Senin, 07 Desember 2015

Horror Time - Act 7 : ~Video Call~

By : Ichinisasha - 2015

"Huaa, apa-apaan sih ini! Banyak sekali iklannya!"

Kugerakkan mouse di tangan kananku untuk menutup window berisi iklan-iklan di internet yang tidak jelas asal usulnya.

"Iklan obat pelangsing, suplemen kesehatan, dan pembesar--ah lupakan saja"

Aku masih menutup window-window yang membuka otomatis karena dialihkan oleh website yang  kubaca. Lagian, apa-apaan sih iklan ini?! Mengganggu sekali!

Setelah menutup semua window iklan, aku melanjutkan tugasku. Aku sedang browsing tentang penelitian ilmiah. Guruku memberikan tugas itu seminggu yang lalu. Dan aku lupa kalau tugas itu harus dikumpulkan 2 hari lagi. Duh, mana aku belum mengerjakan sama sekali, lagi!

CLIK!

Window iklan tiba-tiba terbuka lagi. Tapi bukan seperti sebelumnya, window ini hanya menampilkan warna hitam gelap. Kali ini apa lagi?! Aku hanya ingin menyelesaikan tugasku! Aku tak butuh iklan-iklan itu! Lagipula, sekarang sudah malam, aku ingin segera tidur.

Saat hendak menekan close, warna hitam di window lama-lama berubah menjadi layar video call.

"Eh?"

Aku mengeklik tombol close di pojok kanan atas. Tapi window itu tak mau menutup.

"Kenapa ini? Kenapaaa?" 

Ku-klik tombol close berulang-ulang tapi hasilnya nihil. Sepertinya laptopku tidak merespon perintahku.

"Hoi..."

Dari mana suara itu?! Oh tidak, ternyata video call itu bekerja! Ada orang yang sedang mencoba menghubungiku via video call. 

"Kamu di situ kan? Kalau kau dengar, jawab aku dong"

Aku ragu-ragu apakah aku harus merespon perkataannya atau kudiamkan saja. Aku tidak berani melihat ke arah laptopku.

"Si-siapa kamu?"

"Yagura Tatsuya, 42 tahun"

Kuberanikan diriku untuk menanyainya lebih jauh lagi.

"M-mau apa kau?"

"Maaf, maaf! Sepertinya koneksinya error dan aku salah sambung..."

Aku masih tidak yakin dan tak percaya dengan omongannya.

"Yang benar?"

"Iya, tentu saja benar. Buat apa aku bohong. Tadinya aku ingin menelepon anakku"

Aku mendekat ke arah laptop dan memperlihatkan wajahku. Kini, aku bisa melihat seorang Yagura Tatsuya. Ia adalah seorang bapak-bapak yang mempunyai banyak kerutan di wajah, namun ia terlihat baik. Aku hanya bisa melihat wajahnya, soalnya gelap sekali disana. Hampir hitam kelam.

"Anakmu?"

"Iya, anakku kabur dari rumah dan tidak pernah mau menemuiku lagi.. Entah kenapa ia amat membenciku.."

Aku tidak mengerti situasinya. Tapi aku bisa membayangkan bagaimana kerinduan seorang orangtua terhadap anaknya.

"Tenang saja... Anakmu itu pasti akan memaafkanmu. Asal kau menyampaikannya baik-baik.."

Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Soalnya, aku juga pernah bertengkar dengan ayahku. Jadi aku mengerti apa yang harus dilakukan oleh seorang ayah sepertinya agar mendapatkan kasih sayang anaknya kembali.

"Terimakasih atas sarannya.."

"Memangnya apa kesalahan yang kau lakukan sehingga anakmu begitu membencimu?"

Ia tidak merespon untuk beberapa detik. Ia memutar bola matanya dan memperlihatkan senyumnya 

"Kau ingin tahu?"

Aku merasa jawaban yang diberikannya agak aneh. Tapi aku juga ingin tahu.

"Tentu saja. Cepat beritahu aku"

Pria di monitor itu kembali tersenyum, akan tetapi, kali ini senyumnya berubah menjadi agak mengerikan.

"Benar-benar ingin tahu?"

Aku menelan ludah. Rasanya aku mulai berkeringat dingin. Seram juga si bapak-bapak ini... Kurasa, aku harus menyudahi percakapan dengan orang yang tidak kukenal untuk mencegah hal buruk yang mungkin terjadi. 

"Ngg.. tidak jadi deh.. Sudah ya, aku harus mengerjakan tugasku"

Kini, ia memandangku dengan tatapan yang membuatku ngeri.

"Tadi katanya kau ingin tahu?"

Rasanya jantungku berhenti berdetak. Kenapa? Kenapa orang ini begitu memaksa? Padahal kelihatannya, dia orang yang baik.

"Tolong hentikan itu. Aku ingin mengerjakan tugasku"

"Kalau kau ingin tahu, akan kutunjukkan.."

"Tunjukkan apa?"

Yagura Tatsuya menjauh dari webcam. Sepertinya ia mengambil sesuatu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena di sana terlalu gelap.

"Hei?"

DUG! DUG! DUG!

Dari mana suara itu berasal?! Bunyinya seperti sesuatu yang sedang menggedor-gedor dari dalam lemariku. Seketika, ketakutanku memuncak.

Sesosok pria keluar dari sana sambil membawa sekop. Ia memandangku dengan tatapan yang seakan membunuh. Satu hal lagi... pria itu adalah Yagura Tatsuya! Ia berjalan ke arahku sambil tertawa-tawa.

"Akan kutunjukan... apa yang kulakukan pada anakku sehingga ia membenciku.."

"HIIIII!!!!!"

Aku bergerak mundur untuk menjauhinya. Oh tidak, aku sudah tidak bisa mundur lagi. Ada tembok yang menghadangku di belakang.

"K-kenapaaa... k-kenapaa kau melakukan i-iniiii...."

Suaraku bergetar. Rasanya aku kehilangan nafasku. Aku terlalu takut sampai rasanya susah untuk bernafas.

"Tadi kau ingin tahu kan? Makanya akan kutunjukkan"

CLANK! CLANK! CLANK!

Ia mengetuk-ngetukkan sekopnya ke lantai. Lalu ia berjalan mendekatiku lagi. Aku meringkuk di pojok ruangan, berharap ia akan berhenti.

"Aku.. merasakan kesenangan ketika aku melakukan hal-hal seperti ini. Tapi, anakku tidak mendukungku dan malah menjauhiku.."

"T-tentu saja tidak akan ada yang mendukungmu! Kau ini gila!"

Ia kembali memperlihatkan senyuman yang membuatku ngeri. Aku masih berada di pojok ruangan, tak bergerak sama sekali.

"Bisa melihat wajah orang-orang yang ketakutan seperti ini benar-benar mengasyikan bukan?"

"KAU SUDAH GILA! PANTAS SAJA ANAKMU MEMBENCIMU!"

Ia mendekatiku dan kini ia berada 5cm di depan wajahku. Ia memegang leherku dan bersiap untuk mencekikku.

"Kau akan memaafkanku apabila aku minta maaf baik-baik kan? Tadi kau bilang begitu.."

Ia mencekikku amat keras. Aku kesulitan untuk bernafas.

"Tidak--ghaaahh--k-kau--ghaahh-s-salaah-ghaahh!!"

Kurasakan cekikannya semakin menguat. Nafasku semakin pendek, semakin pendek. Aku tak bisa bernafas. Kucoba bernafas melalui mulut tapi tak ada hasilnya. Ia mencekikku begitu kuat.

"Tadi kau bilang ingin tahu? Ya, inilah yang dulu kulakukan pada anakku.. Tapi ia berhasil melarikan diri.."

Nafasku! Nafasku! Rasanya... rasanya aku sudah tidak kuat lagi! Aku akan mati! Pasti mati!

"Ah membosankan!"

Pria itu melepaskan cekikannya. Aku segera menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Jantungku berdetak keras. Keringat membasahi keningku.

"Lebih seru kalau begini!"

Ia mengambil sekopnya dan memukul-mukulkan sekopnya ke kepalaku.

CLANK! CLANK! CLANK!

Aku sudah terlalu lemas untuk berteriak, apalagi meminta tolong.

CLANK! CLANK! CLANK!

Kurasakan sesuatu keluar dari keningku. Ah, tanpa melihat pun, aku sudah tahu, pasti yang keluar adalah cairan merah.

CLANK! CLANK! CLANK!

Aku tak tahu harus bagaimana. Kurasa aku tak sanggup lagi hidup.

CLANK!!!!

Pukulan terakhir itu sangat kuat, sehingga membuatku kehilangan kesadaran. Kurasa aku akan segera bertemu Mama di surga.

"Hei.. Kalau tahu akan begini, kamu masih ingin tahu?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar