir, dan hal-hal tidak masuk akal lainnya.

"Seperti yang kau lihat, aku adalah-"

"Vampir, kan?!" Potongku.

Sora membelalakan mata. Sepertinya ia terlihat kaget dengan responku barusan. Namun, ia kembali tersenyum.

"Aku adalah tunanganmu. Dan aku seorang vampir. Tepatnya, vampir bangsawan." Lanjutnya.

Aku membeku untuk beberapa saat. Apa katanya? Tunangan? Itu bahkan lebih buruk daripada mengetahui kalau dia adalah seorang vampir!

"Kau bohong!"

"Aku tidak bohong."

"Seenaknya saja membawaku kemari dan tiba-tiba bilang kalau kau itu tunanganku... Kau sudah gila ya?!"

"Kau tidak mengerti."

"Tentu saja aku tak mengerti!"

Sora berusaha menggenggam tanganku dan menenangkanku. Tetapi aku menepisnya, karena refleks. Kualihkan mataku ke wajah Sora. Kini, ekspresinya telah berubah. Matanya berubah merah dan menatapku dengan seram. Lalu ia memojokkanku ke dinding dan memelototiku.

"Jangan membuatku marah! Aku bisa saja melukaimu kalau sedang marah!"

Tatapan itu membuatku takut. Aku bahkan tak mampu bergerak sedikit pun saking takutnya. Dia seperti.. punya dua kepribadian yang berbeda. Dan karena kesalahanku, aku telah membangkitkan dirinya yang lain.

Tangannya menyentuh bahu kiriku dan sekali lagi ia memojokkanku. Ia menahanku dengan tangannya, sehingga aku tidak bisa bergerak. Wajahnya kini ada beberapa sentimeter di depan wajahku. Aku sangat ketakutan. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa saja dibunuh olehnya.

"Dengar, Miyamoto Anna. Aku hanya akan menjelaskan ini sekali saja. Jadi dengarkan baik-baik!"

Aku menelan ludah. Kemudian mengangguk dua kali.

"Orangtuamu telah membuat perjanjian untuk menyerahkanmu padaku sebagai tunanganku. Mereka mengatakan hal ini sebelum mereka kecelakaan."

Mataku melebar, "Kau tahu orangtuaku?!"

"Jangan memotong ucapanku! Cukup dengarkan saja!"

Aku menunduk. Bulu kudukku rasanya mulai berdiri. Lalu aku melihat bola mata Sora berubah kembali menjadi warna emerald yang indah.

"Mereka bilang kalau anak mereka bernama Miyamoto Anna akan menjadi tunanganku ketika umurnya mencapai 17 tahun. Dan aku menjemputmu demi memenuhi janji itu."

"Kenapa... orangtuaku melakukan hal itu...?"

"Mereka menginginkan kebahagiaanmu. Mereka ingin menjamin kehidupanmu bahagia."

"Tapi kenapa.. harus denganmu?"

Aku agak menyesal mengatakan kalimat itu. Sora sudah agak tenang sekarang, dan perkataanku barusan terdengar seperti pemicu baginya untuk kembali marah.

Tapi untunglah ia tidak marah mendengarnya.

"Kau tidak suka vampir?"

"B-bukan begitu... Aku selalu membaca novel dan komik bergenre vampir, tapi aku tak menyangka kalau vampir itu nyata.."

Sora berusaha menahan tawa dengan tangannya.

"Tentu saja kami nyata!

Kemudian ia tertawa lepas. Bagaikan seorang anak kecil yang bahagia karena bermain.

Aku tidak memahami Sora. Ia bisa begitu baik dan ceria. Tapi ia juga bisa berubah menjadi makhluk menyeramkan yang punya aura membunuh orang-orang di sekitarnya.

"Kau masih punya waktu dua minggu sebelum ulangtahunmu yang ke tujuhbelas. Gunakan waktumu untuk beradaptasi disini dan pelajari tentang vampir."

"Kenapa aku harus melakukannya?"

"Karena kalau kau jadi tunangan vampir, tentu saja kau harus jadi vampir juga kan?"

Aku menelan ludah.

Apa maksudnya? Ia akan menjadikanku vampir juga?

"Oh, maaf. Mungkin kau terkejut mendengarnya. Tapi aku memang berniat untuk mengubahmu menjadi vampir."

Rasanya kakiku tak kuat untuk menopang badanku. Aku ambruk ke lantai. Untungnya kesadaranku masih penuh.

"Tentu saja kami tidak akan melakukannya dalam waktu dekat. Jadi tenang saja. Dan persiapkan dirimu."

Nafasku berubah menjadi pendek. Rasanya pengelihatanku tidak fokus dan aku mulai kehilangan kesadaran.


Kyoketsuki no Fiancé
By Salsabila Surya Ananda

Aku membuka mataku.

Entah apa yang terjadi sebelumnya. Aku tak ingat. Kenapa sekarang aku berada di kasur berwarna merah untuk dua orang.

"Ah, kau sudah siuman rupanya."

Sesosok manusia-ehm-vampir berdiri di sisi kasur, menanyakan keadaanku. Dia, Sora.

"Kau ambruk begitu saja. Aku jadi cemas, tahu!"

Aku baru siuman dan dia sudah memarahiku. Huuh, menyebalkan.

"Aku sempat panik apa yang harus kulakukan untuk menolongmu. Kukira, kau akan mati..."

Sora mengatakan itu dengan nada khawatir. Sepertinya ia terdengar tulus.

"Yang aku tahu, manusia itu lemah. Jadi, aku takut akan terjadi sesuatu padamu."

"Hei, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."

Aku berusaha meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa. Sora terlihat lega.

"Mungkin aku anemia..."

"Anemia?"

"Anemia, kurang darah. Kau tahu kan? Itu biasa terjadi pada manusia kok."

"Aku memalukan ya.."

"Heh?"

"Aku tidak mengetahui apapun tentang manusia. Padahal aku tunanganmu."

Mendengar Sora bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, pipiku memerah. Baru sebentar aku bertemu dengannya, mungkinkah aku telah terpikat padanya?

"Kau bisa belajar tentang manusia sedikit-sedikit.. Aku akan senang kalau kau mengetahui tentang diriku juga..."

Aku agak malu ketika aku mengatakannya. Itu terdengar sebagai 'kode' baginya untuk lebih mengetahui tentang aku.

"Baiklah. Kau harus belajar tentang vampir dan aku harus belajar memahamimu sebagai manusia."

Aku tersenyum. Tak kusangka Sora membuat ini jadi serius.

"Jadi, tolong bantu aku ya, ehm.. Anna."

Aku kaget. Rasanya jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Ketika Sora memanggil namaku untuk yang pertama kalinya, aku merasakan debaran yang kuat di dada. Perasaan apa ini?

"Hee? Pipimu memerah lho! Kau yakin tidak apa-apa? Kau butuh obat?" Tanya Sora dengan polosnya.

"Tidak-tidak-tidak! A-aku baik-baik saja!"

Aku agak panik ketika menjawabnya. Tapi Sora hanya tersenyum melihat reaksiku barusan. 

Benarkah dia tidak tahu apapun tentang manusia? Kenapa aku jadi merasa sedikit kecewa?

"Anna," Sora memulai pembicaraan, "Apa yang kau ketahui tentang vampir?"

"Kenapa kau tanya begitu?"

"Aku cuma pingin tahu saja"

"Ehmm.." Aku memilin-milin rambutku sambil berpikir, "Yang kutahu dari film, novel, dan komik, katanya vampir itu kuat, bahkan kekuatan manusia pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan vampir. Lalu, vampir itu bisa hidup hingga ratusan tahun hanya dengan minum darah. Dan, kudengar vampir itu lemah dengan cahaya matahari. Hanya itu sih yang kutahu."

Sora mengangguk beberapa kali.

"Kau benar, Anna. Tapi itu adalah pengetahuan yang paling dasar. Biar kutambahkan, vampir juga bisa terbang."

Tiba-tiba aku teringat Piéters yang membawaku kesini dengan cara terbang. Aku penasaran, akan kutanyakan pada Sora.

"Umm, bagaimana dengan Piéters? Apa dia bisa terbang juga?"

"Tentu saja. Dia kan vampir juga. Semua vampir bisa terbang."

Tak kusangka, ternyata Piéters juga seorang vampir. Sekarang semuanya baru terasa jelas.

"Piéters selalu bersamaku sejak kecil. Ia adalah pelayan yang paling setia. Dia membantuku mengumpulkan informasi tentangmu."

Aku hanya mengatakan "ooh" berkali-kali sambil mengangguk. Sora kembali menatap lekat mataku, dan ia menggenggam tangan kananku. Aku bertukar pandang dengannya. Tak menunjukkan respon, aku hanya menatap matanya saja.

"Kau sudah baikan, 'kan? Aku ingin mengajakmu berkeliling."


Kyoketsuki no Fiancé
By Salsabila Surya Ananda


Sora membawaku berkeliling rumah. Mungkin, rumah itu lebih cocok dikatakan istana. Karena rumah itu begitu besar dan luas. Sora selalu mengajakku mengobrol sambil berkeliling. Kami membicarakan kebiasaan, hobi, dan masa depan.

"Anna, apa yang kau inginkan bersamaku untuk ke depannya?"

Terlalu mendadak.

Aku tak menemukan jawaban di kepalaku. Sora benar-benar bisa membuatku kehilangan jawaban.

Aku menggaruk kepalaku, "Umm.. Entahlah? Kalau cita-citaku sih, aku mau jadi guru.."

Kami bertukar pandang.

"Kenapa jadi guru?"

"Menurutku, menjadi guru itu sesuatu yang baik. Banyak orang-orang di luar sana yang butuh ilmu dan pengajar. Semangat mereka untuk belajar sungguh luar biasa. Aku tak akan menyia-nyiakan semangat itu."

"Jadi itu cita-citamu?"

Aku mengangguk.

Sora menatapku dengan tatapan jahil.

"Tidak ada niat untuk jadi istri yang baik buatku?"

Mataku melebar. Langsung saja kupukul punggungnya.

"Apaan sih! Itu 'kan masih lama!"

Sora tersenyum puas.

"'Masih lama' artinya kau ingin jadi istriku?"

Jujur saja, aku bingung harus menunjukkan wajah seperti apa. Harus bilang seperti apa. Karena aku tidak berpengalaman soal cinta.

"S-setahuku kalau seseorang sudah bertunangan, ujung-ujungnya dia pasti menikah dengan tunangannya.."

"Hee..."

Lagi-lagi, Sora menatapku jahil. Aku cukup kesal sebenarnya, tapi kenapa aku merasa senang? Sepertinya perasaanku tak bisa dibohongi. Aku senang bisa terus bersama Sora seperti ini. Aku ingin waktu seperti ini tetap berlanjut.

"Semoga saja perkataanmu itu benar.."

Aku menoleh, mendapati ekspresi Sora yang terlihat memendam kecewa.

"Ada apa, Sora?" Tanyaku memastikan.

Ia menggeleng, kemudian tersenyum untuk menutupi kekecewaannya.

"Bukan apa-apa. Hanya memori masa lalu."

Sora pasti menyembunyikan sesuatu. Aku harus membuatnya kembali ceria lagi.

"Halaahh, belum bisa move on dari mantan yaa!" Ledekku sambil mentertawainya.

"A-apaan sih!" Wajah Sora berubah merah. Ternyata dia bisa merona juga kalau digoda. Hehehe, menarik.

"Hari-harimu masih dihantui oleh bayangan mantan?"

"Apa sih, aneh deh!"

"Hahahahaha! Sora belum bisa move on!"

"Yeee! Kamu sendiri, memangnya bisa move on?"

Aku senang Sora mulai hanyut dalam topik pembicaraan ini. Setidaknya, ia bisa melupakan hal yang menyedihkan baginya. Sesuatu yang terjadi dengannya di masa lalu, yang hingga sekarang masih membuatnya kepikiran.

"Aku nggak pernah pacaran, jadi aku nggak pernah punya mantan, apalagi move on!"

Sora menghembuskan nafas lega.

"Baguslah kalau begitu. Berarti, aku adalah orang pertama bagimu ya?"

Aku menunduk malu tak menjawab. Sora mendekat padaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.

"Aku pasti akan membahagiakanmu, Anna. Aku janji."

Untuk ke sekian kalinya, Sora berhasil membuat pipiku bersemu kemerahan. Kenapa aku bisa ditaklukan oleh cowok ini? Ya Tuhan, tolong aku. Inikah yang dinamakan suka? Atau ini cinta?

"Terimakasih, Sora..."

Sora meraih tanganku dan menggenggamnya erat sambil mengantarku kembali ke kamar. Jantungku tak henti-hentinya berdebar keras selama bersamanya. Agak sesak, meninggalkan rasa sakit di dada, tapi aku tidak membenci rasa sakit ini.

"Sekarang beristirahatlah."

Kami berhenti di depan pintu kamar yang tadi. Sora melepaskan tangannya dari tanganku. Aku hanya mengangguk sebagai balasan 'iya'.

"Sampai bertemu lagi nanti sore."

Sora mendekat ke arahku. Lagi-lagi aku berdebar. Jarak sedekat ini... Ini terlalu dekat! Tak pernah ada laki-laki yang sedekat ini denganku sebelumnya.

Sora mengelus kepalaku dan membelai rambutku. Kemudian, ia menciumku. Ia benar-benar sedang mencium pipiku. Aku salah tingkah, dan ia hanya tersenyum jahil.

"Aku akan pergi berburu nanti malam. Jadi, tunggu aku di rumah ya. Jangan berkeliaran kemana-mana."

Aku tak paham dengan yang Sora maksud dengan berburu, tapi aku hanya mengangguk sebagai respon mengiyakan perkataannya. Kemudian Sora meninggalkanku di kamar. Agak sedih rasanya melihat ia berjalan menjauh dariku. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pengelihatanku.

Blam.

Aku menutup pintu dan merebahkan diri di kasur merah untuk dua orang yang tadi. Pikiranku melayang. Walau aku punya kesempatan untuk pergi dari sini ketika malam nanti, tapi entah kenapa rasanya aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Entah karena apa sebabnya. Apa Sora sudah memberikan sihir padaku? Hah, tak mungkin.

Sora itu vampir, bukan penyihir. Mungkin yang dimaksud dengan "sihir" adalah semua perbuatannya. Ia memperlakukanku dengan baik. Aku jadi merasa nyaman ketika bersamanya. Bahkan tidak ada niatan di otakku untuk kembali pulang ke asrama. 

Untuk sekarang, aku hanya ingin berada disini. Bersama Sora yang kusukai. Aku bahkan tidak ingin memikirkan sekolah atau pelajaran. Kenapa ya aku ini? Aku jadi aneh...

Sepertinya sekarang, aku tak merasa keberatan untuk menjadi tunangannya Sora?

Rasanya aneh mengetahui mimpiku jadi nyata. Waktu kecil, aku selalu menganggap bahwa vampir itu keren. Saat ditanya oleh temanku, bahkan aku bilang kalau aku ingin jadi vampir. Dan sebentar lagi hal itu akan terwujud. Aku akan menjadi tunangan seorang vampir, dan aku pun juga akan berubah menjadi vampir.

Tapi ini semua terlalu mendadak bagiku. Rasanya sulit untuk mempercayainya. Aku bahkan takut pada awalnya. Apalagi melihat perubahan karakter pada Sora tadi pagi. Aku benar-benar takut. Apakah vampir itu berbahaya? Aku tidak tahu. Tapi aku tidak ingin melukai orang lain apabila aku menjadi vampir nanti.

Pikiran itu mengantarkanku hingga terlelap. Berat juga memikirkan hal itu ternyata.

Ayah, ibu...
Benarkah bahwa kalian memang menjodohkanku dengan Sora demi kebahagiaanku?
Jika iya, aku sangat berterimakasih
Kurasa aku bisa bahagia dengan Sora
Mulai sekarang, hari-hariku sebagai calon tunangan vampir akan segera dimulai.

.
.
.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar