Kyoketsuki
no Fiancé
Chapter 2
~Menjadi
Lebih Dekat dengan Insting Vampir~
Aku tak
sadar kalau aku terlalu lama tidur. Aku baru terbangun saat pagi keesokan
harinya. Sepertinya aku kelelahan.
Aku hanya
sendirian di rumah besar itu. Sora sedang pergi berburu dan aku tak menemukan
sosok Piéters di rumah. Hmm, ya sudahlah.
"Aku
pulang!"
Sora
memasuki rumah. Ia mengenakan jubah dan satu set pakaian ala vampir.
"Selamat
datang."
Aku
menyambutnya di dekat pintu. Ia tersenyum dan mengelus kepalaku. Tunggu dulu..
kenapa ada yang berbeda dengannya?
Ah!
Warna
bola matanya! Warnanya berubah jadi merah! Apa ia baru saja marah ya? Aku
pernah melihat matanya berubah jadi merah ketika ia marah padaku.
Sora
melepas sepatunya dan berniat untuk beristirahat di kamarnya. Tetapi aku
mencegatnya di lorong.
"Sora.."
Kataku, "Kenapa.. matamu...?"
"Ah,
kau menyadarinya?"
Aku
mengangguk pelan. Aku tidak tahu Sora sedang berada di mood normal
atau mood marah, jadi aku tidak mau banyak bicara.
"Insting
vampirku bangkit. Makanya mataku jadi merah begini."
"Insting
vampir?"
"Iya.
Aku 'kan baru pergi berburu. Jadi ya.. kau tahu sendirilah... Vampir, berburu,
mangsa, darah, malam hari..."
Sora
seperti menyuruhku untuk menyusun kata-kata darinya. Ah, rupanya semalam ia
berburu manusia. Mencari mangsa untuk memenuhi kebutuhan akan darah.
"Maksudnya,
kau baru saja-"
"Ya,
aku baru saja melakukannya. Kau tidak keberatan dengan itu 'kan?"
Apa yang
dia maksud dengan 'baru saja melakukannya'? Ia melakukan apa? Kenapa aku yang
jadi cemas begini?
"Kau
tidak menghisap darah mereka hingga habis 'kan?"
"Hmm..."
"Mereka
sekarang masih hidup, 'kan?!"
"Hemm
hemm.."
Apa-apaan
jawaban itu? Aku sama sekali tidak puas dengan jawabannya. Itu seperti
menyembunyikan sesuatu! Apakah ia baru melukai mereka? Apa ia menghisap darah
mereka hingga habis? Apa ia adalah penyebab mereka kehilangan nyawa?
Aku bisa
percaya dengan kebaikan Sora. Tapi aku tidak yakin kalau ia tidak melakukan
sesuatu hal yang jahat. Karena, kepribadian yang ia miliki.. sangat
berbeda.
"Sora!"
Aku memanggilnya dengan nada kesal.
"Apa?"
Sora meresponku dengan wajah yang bete.
"Beritahu
aku, apa yang kau lakukan ketika kau berburu."
"Ah,
itu bukan urusanmu!"
Apa-apaan
dengan sikapnya itu! Kenapa berbeda sekali dengan dirinya yang kemarin? Kenapa
sekarang aku jadi kesal?
"Sora!"
Kupanggil ia sekali lagi, tapi terlambat.
Blam.
Ia sudah
masuk ke kamarnya. Dan ia baru saja membanting pintu tepat di depan wajahku.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
Tok tok.
"Masuk."
Piéters
masuk ke kamarku sambil membawa sebuah nampan berisi sarapan pagi.
"Waktunya
sarapan, Nona Miyamoto Anna."
"Terimakasih,
Piéters. Letakkan saja di meja itu."
Piéters
meletakkan nampannya di meja. Persis seperti yang kuminta. Sejak kejadian tadi,
aku belum mengatakan sepatah kata pada Sora. Aku ingin menanyakannya pada
Piéters.
"Saya
permisi dulu, Nona."
"Eh,
tunggu sebentar!"
Piéters
menahan niatnya untuk keluar dari kamarku. Ia berjalan mendekatiku.
"Ada
sesuatu yang Nona perlukan?"
Aku
menggeleng.
"Bukan,
kok! Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu, Piéters."
Aku
mengubah posisi dudukku di kasur. Aku ingin bertanya serius pada Piéters soal
Sora. Piéters sudah lama tinggal bersama Sora, jadi pasti ia tahu sifat dan
kepribadiannya.
"Piéters,
sebenarnya apa yang biasa dilakukan Sora saat ia berburu?"
Piéters
tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia nampak berpikir sejenak.
"Nona
khawatir dengan tuan Akihito?"
Aku
menggeleng lagi.
"Bukan
khawatir, aku hanya ingin tahu kenapa ia tahu-tahu bisa ramah, tapi mendadak
bisa jadi dingin."
Piéters
mengangguk. Ia mulai paham dengan pertanyaanku barusan.
"Begini,
Nona. Tuan Akihito adalah seorang vampir bangsawan. Setiap vampir bangsawan
punya semacam dua sisi yang berbeda. Dua sisi itu berlawanan. Yang pertama
adalah dirinya yang sebenarnya, dan satunya lagi adalah insting vampir."
"Itu
yang tadi Sora bilang!"
Piéters
tersenyum. Menampakkan kerutan dan keriput di wajahnya.
"Insting
vampir yang dimiliki oleh Tuan Akihito adalah sisi buruk dari semua vampir.
Tanda bahwa insting vampirnya sedang bangkit adalah matanya berubah menjadi
merah. Bersikap agresif, pemarah, dan sifatnya berubah jadi dingin."
Pantas
saja. Dia seperti punya kepribadian yang berbeda. Ternyata, ia hanya sedang
membangkitkan insting vampirnya. Aku jadi bisa mengerti, alasan kenapa Sora
bertingkah seperti itu adalah karena ia adalah seorang vampir bangsawan. Mau
tidak mau ia mempunyai insting vampir.
"Kalau
kau bagaimana, Piéters? Kau punya insting vampir juga?"
Piéters
kembali tersenyum. Kemudian ia tertawa kecil.
"Saya
hanya vampir biasa, Nona. Saya tidak punya insting vampir. Saya hanya begini
adanya. Kemampuan saya sangat berbeda dengan Tuan Akihito."
"Sehebat
itukah Sora?"
"Vampir
bangsawan itu punya kekuatan luar biasa, Nona. Insting vampir memperkuat
kekuatan mereka."
Aku
mengangguk saja, pura-pura mengerti secara keseluruhan. Aku paham sih dengan
penjelasan yang diberikan Piéters, tapi permasalahan vampir yang akan kuhadapi
ini sepertinya akan berubah menjadi sulit.
"Kau
tidak pergi berburu juga semalam?"
"Saya?
Saya sudah tua, Nona. Sudah tidak ada niat untuk berburu... Saya hanya minum
teh mawar saja, bukannya darah."
"Tapi
aku tidak melihatmu semalam."
"Itu
karena Nona ketiduran kan? Saya selalu ada di ruang belakang kok, datanglah
apabila Nona butuh bantuan."
Oh iya,
aku lupa kalau semalam aku ketiduran. Dasar. Memalukan saja. Bahkan Piéters
sampai tahu.
"Ada
yang ingin Nona tanyakan lagi? Kalau tidak, saya akan kembali ke ruang
belakang. Jika saya terus disini, saya tidak ingin membuat Tuan Akihito salah
sangka."
Aku
menggeleng. Kurasa aku sudah mendapatkan cukup data tentang Sora dan insting
vampirnya. Aku harus lebih berusaha memahaminya. Kapan ia sedang menjadi dirinya
yang biasa, dan kapan ia menjadi agresif.
"Terimakasih
atas informasinya, Piéters. Lain kali aku akan bertanya padamu lagi."
Piéters
kembali menyunggingkan senyumnya, lalu ia memberi hormat dengan membungkukkan
badannya. Setelah itu ia beranjak pergi.
Aku
melemparkan diriku ke kasur dan menghela nafas.
"Insting
vampir ya?"
Jika aku
sudah berubah menjadi vampir suatu hari nanti, apakah aku akan punya insting
vampir juga? Kuharap tidak. Soalnya, aku tidak ingin melukai orang lain. Yang
ada di pikiranku, insting vampir dapat mengambil alih tubuh dan pikiranmu, jadi
kau hanya dikendalikan oleh insting tersebut. Perasaan dan pemikiranmu tidak
dapat bekerja pada saat insting vampirmu mengambil alih. Seram juga.
Kualihkan
pandanganku ke nampan di atas meja berisi menu sarapan yang dibawa oleh Piéters
tadi. Ada pancake dan segelas susu cokelat hangat, sepertinya enak. Kuambil dan
kucoba untuk memakannya. Piéters yang membuat ini? Lumayan juga bagi seseorang
yang tak pernah makan makanan manusia. Piéters memaksakan diri untuk belajar
memasak demi aku? Aku jadi merasa sedikit bersalah. Maafkan aku ya, Piéters.
Seperti yang alu duga, kau terlalu baik padaku.
Kriet...
Pintu
kamarku dibuka dari luar. Tunggu! Yang membukanya itu... adalah... Sora!
Aku agak kesal
karena dia masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi aku tak
bisa langsung memarahinya. Aku harus memastikan warna bola matanya dulu. Masih
merah atau sudah kembali menjadi emerald. Aku tidak ingin membuat masalah lagi
dengannya.
"Hoy!"
Kuberanikan
diriku untuk menatap wajahnya. Kumohon, sedikit saja! Biarkan aku melihat warna
matanya.
"Kok
diam saja?"
Ah,
rupanya masih berwarna merah. Kenapa aku kecewa? Mungkin aku merindukan sikap
baik dan perhatian Sora. Tapi rasanya, sekarang aku tak bisa berharap banyak
darinya.
"Apa
yang sedang kau lakukan?"
Aku
menjawab sambil menunduk.
"Sarapan..."
"Hei,
tinggalkan itu. Ada sesuatu yang lebih penting daripada itu. Datanglah ke
kamarku setelah ini."
"K-kamarmu?!"
Entah apa
yang akan dilakukan oleh Sora nantinya, aku tidak tahu. Aku hanya punya dua
pilihan. Satu : tetap datang ke kamarnya dengan kemungkinan apapun akan
terjadi, atau dua : menolaknya dan siap-siap merasakan bagaimana rasanya
'dibunuh' oleh insting vampir milik Sora.
"Jangan
lama-lama."
Sora
berbalik dan meninggalkanku sendirian. Ia kembali ke kamar—menungguku. Aku
segera menghabiskan pancakeku dan meneguk susu cokelatku dengan terburu-buru.
Walaupun pada akhirnya aku harus terbatuk-batuk karena tersedak. Kemudian aku bergegas
ke kamar Sora yang letaknya lumayan jauh dari kamarku. Kuketuk pintunya dua
kali.
"Masuk."
Dengan
tegang dan rasa takut, aku memasuki kamar Sora. Aku mendapati Sora yang tengah
duduk di kursinya, ada sebuah buku catatan di mejanya, entah apa isinya. Kamar
ini... benar-benar seperti setting kamar vampir di film-film!
Dinding
berwarna tua yang dilapisi dengan kain merah. Tempat lilin dengan lilin yang
menyala. Sebuket bunga mawar merah di vas bunga. Dan di dindingnya terdapat
figura-figura foto dari besi yang sengaja dibuat terlihat seperti perak (karena
vampir lemah dengan benda yang terbuat dari perak). Benar-benar berbeda dengan
kamar yang kutempati tadi. Sekarang aku benar-benar berada di kamar seorang
vampir!
"Duduk
di kasur itu."
Sora memerintahku
untuk duduk di kasur. Oke, kasur. Sebenarnya aku sendiri merasa kurang nyaman
dengan ini, tapi yaah.. aku berusaha berpikir positif saja.
Sora
mendekatiku. Lagi-lagi dengan jarak yang terlalu dekat. Ia tak mengatakan
apapun. Ia menyibak rambut yang ada di sekitar telinga kiriku. Kini aku dapat
mendengar nafasnya di telinga kiriku. Selama Sora sedekat itu denganku,
jantungku berdebar kencang. Mungkin saking kencangnya, ia bisa mendengarnya.
Sekarang ia memegang kedua bahuku. Aku jadi makin berdebar-debar dari
sebelumnya. Sora semakin dekat, dan ia merundukkan kepalanya sedikit,
menempelkan dagunya di leherku.
Argh!
Apa yang
barusan?
Kurasakan
ada sesuatu yang sakit menembus kulit leherku. Sakit, perih, rasanya seperti
rasa sakit memusat di satu tempat itu.
"S-Sora...?"
Tak ada
jawaban. Dalam pikiranku dipenuhi oleh tanda tanya. Dari mana asalnya rasa
sakit itu?
Sora
menjauh dariku. Ia menatap lurus ke mataku. Bola mata kami bertemu, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, waktu terasa berlalu begitu cepat ketika aku
sedang bersamanya.
Kuperhatikan
wajahnya lebih detil. Oh, tidak. Aku melihat ada bekas cairan kemerahan yang
menetes dari tepi bibirnya. Cairan itu merah terang dan terlihat pekat,
seperti... darah?
Eh tunggu
dulu!
Kupegang
bagian leherku yang terasa sakit tadi. Aku terkejut saat ada darah di telapak
tanganku. Ya Tuhan! Barusan Sora... menghisap darahku?!
Entah apa
yang kurasakan, semuanya bercampur menjadi satu. Sedih, kesal, marah, takut,
dan beberapa perasaan yang tidak dapat kusebutkan lainnya. Nafasku menjadi
singkat, dan pandanganku berubah menjadi buram. Kepalaku terasa berputar-putar.
Apa ini? Apa aku anemia lagi?
"Anna..."
Sora
berjalan mendekatiku, entah kenapa aku malah berusaha menjauh darinya. Aku
terus mundur dan mundur. Kali ini Sora benar-benar membuatku takut. Masa bodoh
dengan insting vampir! Itu hanya membuatmu bertingkah seperti monster!
Membiarkan instingmu mengambil alih tubuhmu, bahkan pikiranmu sampai tidak
berfungsi. Itu seram, bukan?!
Bruk.
Ah sial!
Aku sudah terpojok. Aku tidak bisa lagi menghindar kemana pun. Di belakangku
ada tembok. Kali ini habislah sudah, aku akan menghadapi Sora yang sedang
berubah menjadi 'monster'.
Sora kini
sudah berada tigapuluh sentimeter di depanku. Habislah aku, habislah! Adakah
sesuatu yang dapat kulakukan yang bisa menghentikannya?
"T-tolong
jangan hisap darahku lagi, kumohon!"
Ya,
benar-benar kalimat yang terdengar bodoh. Kenapa harus kalimat itu yang keluar
dari mulutku? Ah, aku bahkan tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.
"Apa
maksudmu, Anna?"
Heh? Apa
maksud perkataannya tadi? Dia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan padaku
beberapa menit yang lalu?
"K-kau..
tadi... uhm.. menghisap darahku..."
Sora
membeku untuk beberapa detik. Ia mengelap bibirnya dengan tangannya, dan ia
terkejut saat melihat ada cairan merah yang menempel di punggung tangannya.
"Dasar..
aku ini benar-benar bodoh!"
Sora
membenturkan dahinya ke tembok. Setelah itu, ia meninju tembok yang sama
beberapa kali. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa. Matanya berkaca-kaca,
seperti ingin menangis. Aku baru sadar kalau warna bola matanya sudah menjadi
emerald kembali. Syukurlah, dia kembali menjadi Sora yang kukenal.
Aku tidak
tahu apa yang terjadi pada Sora. Mungkin ada konflik batin dalam dirinya. Pada
akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kutepuk bahunya, dan
dia hanya diam.
"Sora?
Kau tidak apa-apa?"
Sora
tidak ingin menunjukkan wajahnya padaku. Ia hanya terdiam di depan dinding.
Dapat kudengar isakan tangis darinya.
"Harusnya
aku yang tanya begitu."
Aku hanya
diam.
Sora
berbalik badan, kami berdua saling berhadapan. Sora tidak melihat ke mataku,
pandangannya tidak fokus-seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Aku..."
Ujar Sora dengan suara yang lemah, "Aku sebal dengan diriku yang seperti
ini.."
Aku hanya
diam, mendengarkan perkataan Sora. Ia sedang rapuh, dan aku tidak bisa
melakukan apa-apa untuk menghiburnya. Aku merasa bersalah.
"Ada
monster yang hidup dalam diriku. Monster itu membuatku melukaimu. Maafkan aku!
Maafkan aku, Anna! Aku sungguh menyesalinya!"
Sora
membungkukkan badannya dan menahannya selama beberapa detik. Aku masih tak
bicara sepatah kata pun. Jujur saja, aku bingung apa yang sebaiknya kulakukan.
Sora
kembali berdiri.
"Insting
vampirku biasanya bangkit apabila tubuhku haus akan darah, aku tahu akan hal
itu. Kupikir, dengan pergi berburu, ia tidak akan bangkit. Ternyata aku
salah."
"A-aku
bahkan membiarkan dia melukaimu! Tiap kali aku terpikir soal itu, aku merasa
gagal menjadi tunanganmu. Aku saja tidak bisa mengendalikan diriku, bagaimana
nanti kalau aku tidak bisa menjagamu? Aku takut, Anna. Dengan diriku yang
seperti ini, aku takut melukaimu lagi."
Aku
menggeleng, lalu menghampiri Sora. Kutepuk bahunya perlahan, berharap itu bisa
sedikit menenangkannya.
"Aku
tidak apa-apa, Sora. Aku baik-baik saja. Jangan salahkan dirimu sendiri."
Sora
menepis tanganku dari bahunya.
"Siapa
lagi yang harus disalahkan kalau bukan aku?!"
Sora
buru-buru mengoreksi kalimatnya.
"Ah,
maafkan aku Anna, aku tidak sengaja."
Aku
menggeleng pelan. Ternyata sedih juga menerima perlakuan seperti itu. Pantas
saja Sora marah saat aku melakukan hal yang sama padanya dulu.
"Pergilah
temui Piéters. Minta padanya untuk mengobati lukamu, atau minta dia untuk
membuat ramuan penghilang rasa sakit."
"Tapi,
Sora... Aku tidak ap-"
"Maaf,
Anna. Bisa kau tinggalkan aku sendiri? Aku sedang butuh waktu untuk
menyendiri."
Setelah
berkata begitu, Sora merebahkan dirinya ke kasur. Menutupi matanya dengan
lengannya. Tentu saja aku segera keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Aku
tak tahu penyesalan macam apa yang sedang dirasakan oleh Sora. Aku tidak bisa
membantunya sama sekali. Aku benar-benar tunangan yang tidak berguna.
Meskipun
Sora bilang padaku untuk menemui Piéters dan meminta obat penghilang rasa
sakit, entah kenapa aku tidak ingin melakukannya. Biarkan saja aku merasakan
rasa yang seperti ini. Rasa yang baru kurasakan untuk pertama kalinya dalam
hidupku. Biar sakit, biar perih, biar apa mau dikata orang, aku akan membiarkan
luka ini sembuh dengan sendirinya. Karena... ini seperti tanda dari Sora. Tanda
bahwa aku adalah miliknya. Dan ini seperti sesuatu yang berharga bagiku.
Walaupun aku harus menahan rasa sakit setelahnya, aku tidak apa-apa.
Akhirnya
kuputuskan untuk kembali ke kamarku. Tetapi, saat berjalan di lorong,
keseimbanganku terganggu. Aku terhuyung dan jatuh. Ini pasti lanjutan gejala
yang tadi. Kepalaku terasa berputar-putar. Aku bahkan tidak bisa untuk berdiri.
"Nona!
Anda baik-baik saja?"
Suara itu
terdengar samar, tapi aku tahu kalau itu suara Piéters. Pandanganku buram dan
tiba-tiba semuanya berubah menjadi hitam.
Kyoketsuki no Fiancé
By : Salsabila Surya Ananda
"Ah!
Sudah sadar!"
Lho..
kamar ini..?
"Nona
sudah sadarkan diri, Tuan!"
Tunggu,
rasanya aku kenal dengan kamar ini!
"Bagaimana
keadaannya, Piéters?"
"Nona
baik-baik saja, Tuan."
"Syukurlah."
Tembok
berwarna gelap dengan kain warna merah, lilin yang menyala, figura besi yang
dibuat seakan figura perak. Tunggu dulu! Ini... ini...
Ini kamar
Sora!
Aku
sedang terbaring lemah di kasurnya Sora. Kaget karena mengetahui situasi ini,
aku pun bangkit dari kasur.
"Eh,
jangan banyak bergerak dulu!"
"Benar
yang dikatakan Tuan. Nona harus banyak istirahat."
Sora dan
Piéters memaksaku untuk kembali berbaring. Bukannya merasa nyaman, tapi aku
malah merasa deg-degan. Jadi tadi aku pingsan? Lalu, kenapa mereka membawaku ke
kamar Sora bukannya ke kamarku?!
"Piéters,
bawakan obat untuk Anna."
"Siap,
Tuan."
Piéters
keluar dari kamar, meninggalkan aku dan Sora, hanya berdua saja. Kuharap ia
segera kembali, entah kenapa aku tidak bisa jika harus berdua saja dengan Sora
seperti ini.
"Ada
yang ingin kubicarakan." Kata Sora memecah keheningan di antara kami. Aku
mengarahkan pandanganku ke wajahnya.
"Kau
tadi tidak melakukan apa yang kusuruh?"
"Heh?"
"Kau
seharusnya minta obat pada Piéters, 'kan? Kau tidak melakukan itu?"
Aku
menggeleng pelan.
"Haah,
kau ini... Pantas saja kau ambruk tadi."
Aku
menunduk.
"Piéters
melihatmu ambruk di lorong tadi. Aku melihat Piéters sedang menolongmu. Lalu,
kuminta dia membawamu ke kamarku, agar lebih dekat. Kukira kau kenapa... Jangan
membuatku khawatir dong, Anna."
"Maafkan
aku telah membuatmu khawatir, Sora. Aku sengaja tidak minta obat pada Piéters
tadi."
"Sengaja?"
"Soalnya..
aku ingin menjaga tanda yang diberikan olehmu..."
Aku
barusan ngomong apa sih! Sora pasti akan menganggapku orang aneh. Memalukan
saja!
"Dasar
bodoh! Kau tidak harus menjaga bekas gigitanku sebagai tanda. Kalau kau
melakukannya, rasa sakitnya akan menyebar. Memangnya kau tidak sakit? Karena
aku tahu pasti akan sakit, makanya aku tidak ingin kau menahannya."
Walau
berbeda dari biasanya, kali ini ucapan Sora terdengar agak kasar, tapi aku tahu
ada maksud baik dari ucapannya. Ia ingin menjagaku, ia tidak ingin aku
kesakitan. Kini, aku percaya pada Sora. Sora yang sebenarnya ya seperti ini,
bila insting vampirnya bangkit, ia bukanlah Sora. Ia hanya monster yang akan
melukai orang lain.
"Terimakasih
telah menolongku. Maaf aku sering pingsan begitu saja. Tadi aku merasakan
gejala yang sama seperti kemarin. Mungkin aku anemia lagi..."
"Kau
sering anemia ya?"
"Tidak,
ini hanya karena-"
Aku
menghentikan kalimatku. Tidak mungkin 'kan, kalau aku bilang : 'aku anemia
karena kau menghisap darahku terlalu banyak'? Itu hanya akan menyakiti Sora.
Perkataan yang menyakiti orang, aku tidak suka itu.
"Hanya
karena apa?"
Aduh,
Sora. Jangan membuatku melanjutkan perkataanku itu. Itu hanya akan melukaimu.
"Bukan
apa-apa."
"Aku
yang melakukannya ya?"
"Apa
maksudmu?"
Aku
pura-pura tidak tahu saja. Padahal aku takut dengan topik pembicaraan ini.
Tolong jangan bahas soal ini lagi. Kumohon, jangan.
"Ketika
insting vampirku bangkit, aku menghisap darahmu terlalu banyak?"
Hii!
Tepat seperti yang terlintas di pikiranku! Kenapa Sora bisa tahu?!
"Kau
diam saja, berarti perkataanku benar?"
Aku tak
bisa lagi mengelak. Aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Sora. Jadi aku
akan mengakuinya. Tapi tidak dengan ucapan, aku hanya mengangguk saja.
Mengiyakan perkataannya itu lebih baik daripada menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi.
Sora
membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah tembok. Kan, apa kubilang...
Aku tidak mau ada atmosfer aneh seperti ini di antara aku dan Sora.
"Jujur
padaku, Anna. Selain itu, apalagi yang aku lakukan padamu waktu itu? Aku tidak
bisa mengingat apapun, jadi aku ingin kau menceritakan seluruhnya."
"T-tidak
ada! Sungguh!"
Sora
berbalik, ia menghadap ke arahku sekarang. Kedua tangannya menyentuh bahuku.
Wajah kami sangat dekat, mungkin hanya berjarak duapuluh senti. Matanya
memandang lurus menembus mataku. Tatapannya.. membuatku tidak bisa beralasan
ataupun bohong. Kurasa aku telah ditaklukan dengan tatapan itu. Mata emerald
yang indah, tatapan yang tajam, Sora benar-benar menjadi objek fokus di mataku.
"Jangan
menyembunyikan apapun dariku, Anna. Apapun yang kau katakan, aku akan
percaya."
Aku
menelan ludah. Aku membiarkan keheningan mewarnai suasana ini. Sebenarnya, aku
sedang berpikir bagaimana caranya aku memberitahu apa yang sudah ia lakukan
padaku dengan insting vampirnya tadi. Masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu,
menyuruhku menghabiskan sarapan dengan cepat hingga aku tersedak, memintaku
datang ke kamarnya, menyuruhku untuk duduk di kasur, mendekatiku dengan jarak
yang amat dekat—entah kenapa makin lama makin terasa ambigu seolah-olah ia baru
saja melakukan sesuatu yang berbahaya padaku.
"Saya
bawa obatnya, Tuan."
Seorang
pria tua dengan setelan tuxedo masuk ke kamar sambil membawa nampan besi. Ah,
syukurlah kau datang di saat yang tepat, Piéters. Aku sangat senang kau datang
pada waktu yang tepat.
"Ah,
Piéters. Kau sudah kembali."
Entah
kenapa semenjak Piéters datang, Sora kembali menjaga jarak dariku. Mungkin ia
tidak ingin perbuatannya diketahui oleh Piéters, atau mungkin ada sesuatu
yang ia sembunyikan dari pria itu.
"Biar
saya obati luka Nona."
Aku
menyibak rambut yang tergerai di dekat telinga kiriku. Piéters mengoleskan obat
yang terasa seperti jelly—sejenis salep di leherku. Rasanya aneh, ada sensasi
dingin ketika salep itu mengenai kulitku.
"Lalu,
penghilang rasa sakitnya..."
Piéters
mengambil beberapa ramuan herbal dan menyeduhnya dengan air panas, membuatnya
menghasilkan seperti teh. Kemudian, ia memberikan cangkir berisi ramuan itu
padaku, ia memintaku untuk meminumnya selagi hangat. Aku menurut saja, walaupun
aku harus memaksakan diriku untuk meminumnya sampai habis. Rasanya...
benar-benar tidak karuan! Pahit, sedikit amis, eww aromanya pun seperti jus
sayur yang amat tidak kusukai.
"Aku
ingin melakukan sesuatu di ruang bawah tanah. Anna, kau tak apa apabila aku
meninggalkanmu sendiri?" Tanya Sora sembari melangkah ke arah pintu.
Aku
mengangguk, "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku."
"Baiklah,
jaga dirimu ya. Oh iya, Piéters, tolong siapkan makan siang untuk Anna."
Piéters membungkukkan badannya—tanda hormat. Kemudian Sora
pun berlalu. Piéters masih meracik obat herbal yang ditakar dengan
jumlah tertentu untukku, untuk berjaga-jaga katanya. Siapa tahu rasa sakitnya
kambuh lagi, dan Piéters sedang tidak ada di rumah. Jadi aku hanya tinggal
menyeduhnya saja. Tapi aku sendiri pun tidak yakin apakah aku akan minum obat
seperti itu lagi. Karena rasanya itu lho, bagaikan mimpi buruk yang terburuk!
“Nona.” Panggil Piéters.
“Iya, Piéters?”
“Tuan baru saja melakukan itu
pada Anda?”
Glek.
Akhirnya Piéters
menanyakan hal itu juga. Aku ingin menanyakan sesuatu lebih jauh tentang Sora,
tapi aku sendiri tidak yakin.
”Kenapa kau menanyakan hal itu?”
Aduh! Apa perkataanku barusan
terdengar angkuh? Maaf Piéters, bukan maksudku untuk angkuh, aku hanya refleks.
“Maaf karena saya ikut campur,
Nona. Tak seharusnya aku menanyakan hal seperti itu. Maaf atas kelancangan
saya, Nona.”
“Eeh, bukan begitu maksudku! Aku
hanya kaget, kenapa kau menanyakan hal seperti itu.”
Piéters membetulkan kacamatanya yang melorot. Kemudian ia
menyunggingkan senyuman hangat.
“Insting vampirnya sedang bangkit
ya? Soalnya saya tahu Tuan tidak akan melukai Nona.”
“Kau juga berpikir begitu, Piéters?”
“Akhir-akhir ini Tuan
kelihatannya banyak pikiran, ia juga sibuk mengerjakan sesuatu di ruang bawah
tanah. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Tuan. Mungkin
karena itulah insting vampirnya lebih kuat dari biasanya, kebutuhannya akan
darah juga meningkat.”
“Tapi, apa wajar jika Sora
melakukan hal semacam ini padaku?”
“Menurut saya, itu merupakan hal
yang wajar, Nona. Bahkan vampir bangsawan lain yang bertunangan dengan manusia
tidak mengubah pasangannya menjadi vampir. Pasangannya akan tetap dalam wujud
manusia, agar ia bisa meminta darahnya kapan saja.”
Aku mengangguk-ngangguk mendengar
penjelasan dari Piéters.
“Tapi, Tuan berbeda, Nona. Tuan
justru ingin mengubah Nona menjadi vampir, agar sama seperti Tuan. Dengan
begitu, Nona tidak akan dimanfaatkan oleh vampir lain yang mengincar darah
Nona. Tuan Akihito memang baik.”
“Jadi, akan lebih baik bagiku
untuk jadi vampir daripada tetap menjadi manusia?”
“Bagi saya, iya, Nona. Tuan
berubah menjadi semakin baik setiap harinya karena telah bertemu dengan Nona,
lho. Selama puluhan tahun saya mendampingi Tuan Akihito, saya baru tahu kalau
Tuan bisa selembut dan sebaik ini dengan perempuan.”
Tunggu! Perkataan Piéters
barusan... Itu berarti, pernah ada perempuan lain yang muncul di kehidupan
Sora? Kenapa aku jadi kepikiran begini. Aku penasaran, tapi... Apa baik bagiku
jika aku mengetahuinya?
“Umm... memangnya Sora pernah
dekat dengan perempuan lain?”
Piéters mengangguk.
“Tuan Sora pernah dekat dengan
seorang gadis bernama Milliané Jellashiva, seorang
vampir bangsawan juga, sama
seperti Tuan. Mereka sempat dirumorkan akan segera
bertunangan, tapi sebelum hari
itu tiba, terjadi konflik di antara keluarga mereka. Dan
akhirnya pertunangan mereka
dibatalkan secara sepihak oleh keluarga Milliané. Sejak
saat itu, Tuan jadi menjaga jarak
dengan orang lain. Mungkin Tuan takut terluka lagi
semenjak kejadian itu...”
Aku tak tahu bahwa Sora pernah
mengalami hal seperti itu. Sebenarnya, aku sedikit kecewa
mendengar cerita Piéters,
karena hal itu berarti bahwa aku bukan yang pertama bagi Sora,
tapi gadis
itu—Milliané Jellashiva itu yang seharusnya menjadi orang pertama bagi Sora.
“Tapi saya senang, karena
sekarang Tuan mulai bisa membuka diri pada orang lain lagi. Itu
semua karena
keberadaan Nona disini. Terimakasih, Nona Miyamoto Anna... Semoga Tuan
berbahagia bersama Nona sekarang dan ke depannya.”
Piéters sampai bicara begitu, ia mengharapkan agar Sora
bisa berbahagia bersamaku, dan aku
bisa berbahagia bersama Sora. Walaupun
pernah ada perempuan lain dari masa lalumu, aku
tidak peduli akan hal itu. Aku
mungkin tidak bisa menjadi yang pertama bagimu seperti
keberadaan Millané di
memorimu. Tapi aku berjanji bahwa aku bisa membahagiakanmu
lebih dari Milliané.
Sora, kuharap kau mengetahui
perasaanku ini. Aku janji, aku akan membuatmu senantiasa
berbahagia bersamaku.
Aku menyukaimu, Sora.
.
.
.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar